
BAB 22. TERNYATA YANG DI RINDUKAN YANG BAWA GUDEK NYA.
Masih subuh Galang sudah tiba karena berangkat dari kota S sore hari, mungkin ini hal ternekat yang pernah di lalui Galang .
Ibunya yang membukakan pintu hanya tersenyum, saat melihat Galang pulang dengan oleh-oleh yang begitu banyak.
Layak seorang ayah sesungguhnya, entalah hatinya merasa senang saja melakukan ini. Apalagi yang meminta sembari merajuk.
Sesampainya di dalam rumah Galang langsung meletakkan oleh-olehnya di meja, dan langsung menuju kamarnya untuk bersih-bersih. Kemudian Galang langsung
merebahkan diri untuk tidur lagi, karena Rahael pun masih tidur dan enggak mungkin Galang akan membangunkan Rahael.
Sudah pukul tujuh pagi, Rahael yang bangun langsung duduk di meja makan tentunya sudah bersih-bersih dulu.
"Loh ... Bu kok ada Gudek lagi? Mas Galang sudah sampai?" tanya Rahael sembari melihat Gudek di atas meja makan.
"Belum, Rahael," jawab Bi Jum sembari tersenyum menggoda. "Lah! terus. Gudeknya? "tanya Rahael lagi.
"Sama Mas Galang Gudeknya di kirim lewat paket Rahael," jawab Bu Jum menggoda.
"Tuh, masih anget buruan Rahael nanti ngeces loh dedeknya goda ibu mertua."
"Sudah enggak selera Bu, jawab Rahael
sambil berjalan lagi masuk ke kamar.
Mendengar jawaban seperti itu ibu
mertuanya hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum bahagia.
Galang yang mendegar percakapan antara ibunya dan Rahael segera bangun langsung turun ke bawah.
"Kok, belum di makan Bu?" tanya Galang .
"Rahael enggak mau Lang, tunggu pawangnya yang ngomong," jawab Ibu sembari melirik ke atas.
__ADS_1
"Sini ... Ibu menyeret Galang ke dapur."
"Ada apa?" tanya Galang. Bu Jum Sembari sedikit berjinjit membisikkan sesuatu di telinga anaknya sembari tersenyum.
"Ah. Ibu," jawab Galang sembari menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum, "sudah duduk sana ibu panggil Rahael dulu."
"Rahael, panggil Bu Jum sembari mengetuk pintu, hingga beberapa saat Bu Jum membuka pintu kamar dan melongok kan kepalanya.
Melihat menantunya menangis. "Kok nangis? Duh. cucu nenek ternyata cengeng," tutur Bu Jum sembari mengusap pipi Rahael.
"Ayo, turun Rahael, gudeknya sudah menanti loh!" ujar Bu Jum merayu.
"Enggak mau Bu," jawab Rahael merajuk.
"Ya ... sudah biar gudeknya di bawa balik saja sama Mas Galang ke kota S," jawab ibu mertuannya.
Rahael seketika mengikis air matanya dengan sedikit terkejut, "katanya Mas Galang enggak datang Bu!" jawab Rahael pelan.
"Terus, siapa yang duduk di meja makan coba lihat," tutur Bu Jum.
Dengan sedikit berlari keluar dari kamar, "pelan Rahael, jangan lari," suara Bi Jum memanggil.
Begitu di depan meja makan Rahael langdung duduk. "Nah, begini baru mantap," jawabnya begitu di depan Galang .
"Terima kasih ya Mas," ujar Rahael sembari mengambil piring dan meletakkan gudeg dan teman-temanya .
"Ayo Mas, temani Rahael makan. "Bu ayo temani Rahael makan pintanya."
"Ibu nanti saja bareng Bapak Rahael."
"Ayo mas," ajak Rahael sembari memasukkan beberapa lauk di atas nasi Galang .
Melihat hal tersebut Galang tersenyum penuh arti, hatinya tiba-tiba menghangat.
"Mas ... sebelum makan, boleh enggak Rahael makannya sambil lihat wajah Mas Galang?"
__ADS_1
Seketika yang di tanya langsung tertawa terkekeh.
"Boleh-boleh," jawab Galang sembari menyuapkan satu sendok nasi dan lauk ke mulutnya .
Tiba-tiba Rahael bertopang dagu sembari menatap Galang. Yang merasa di tatap langsung mendongakkan wajahnya.
"Nah ... gitu Mas, Rahael jadi puas memandangnya."
"Sst ... kau itu, enggak baik makan sambil begitu Rahael," ujar Galang malu.
"Lah ... Rahael juga enggak tahu Mas, kok jadi begini Rahael," ucap Rahael sambil tersenyum."
"Mungkin bawaan dedeknya Rahael!" jawab Galang dan seketika membuat Rahael diam, tak memjawab.
Setelah beberapa saat, "sudah puas Rahael, menatap Mas mu yang ganteng ini?" tanya Galang. "Tuh, nasi nya sudah habis, ternyata kamu ngidam sama yang bawa gudeknya," ujar Galang lagi. Mendengar ucapan Galang Rahael hanya menatap sembari tersenyum .
"Nanti Mas kasih foto nya yang paling guanteng, kalau mas sudah balik kuliah biar Rahael enggak kangen-kangen."
Rahael hanya tersenyum mendengar ledekan Galang, "Mas, Rahael sudah kenyang."
"Sudah puas juga lihat Mas Galang nya ,
sekarang Rahael ke kamar dulu, terima kasih Mas gudeknya sama yang itu tadi," ucap Rahael sambil berlalu."
Galang hanya tersenyum, setelah selesai
makan Galang membereskan alat makannya dan juga milik Rahael. Setelah semua beres Galang kembali ke kamar merebahkan diri di kasur sembari mengelus dadanya yang masih saja berdesir.
Masih teringat dengan percakapan nya dengan Rahael, entalah membuat hati Galang kembali bergetar hebat, gadis yang berusaha tegar dengan keadaanya kini berusaha berdamai dan berlaku senyaman mungkin dengan keadaan .
Gadis yang berusaha tegar dan manja di hadapan Galang, entah itu bawaan bayi atau memang dia berusaha untuk menghargai Galang, tetapi tetap saja Galang tergetar dan jantung Galang seperti marathon bila dekat dengan Rahael. Galang yang tadi sibuk menggoda Rahael jadi lupa dengan tujuan Gakang sebelum turun ke bawah. Galang kembali keluar dari kamar setelah mengganti bajunya. "Rahael," panggil Galang sembari mengetuk pintu kamar Rahael.
Rahael yang sedari tadi hanya duduk menatap ke luar jendela segera beringsut dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, "mandi gih! buruan ayo ikut Mas jalan -jalan," ajak Galang pada Rahael.
"Serius," ujar Rahael. Galang hanya mengangguk memastikan. "Mas tunggu di bawah ya?" Rahael hanya mengangguk tanda setuju.
__ADS_1