Rahael

Rahael
Bab 96. Penjelasan


__ADS_3

Entalah, harus mulai dari mana nantinya.


Apa mereka percaya atau bahkan membenci


berbagai pertanyaan sudah berkecamuk di hati Rahael tak terasa air matanya mulai turun, Aal yang melihat langsung memeluk erat, "jangan menangis Bu, kasihan kakak," ujar Aal memberi semangat, Rahael segera mengikis air matanya.


Melihat Rahan dan Rayhan hanya terdiam, membuat Rahael sedikit tercubit. Melarang Twin Ra, memegang ponsel.


Setelah turun di terminal tujuan akhir kami, Rahael bergegas mencari mobil grab untuk membawa kami ke kota yang dingin di kota kami, perjalanan cukup melelahkan ketika kami sampai di tempat tujuan Rahael melihat para Eyang sudah tiba dan juga orang tua Mawan tak berapa lama ada mobil datang ternyata Silvi ikut datang juga.


"Rahael!" teriak Silvi dan kami saling berangkulan.


"Eh, masih ingat aunty," ucap Silvi, saat melihat Twin Ra.


Rahan dan Rayhan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Silvi, "ayo. Kalian salim," seru Rahael.


Begitu memasuki villa para Eyang tersenyum,


"kami juga ingin menyepi dan menenangkan pikiran," ucap Eyang hampir bersamaan.


Setelah beberapa lama, "sebaiknya kau telfon Galang dan menyelesaikan semuannya di sini ," tutur Bapak dan Ibu.


Rahael masih terdiam, "sebetulnya kami kesini ingin menenangkan hati dulu Bu, kasihan anak-anak," ujar Rahael pelan.


"Sebaiknya cepat di selesaikan Rahael, mumpung semuanya lengkap," ucap Ibu Rahayu. "Maaf atas ke egoisan hati Rahael waktu itu dan tak memikirkan akhirnya," ujar Rahael lagi.


"Tapi Bu!" Ujar Rahael enggan. "Rahael lihat mereka," ujar Ibu, "Rahan dan Rayhan, tega kau pada mereka? Apapun nanti hasilnya, harus kita terima dengan ikhlas," ucap Ibu lagi.


Benar kata ibu meski keluarga sudah berkumpul tapi tak nampak kebahagiaan, setelah mengirim pesan dan alamat Villa, Rahael, memanggil dua Twin Ra dan merangkulnya dengan erat, tak ada kata-kata hanya rasa sesak di dada Rahael, sembari menatap wajah Twin Ra yang memang mirip Mawan.


Twin Ra hanya tersenyum, Rahael kembali memeluk Twin Ra, sembari Rahael berbisik, "apa. Kalian sudah siap mendengar kebenarannya? tetapi tunggu hingga Bapak datang," ucap Rahael.


Mendengar itu mereka mengangguk dan merangkul dengan erat tak terasa air mataku menetes, "maafkan Ibu Nak, atas keegoisan ibumu waktu itu. Maafkan!" kini tangis Rahael tak bisa di bendung lagi, Aal dan Al juga ikut merangkul dan menangis sembari mendekap Rahael.


Para eyang yang di ruang tengah hanya menghela napas panjang, Silvi yang duduk dengan suaminya hanya duduk tertuduk.


Sudah menjelang sore Mas Galang datang


kami semua terkejut saat melihat sosok perempuan turut masuk, begitu masuk perempuan itu duduk berdampingan dengan Mas Galang, Rahael yang melihat itu, merasa kan sakit di hatinya.


Bapak mertua yang dari tadi sudah melotot kini dua ibuku juga menampilkan wajah tak sukanya sedang Silvi memilih masuk dengan suaminya dan orang tua Mawan.


Bapak mulai berbicara dengan sedikit amarah

__ADS_1


"Pergilah!" Di sini bukan ranahmu untuk ikut duduk di sini," ucap Bapak.


Bukannya pergi gadis itu malah berdiri dan memperkenalkan diri.


"Kenalkan namaku Nisa dan aku adalah mantanya mas Galang waktu kuliah dulu."


Seketika badan Rahael gemetar, "kenapa jadi begini?" tanya Rshael lirih. melihat itu Aal dan Al langsung mendekat sementara Rahan dan Rayhan langsung berdiri di belakang Rahael.


Ibu juga langsung berdiri, "maksud kamu?"


"Ya. Sebelum anak anda menikah dengan Galang, aku adalah pacarnya."


"Nisa! Hentikan sudah cukup, tunggulah di mobil !" ucap Galang marah.


"Enggak Galang! Nisa sudah menunggu saat ini cukup lama. Nisa, sakit Galang dan yang pasti Nisa masih belum bisa menerima begitu saja saat Galang memutuskan Nisa begitu saja!"


Semua yang ada di ruangan seketika terkejut mendengat ucapan Nisa, khususnya Rahael.


"Nisa. Galang hanya menganggap Nisa sebagai teman, bukan rasa cinta tapi teman Nisa, ingat itu!"


"Oh. Jadi demi anak Mawan! Kau berpaling dariku Lang!" Mendengar ucapan Nisa, Galang segera menarik Nisa keluar dan mengunci pintu.


Merasa nama anaknya disebut orang tua Mawan kembali masuk keruangan dan Sillvi pun ikut duduk lagi dengan suaminya


Seketika Rahael merangkul mereka, mengikis air mata Twin Ra, ruangan seketika menjadi hening tangis Twin Ra, sungguh membuat hati Rahael tercubit, hati Rahael kembali terluka akan masa lalunya dengan berderai air mata Rahael berusaha menenangkan hati Twin Ra, "tenangkan hatimu Nak, Ibu akan menjelaskan pada kalian siap Mawan!" bisik Rahael dengan suara tercekat.


Rahael kini menoleh ke arah Galang, saat melihat suaminya kembali duduk dengan wajah tegang, begitu juga dengan para Eyang dan Silvi.


Rahael mengambil napas dalam-dalam berusaha mengatur hati dan amarahnya.


"Rahan dan Rayhan duduklah dulu dengan Eyang Panji dan Eyang Widia," ucap Rahael.


Setelah melihat Rahael duduk, Ibu langsung mendekat, "maafkan Rahael, maafkan karena Rahael yang egois ini," cicit Rahael yang masih menanangis.


Melihst kondisi Rahael yang demikian Bu Widia langsung mendekat memeluk Rahael, "Ibu sudah ikhlas, ceritakam saja semuanya, agar Mawan juga bisa tersenyum tenang di sana, Ibu ikhlas," tutur Bu Widia sembati berbisik, air mata yang sedari tadi turun akhirnya kini menjadi tangis. Rahael menangis dalam pelukan Bu Widia untuk beberapa saat.


"Jelaskan kepada mereka Rahael," tutur Bu Widia sembari melepas pelukannya.


Rahael, melihat Mas Galang terdiam, Ibu dan mertuaku juga menangis, semua menunduk dengan kesedihannya masing-masin dengan menarik napas panjang dan sedikit terisak akhirnya, "Nak, sebenarnya Bapak Galang bukanlah Bapak kandung Twin Ra, Ayah kalian adalah Mawan." Rahael menjeda ucapannya sejenak, melihat ke arah suaminya, Galang yang sedari tadi melihat ke arah Rahael langsung menganggukkan kepalannya tanda setuju.


Rahael menceritakan semuanya tanpa ada yang Rahael tutup-tutupi sedikit pun, sesaat Rahael berhenti ketika mendengar gedoran di pintu.


"Rahan. Rayhan, maafkan ibu! Eyang Panji dan Eyang Widia adalah Eyang kalian dari pihak ayah Mawan, sekali lagi maafkan ibumu dan para eyang ini karena keegoisan kami."

__ADS_1


Twin Ra, mendengar cerita dari Ibunya hanya bisa menangis tergugu dalam pelukan Eyang Panji dan Eyang Widia. Hingga akhirnya Twin Ra berhambur memeluk Rahael dengan tangisnya.


"Terima kasih," ucap mereka bersamaan dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih sudah menerima dan memberiku keluarga yang sempurna ini," tutur Twin Ra sembari mencium kedua pipi kami.


"Pak!" panggilnTwin dengan tangisnya yang makin menjadi, "maafkan Rahan dan Rayhan Pak, maafkan kami hanya itu yang selalu di ucapkan Twin Ra tanpa henti."


Mas Galang ikut menangis dalam dekapan mereka, "sudah-sudah! Kalian membuat Bapak menangis sembari mencium kening mereka.


"Pak. Bu dan para Eyang dan untuk ounty juga terima kasih dan maaafkan kami."


Tak berapa lama Rahael melihat Silvi berdiri. "Om dan Tante, maafkan Silvi akhirnya map ini bisa saya serahkan juga, ini amanat dari almarhum Mas Mawan.


"Ra! Kau ingat map yang Bapak berikan dulu?


tanya Pak Panji, "itupun amanat dari ayahnya Twin Ra.


"Ada di rumah Pak," jawab Rahael sembari mengikis air matanya.


"Nanti kalau sudah di rumah akan saya berikan," ucap Rahael kini sedikit tenang.


"Akhirnya aku lega Rahael , semoga Mawan


disana bahagia," ucap Pak Panji sembari memegang tangan Isterinya.


"Ayo sini rangkul Eyang, Eyang juga mau di rangkul cucu Eyang."


"Lang kalau begitu boleh kan Twin Ra menginap di rumah?" tanya Eyang Panji dan itu membuat Mas Galang yang di panggil kini terkejut.


"Boleh, enggak Lang?"


"Boleh-boleh!" ucap Mas Galang pada akhirnya.


Mendengar jawaban Mas Galang, Pak Panji langsung memeluk Bu Widia.


"Rahan dan Rayhan bilang terima kasih pada Eyang Panji dan jangan lupa kunjungi makam ayah kalian," ucap Eyang Rahayu.


Di sudut ruangan Rahael melihat Twin Al, tiba-tiba menangis lagi, "Bu, jika Mas Rahan dan Rayhan ke rumah Eyang Panji, pokoknya kami ikut titik."


Mendengar itu Eyang Panji langsung melepas pelukannya, "wah, bakalan rame rumah,


boleh-boleh," ucap Eyang Panji sembari tersenyum.

__ADS_1


Tak berapa lama terdengar gedoran pintu dan ini semakin keras.


__ADS_2