Rahael

Rahael
Bab 101. Kakek Sakit


__ADS_3

Bab 101. Kakek Sakit


Setelah makan di luar kami pun pulang


membeli beberapa bungkus lagi untuk


orang di rumah. Kini Rahan yang membawa mobil, sementara Galang duduk dengan Rahael.


"Twin Ra," panggil Galang, "kalian menginap di rumah Eyang Panji besok saja, kalian pulang dulu pamit sama Eyang yang di rumah, ingat habis pulang sekolah," ucap Galang lagi.


Mendengar ucapan Bapak, Twin Ra hanya mengiyakan saja. Kini Galang mengedarkan tatapannya pada dua gadis yang duduk di belakang. "Twin Aal, boleh ke rumah Eyang Panji jika malam minggu saja, tetapi ingat enggak boleh menginap! Apa kalian setuju dengan perjanjian ini," ujar Bapak.


"Ya. Siap," ucap Twin Aal serentak.


Ibu yang duduk di samping Bapak hanya tersenyum sembari mencubit pipi suaminya.


"Ternyata, Bapaknya Twin Ra dan Twin Aal begitu cerewet dan over protectif," ujar Rahael pelan. Mas Galang yang Rahael cubit pipinya hanya tersenyum sembari merangkul dengan erat. "Cup," tiba-tiba Galang mencium kening Rahael berusaha mencuri-curi kesempatan.


Twin Al yang berada di kursi belakang langsung mendelik, melihat ulah Bapaknya. "Ih!" Bapak enggak sopan, enggak tahu malu!" protes Twin Al, sementara Rahael langsung memukul bahu suaminya untuk menutupi malu.


Sedangkan Rahan dan Rayhan di depan langsung tertawa tergelak, "Rayhan, ternyata perang dinginya telah usai," ucap Rahan.


Bapak yang duduk di belakang, spontan langsung memanggil, "Twin Ra!" panggil Bapak keras.

__ADS_1


Tinggal satu belokan akhirnya kami sampai di rumah juga, begitu memasuki halaman rumah dan memasuki garasi Rahel melihat Bi Narmi, tengah sibuk mengerjakan sesuatu begitu kami turun Bi Narmi, sedikit terkejut.


"Ada apa Bi?" tanya Rahael.


"Aduh! Bapak sama Ibu, bikin Bibi terkejut,


ini lagi nanam siri di suruh eyang Rahayu."


"Oh. Ya, di mana para Eyang?" tanya Galang sembari melangkah masuk.


"Di dalam Pak. Eyang Kung, lagi enggak enak badan, sejak pulang dari Vila," jawab Bi Narmi.


Mendengar itu Galang langsung menyeret Rahael untuk ke rumah belakang.


Begitu sampai di rumah belakang Galang melihat Ibu sedang duduk di tepi ranjang dan Bapak berbaring, melihat kedatangan kami Ibu tersenyum.


"Kapan datang Nak ?"


"Baru saja Bu, bagaimana? Bapak sakit apa?" tanya Galang sembari mendekat.


"Sudah di bawa ke rumsh sakit Bu? Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya Galang memburu.


"Sudah," ujar Ibu sambil menatap Galang, dalam, lalu ibu berdiri dan mensrik Galang sedikit menjauh dari Bapak, "bagaimana?" tanya Ibu.

__ADS_1


Rahael yang melihat, langsung ikut tersenyum kemudian merangkul Ibu, "jewer saja anak Ibu yang nakal ini," ucap Rahael mengadu.


Tak berapa lama Galang melihat Bapak terbangun, saat melihat Galang, Bapak sedikit memalingkan wajahnya, "mana, Rahael, awas! Jika terjadi apa-apa dengan Rahael!" ancam Bapak marah.


Mendengar suara Bapak terbangun, Rahael dan ibu yang ada di dapur keluar.


"Ayo, sini-sini," panggil Bapak. Rahael langsung mencium tangan Bapak, "maafkan Galang Pak," ujar Galang pelan.


Bapak seketika duduk dari tidurnya, "sini Lang!" panggil Bapak sembari menyentil kening Galang.


"Anak, sudah empat, enggak becus! Msu, Bapak tempeleng kok enggak tega," ujar Bapak sembari membenarkan duduknya.


"Terus, bagaimana anak edan itu?"


Galang secara rinci menceritakan semua yang terjadi dan menujukkan undangan pernikahan Nisa. Bapak yang mendengarkan cerita Galang hanya mengangguk faham, "ya, sudah Bapak maafkan, tetapi jangan kau ulangi lagi!" tutur Bapak sembari menatap kami berdua.


"Bapak ke rumah sakit ya?" tanya Galang pelan. Bapak tak menjawab pertanyaan Galang malah bertanya yang lainnya.


Ku tanya begitu bapak gak menjawab malah bertanya yang lainnya, "mana cucu Eyang yang tampan dan cantik?" tanya Eyang Kung.


"Mereka di depan Pak!" jawab Galang pelan.


"Ya. Sudah, kembali kevdepan sana Rahael, lihat Ibu Rahayu," ucap Eyang Kung.

__ADS_1


"Bu. Pak, Galang ke depan dulu," ujar Galang sembari mencium tangan mereka satu persatu begitu juga dengan Rahael.


__ADS_2