
BAB 24. KEGALAUAN GALANG
Sebenarnya Galang berat hati meninggalkan Rahael, karena tugas kampus yang harus di selesaikan mengharuskan Galang harus kembali.
Saat ini Galang berada di semester akhir,
Galang berusaha menyelesaikan kuliahnya dengan cepat agar bisa menemani istri kecilnya saat lahiran nanti. Pengajuan skripsi pun telah di setujui berarti beberapa bulan ke depan Gakang pasti akan sibuk.
Entalah sejak sore hari pikiran Galang sangat kalut belum lagi mengingat Rahael yang ketakutan saat di Mall waktu itu. Walaupun setiap hari bertukar kabar tapi hati Galang masih risau, merasa seperti ada sesuatu yang sedang mengintai Rahael.
Hari ini Galang benar-benar gelisah, menunggu kabar dari Rahael.
Kebiasaan yangb setiap sore Rahael lakukan, selalu bertukar kabar dengan Galang, tetapi hati ini sudah hampir malam Rahael belum juga menelfon, begitu pula saat Galang menelfon, ponsel Rahael pun tak terhubung.
Pukul sepuluh malam hp nya berdering
dengan mata yang masih mengantuk di sentuhnya layar hijau.
"Assalammualaikum wr.wb," jawab Galang.
"Galangang! Ibu minta jangan terkejut, Rahael
pendarahan Galang, kata Dokter Sumi. Rahael harus rawat inap. Jika Galang sibuk, enggak usah pulang enggak apa-apa. Ada Bapak sama Ibu di sini dan mungkin Bu Rahayu besok baru datang," jelas Ibu panjsng lebar.
" Baik Bu, Galang usahakan pulang besok."
"Ya, sudah! Rahael masih tidur, besok pagi ibu kabari lagi. Ibu tutup telfonnya," ujar Ibu dan lansung terputus.
"Waalaikum salam wr. wb."
Perasaan Galang seketika bercampur aduk tak karuan. Seketika Galang melirik jam, "masih pukul sebelas malam, jika Galang pulang sekarang, esok pagi pasti sudah sampai," guman Galang sendiri.
Galang segera berkemas membawa barang seadanya, "kini pikiran Galang tertuju hanya pada Rahael, membayangkan tubuhnya yang mungil dan wajah ketakutan membuat Galang meringis.
Hampir delapan jam perjalanan membuat tubuh Galang lelah, jam sembilan pagi Galang sudah tiba di rumah. Langkah Galang terhenti saat tiba di pintu gerbang, sekilas Galang menoleh terlihat di seberang jalan ada mobil yang terparkir sebelum Galang datang. Entah, kenapa pikiran Galangb menjadi tidak enak. Namun tetap saja Galang melangkahkan masuk ke rumah dengan kunci cadangan yang Galang bawa.
Galang segera mandi dan berganti baju, Galang langsung memesan taksi. Sembari menunggu taksi datang Galang berjalan keluar gerbang, pandangan Galang masih tertuju pada mobil yang terpakir di seberang jalan. "Mungkin mobil tetangga," pikir Galang sembari masuk dalam taksi yang barusan tiba.
__ADS_1
Langkah Galang terhenti saat Bapak memanggil. "Galang ... "panggil Bapak.
"Bagaimana keadaan Rahael Pak?" tanya Rahael.
"Entalah, Bapak enggak tega melihatnya," ujar Bapak lirih.
"Memang ada apa Pak?" tanya Galang lagi.
"Sudah. Ayo, kita kesana," ujar Bapak sembari terus berjalan.
"Assalammualaikum,wr,wb. begitu memasuki ruangan Rahael .
Ibu yang melihat kedatangan Galang langsung tersenyum, Galang meraih tangan ibunya untukndi cium.
"Masih tidur Bu?" tanya Galang dan Ibu hanya mengangguk menghiyakan.
"Ibu sama Bapak, pulang saja biar Galang yang jaga Bu," pinta Galang lirih.
"Yakin. Galang yang menunggu." Galang segera mengangguk setuju.
"Tolong Pak andaikan ada orang bertanya tentang Rahael, bilang saja Rahael enggak ada di kota ini," pinta Galang lirih.
Sejak kepulangan orang tuanya, ini untuk pertama kalinya Galang berada satu ruangan dengan Rahael gadis yang di nikahinya tiga bulan lalu.
Hatinya trenyuh melihat Rahael tertidur pulas, Galang memindai wajah istri kecinya, Gakang tersenyum saat hati Galang berdesir.
Medekatkan kursi yang Galang duduki, di raihnya tangan Rahael dan mengenggam penuh perasaan. Galang kembali tersenyum ternyata perasaanya tak pernah salah, Galang ikhlas saat menjalani ini semua.
Sudah mendekati dhuhur Rahael menggeliat,
Galang yang ketiduran sembari mengenggam tangan Rahael terkejut, saat ada yang mengusap pipinya sembari tersenyum.
"Maaf," ucap Galang sembari melepas tangannya. Rahael hanya tersenyum saat Galang terlihat kikuk.
"Kapan datangnya Mas?" tanya Rahael sembari tersenyum.
"Tadi pagi Rahael," jawab Galang pelan.
__ADS_1
"Mas. Maaf," ucap Rahael sembari menatap ragu. Galang hanya tersenyum saat Rahael menatap, netra Galang.
"Kenapa?" tanya Galang sembari mengusap tangan Rahael.
"Rahael takut Mas! Takut bila dia tiba-tiba datang menemui Rahael, Mas," tutur Rahael lirih.
Galang menatap netra Rahael lekat seakan mencari sebuah kejujuran, sejenak Galang menghela napasnya. 'Jelas ada ketakutan di sana, ada sesuatu yang mengusiknya lagi dan mungkin ini tentang kejadian tiga bulan yang lalu pikir Galang.'
"Sudah! Rahael harus ingat pesan Dokrer Sumi. Rahael, harus kasihan dengan dedeknya," ujar Galang sambil mengelus pipi Rahael. "Rahael harus tenang!" ujar Gilang lagi.
Sore hari menjelang magrib, setelah Galang membantu Rahael dari ke kamar mandi, Bu Rahayu datang dengan tergopoh Bu Rahayu memburu ke Bad Rahael.
"Rahael. Maafkan Ibu, Nak. Ibu baru bisa datang," ucap Bu Rahayu sembari mengecup pipi anaknya. Kemudian Bu Rahayu menatap ke arah Galang. Galang terima kasih," tutur Bu Rahayu sembari tersenyum.
"Galang pulang dulu istirahat, biar Ibu yang jaga gantian," ujar Bu Rahayu sembari duduk.
"Enggak apa-apa Bu! Galang di sini saja," ujar Galang pelan. Rahael seketika tersenyum saat mendengar jawaban Galang. "Bu. Biar Mas Galang di sini," pinta Rahael.
Menjelang malam Dokter Sumi melakukan kontrol terakhir, selesai melakukan tugasnya Dokter sumi memanggil Galang dan Bu Rahayu, keruangannya. "Rahael," panggil Galang setengah berbisik, "Mas tinggal sebentar!" pamit Galang. Rahael hanya mengangguk sembari menguap.
Dokter Sumi menjelaskan secara rinci tentang kejadian yang Rahael alami, "jika keadaan ini terulang untuk kedua kalinya aku menjadi khawatir Rahayu," terang Dokter Sumi, "walaupun bayinya sehat tetapi kalau ibunya terus merasa ketakutan dan tertekan
itu bisa berdampak tidak baik Rahayu. Carilah solusi agar kejadian ini tidak terulang lagi, aku tahu mungkin ini tak mudah untuk anakmu tetapi aku berharap berikan yang terbaik, jangan sampai kejadian yang membuatnya takut di ingatnya lagi," ujar Dokter Sumi tegas.
Mendengar semua pejelasan Dokter Sumi, seketika, Bu Rahayu menatap.
"Akan aku usahakan Sum," ujar Ibu.
Ini hari terakhir Rahael di rawat saat kami bersiap-siap, Bapak datang. Rahael tersenyum melihat Bapak datang, "cantiknya puji Bapak. Siap pulang?" tanya Bapak.
"Mana Ibu Pak?" tanya Rahael. "Di rumah masak makanan kesukaan Rahael.
"Sayur sop, goreng tempe, pepes ikan, sama sambal kecap," ujar Bapak. Mendengar menu kesukaan Rahael, Galang tersenyum, "banyak sekali menu kesukaan Rahael."
"Ayo cantiknya Mas Galang sudah siap pulang goda Galang."
"Jangan ngaco Mas, nanti keblabasan," jawab Rahael. Galang hanya tersenyum sembari mendekat. Galang membisikkan sesuatu di telinga Rahael, Mendengar bisikan Galang Rahael tersipu malu sembari mencubit lengan Galang. "Ayo pulang Mas, capek dan bosen di sini," jawab Rahael
__ADS_1