Rahael

Rahael
Bab 42. Begadang


__ADS_3

Bab 42. Begadang


Selama dua minggu, ada Ibu dan Bapak. Hari-hari Rahael tak terasa terasa berat, ada yang bergantian membantu menjaga dua Twin.


Sudah dua hari ini Twins sengaja mengajak begadang, sudah pukul sepuluh malam saat Twin baru tertidur. Galang yang melihat Rahael yang masih terjaga.


"Tidur Rahael, nanti kalau Twin bangun kamu enggak ngantuk," ucap Galang sembari merebahkan diri dan berusaha untuk terpejam.


Eits, belum lama Galang dan Rahael memejamkan mata, Rayhan sudah mulai minta *****, menangis dengan keras. Dengan mata yang berat Galang turun untuk memberikan susu. Beruntung masih ada persediaan asi yang di pompa, jadi Galang enggak repot dan Rahael juga bisa lebih sedikit santai.


Melihat Galang masih terjaga. Rahael yang baru saja bangun bergegas turun.


"Mas tidur dulu gih! Gantian sama Rahael. Nanti kalau Rahael sudah mengantuk, Mas Galang, Rahael bangunin," ucap Rahael.


Galang hanya mengangguk menghiyakan. Memang saat ini rasa kantuk sudah tak bisa di tahan dan minta di pejamkan.


Hingga tak lama tertidur badan Galang sudah bergetar, saat Rahael mengoyang tubuh Galang. "Mas! Bangun gantian yuk? Rahael sudah mengantuk."


Mendengar ucapan Rahael, Galang langsung terbangun masih dengan mata beratnya, Galang bergerak ke kiri ke kanan untuk melemaskan ototnya sembari menguap.


Tak berapa lama Galang sudah melihat Rahael sudah tertidur.


Setelah turun dari ranjang, Galang menuju books Twins, Galang yang melihat Twins masih tidur pulas, sesaat bibirnya tersenyum. Berjalan menuju meja di samping ranjang, Galang mengambil Ponselnya.


Memasang senyum jahilnya, sesaat Galang jadi teringat dengan tuyul tengik itu.


Kembali terbersit senyum di bibirnya, sembari mengulir ponselnya dan mencari nomor tuyul tengil, hingga tak berapa lama.


"Halo," terdengar jawaban di ujung sana dengan suara seraknya.


"Bangun .... "


Kemudian Galang langsung menutup ponselnya secara sepihak. Mendekat pada Twins dan mengambil fotonya.


Dengan tersenyum Galang mengirim foto ke tuyul tengil. Galang tinggal menunggu reaksi selanjutnya. Sesuai dugaannya. Seseorang yang di panggil Galang langsung merespon dan segera memberikan jawaban.


"Kenapa baru memberi kabar! Mas Galang jahat, sengaja mau nglupain Bapaknya."


"Enak saja, kau bicara. Makanya kamu tak bangunin yul, biar begadang nemeni aku," balas Galang dengan kapsein tertawa puas.


"Sudah! Mawan akan meluncur ke sana deh."


"Awas! Kalau kamu sampe kesini, yul."


"Ingat janjimu dan jangan macam-macam.


Hsh ... kau! saat ini aku juga berusaha untuk memenuhi janji."


Kemudian Galang mematikan ponselnya begitu saja. Tergambar jelas dari raut wajahnya jika Galang puas. Pukul dua dini hari bangunin si tuyul, masih dengan bibir tersungging. Saat tak berapa lama keduanya mulai menangis. Melihat Rahan popoknya basah dan Rayhan mungkin minta *****.

__ADS_1


Melihat situasi seperti ini. Galang merasa beruntung saja, karena Rahael bersama Galang, mungkin jika itu orang lain, Galang pasti tak bisa berkata-kata .


Pukul empat pagi, Galang menyusul Rahael ke tempat tidur, Twins juga sudah kembali terlelap.


"Mas ... bangun, sedari tadi hpnya bunyi terus."


"Jam berapa Rahael?" tanya Galang.


"Sudah jam sepuluh pagi, mandi Mas, itu hp mas juga bunyi terus, penging telinga Rahael."


"Mana twins Rahael?" tanya Galang sambil mengambil handuk.


"Tuh sama Bi Narmi, berjemur di stoler."


"Mas! Mas enggak ke bawah kasihan anak-anak. Sepertinya toko lagi ramai," ucap Rahael.


"Entar siangan sedikit," jawab Galang.


"Sudah mandi Mas," ucap Rahael sembari mendorong tubuh Galang ke kamar mandi.


Tak berapa lama Galang masuk kamar mandi.


"Mas! ponselnya berbunyi lagi cepetan angkat!"


Keluar dari kamar mandi, Galang melihat Rahael sedang memompa asi nya, sambil mengusap rambut basah Galang dengan handuk.


"Cup !"


Merasa terkejut dengan kecupan Galang.


"Ish ... Mas membuat Rahael terkejut," ucap Rahael.


"Sepertinya asi nya berlebih Rahael?" tanya Galang sembari menatap Rahael tanpa berkedip.


"Hiya! Mas, ini lagi di pompa juga," jawab Rahael sembari tangannya sibuk memompa.


"Mau di obati lagi enggak?" tanya Galang.


Mendengar ucapan Galang sejenak Rahael berhenti dan menatap Galang.


"Jangan modus lagi Mas."


"Tapi benerkan sembuh? yang Galang tanya hanya tersenyum.


"Enggak usah Mas, tapi aku pingin lagi Rahael," ucap Galang memohon.


"Ihh ! nifas Mas, nifas! Masih dua minggu lagi," jawab Rahael memberi isyarat.


Mendengar jawaban Rahael di luar angan-angan Galang, sesaat Galang terkejut.

__ADS_1


Menatap wajah Rahael, kembali Galang mengecup kening Rahael tanpa permisi.


"Cup! Kamu lucu Rahael."


Setelah beberes, di kamar Galang mendengar Twin menangis. Galang dan Rahael bergegas keluar sembari membawa dua botol asi yang baru di pompa Rahael.


"Eleh-eleh! Cakepnya anak Bapak dan Ibu," ucap kami bersamaan.


"Terima kasih Bi," ucap Galang saat melihat Bi Narmi hendak meninggalkan Twins.


"Bu, mau di masakin apa?" tanya Bi Narmi.


"Sayur sop saja Bi, seperti biasa," ucap Rahael.


Galang sedikit heran saat melihat Bi Narmi bergegas ke ruang tamu.


"Ada apa Bi? Kok lari-lari."


"Maaf, ponsel Bapak sedari tadi bunyi terus," ucap Bi Narmi sembari menyerahkan Ponsel Galang.


Setelah menerima ponsel Bi Narmi, Galang berjalan tergesa menekan tombol hijau.


"Pagi! Yul," jawab Galang.


"Sampai kriting Mas, coba lihat log panggilan."


Seketika senyum Galang tersungging timbul niat untuk mengerjai Mawan.


"Maaf, biasa ... lagi mesra-mesraan dan kenapa kau menganggu."


"Jangan ngomong begitu Mas!" ucap Mawan sedikit tercekat.


Seketika tawa Galang pecah.


"Hahahah ... "


"Ada perlu apa yul?" tanya Galang dengan senyum puas.


"Maaf! Tadi Mawan mengirim perlengkapan bayi untuk twins."


mungkin besok nyampenya.


"Ok ... "


"Terima kasih Mas, kenapa enggak bilang kalau twins?"


"Enggak usah macem-macem yul. Apa kamu enggak lihat foto kemarin itu, seneng dapat bonus langsung dua," ucap Galang.


"Sekali lagi terima kasih Mas," ucap Mawan sebelum benar Galang menutup telfonnya.

__ADS_1


__ADS_2