Rahael

Rahael
Bab 13. penyesalan Bu Rahayu


__ADS_3

BAB 13. Penyesalan Bu Rahayu


Berkali-kali Bu Rahayu menghela napas seakan ada beribu beton yang menghimpit dadanya.


"Maafkan Ibu Nak, karena kesibukan Ibu di saat seperti ini ibu tak di samping Rahael," ujar Bu Rahayu lirih.


Bu Rahayu Flashback on


Bu Rahayu seorang single parent, kini bekerja


sebagai pengajar di universitas kota M yang cukup terkenal, karena jenjang karir yang bagus Bu Rahayu mendapatkan bea siswa dari universitas yang di embannya.


Saat ini Bu Rahayu sedang menyelesaikan kuliah S3 nya, pada awalnya Bu Rahayu menolak, tapi karena semangat dari Rahael yang membuat Bu Rahayu akhirnya menerima.


Dua pilihan melanjutkan di luar negeri atau tetap di indonesia tapi harus di lain kota.


Saat itu Rahael masih baru masuk kelas 1 SMA, Rahael menyetujui walau Rahael harus terpisah selama ibunya menuntut gelar S3 nya. Akhirnya Bu Rahayu memilih kota B yang di kenal sebagai kota hujan. Hari-hari yang di lewati hanya dengan jaringan telefon, terkadang dua minggu sekali atau bahkan seperti saat ini sebulan penuh Bu Rahayu baru bisa pulang.


Memang selama ini, Bu Rahayu percaya sepenuhnya dengan Bi Jum dan Mang Udin.


Toh selama ini aman-aman saja, kini yang menjadi penyesalannya dan membuat hatinya terluka, saat Rahael anaknya semata wayang mendapat musibah, Bu Rahayu tak bisa menemaninya. Saat hati anaknya terluka, tersiksa dan merintih meminta pertolongannya. Kenapa saat itu, aku tak ada di samping Rahael, kesedihan yang terdalam yang kini yang di rasakan.


Ini adalah tahun ke tiga di mana Bu Rahayu berusaha mengejar studinya hingga tak perlu waktu sampai empat tahun untuk menyelesaikan S3 nya.


Flashback off


Seperti janjinya pada Rahael pagi ini Bu Rahayu mengajak Rahael ke Dokter, setelah menempuh perjalanan hampir sepuluh menit Bu Rahayu tiba di sebuah klinik.


"Pagi Bu, sapa suster perawat.


"Pagi suster, Dokter Sumi ada?"

__ADS_1


"Silakan Bu dengan Bu Rahayu?" tanya Suster perawat. Bu Rahayu tak menjawab pertanyaan sang suster Bu Rahayu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Silahkan masuk Bu, mari, saya antar Bu," ucap sang Suster sembari tersenyum.


Tepat berada di pintu ruang praktek, Suster mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar jawaban dari dalam ruangan.


"Masuk Sus," jawab suara dari dalam. Mendengar itu sang suster langsung membuka pintu, "silahkan Bu," ucap Suster sambil menutup pintu kembali.


Begitu masuk dan belum sempat duduk, "eh ... Rahayu ayo silakan. Tumben kamu kemari. Siapa, yang hamil?" tanya sang Dokter.


Mendengar ucapan sang Dokter, Bu Rahayu langsung melotot marah.


"Sumi. Sudah! Enggak usah lebai, seperti ceritaku semalam dan jangan tanya macam-macam, kau sudah tahu ceritanya, kasihan anakku nanti malu," omel Bu Rahayu tanpa rem.


Mendengar imelan Rahayu Dokter Sumi hanya tersenyum, "maaf Rahayu, kamu datang-datang sudah mengintimidasi saja," jawab Dokter Sumi sambil menatap ke arah Rahael yang duduk dengan menunduk dalam memandang lantai.


"Sudah! Sumi. Cepat periksa anakku Rahael," seru Bu Rahayu. Rahael yang sedari tadi diam dan menunduk terkejut saat namanya di panggil.


Mendengar ucapan sang Ibu, Rahael langsung melangkah mendekat dan meraih tangan Dokter Sumi dan menciumnya.


"Eleh-eleh cantiknya, kenalkan saya Dokter Sumi teman ibu Rahael."


"Sini sambil menepuk kasur, tanpa kata Rahael langsung naik dan merebahkan dirinya.


"Tenang, ini sedikit dingin," ujar Dokter Sumi sembari mengoleskan gel ke perut Rahael.


Sambil menggerakkan alat di perut Rahael dan sembari sesekali membetulkan kaca mata yang sedikit melorot.


Sesaat kemudian Dokter Sumi tersenyum


"Semuanya baik, janin kuat dan mungkin ini kejutan untukmu Rahayu dan juga buat gadis cantik ini, bagaimana siap?"

__ADS_1


"Sudah jangan berbelit Sumi," ucap Rahayu.


"Hhhhh ... tawa Dokter Sumi mengejutkan Rahael dan Rahayu.


"Rahayu-Rahayu kau itu masih sama saja,


sini mendekatlah, kau akan lihat calon cucumu, lihat bintik dua ini. Mereka sehat," jelas Dokter Sumi. "Hm ... selamat Rahayu, kamu langsung di kasih cucu dobel.


Seketika Bu Rahayu dan Rahael saling memandang tersirat raut sedih dan bahagia bercampur jadi satu, ini merupakan kabar sedih atau senang tak ada yang tahu, Bu Rahayu dan Rahael hanya diam untuk beberapa saat.


Hingga suara Dokter Sumi mengejutkan mereka, "hei, kok melamun, sudah melamunnya! Selamat ya, jadi iri aku. Ayo cantik, sudah selesai periksanya," ucap Dokter Sumi sambil membersihkan gel di perut Rahael. "Sekali lagi selamat ya!"


Tak ada kata yang keluar sedikit pun dari mulut Rahael, kini hanya air matanya yang turun. Melihat keadaan seperti itu Bu Rahayu langsung merengkuh Rahael.


"Kok, nangis sayang ?"


"Rahael enggak mau anak ini Bu! Rahael enggak mau! Rahael masih pingin kuliah Bu," ucap Rahael dengan isaknya makin keras.


Dokter Sumi menatap dengan diam dan Bu Rahayu berusaha menenangkan Rahael yang masih menangis.


"Sudah-sudah nanti kita pikirkan jalan keluarnya, ya!" bujuk Bu Rahayu pelan.


Setelah lelah menangis dan lebih tenang "Bagaimana pulang ya?" tanya Bu Rahayu. Rahael hanya mengangguk sebagai jawaban.


Menyaksikan situasi seperti ini Dokter Sumi merasa trenyuh, "Rahayu jaga kestabilan emosinya, usiannya masih enam minggu, meskipun janinnya sehat tapi keadaan seperti ini bisa membahayakan janinnya Rahayu," jelas Dokter Sumi.


Kemudian Dokter Sumi menulis sesuatu di secarik kertas, "ini resep nya Rahayu, jangan lupa di minum obatnya."


Rahayu hanya mengangguk tanda mengerti,


"Terima kasih ya, Sum," ucap Bu Rahayu sembari menjabat tangan Dokter Sumi.

__ADS_1


Dokter Sumi memeluk Rahayu sesaat, "yang sabar Rahayu, awasi Rahael, Rahael butuh perhatian ekstra saat ini," ucap Dokter Sumi sembari berbisik


__ADS_2