
Bab 79. Cerita
Melihat Twin sudah terlelap Galang segera beringsut turun dan memgajsk Rahael berpindah kamar, begitu memasuki kamar, Galang langsung duduk di sisi ranjang sembari menatap Rahael, "sini!" panggil Galang sembari menepuk tempat kosong di sisinya. Rahael yang mendapat panggilan Galang melihat dengan ragu, "Sudah. Duduk saja! Mas enggak ingin apa-apa, Mas mau cerita saja," ujar Galang sembari menepuk sisinya lag.
Rahael kemudian datang mendekat dan duduk di sisi suaminya. "Mau cerita apa?" tanya Rahael. Sejenak Galang menghela napasnya, "Mas, mau cerita tentang Silvi, Mawan dan kedua orang tuanya.
Mendengar suaminya bicara Rahael langsung menatap terkejut, "maksud Mas, memangnya?" tanya Rahael penasaran.
"Parah! Mobilnya hancur, ringsek untung mereka masih selamat, meskipun luka parah, tengoklah Silvi sesekali. Kasihan, kakinya di gips dan banyak luka lecet, kembali Galang menjeda ucapannya kemudian menghela napasnya sekali lagi, "Mawan yang terparah ada beberapa selang yang masuk dalam tubuhnya, mekipun Silvi bilang Mawan telah melewati masa kritisnya," cerita Galang.
"Lalu?" tanya Rahael penasaran.
"Beruntung orang tua Mawan hanya mengalami luka-luka ringan karena duduk di belakang," ujar Galang.
Rahael yang mendengar cerita dariku hanya menghela napas beratnya, "Rahael, Silvi meminta untuk mengajak Twin saat menjenguk mereka nanti, bagaimana Rahael?" tanya Galang lirih.
Raharl kini hsnya menatap nanar ke depan, cukup lama Rahael dalam sikap seperti itu.
"Huff," suara Rahael berat, "sebenarnya Rahael keberatan Mas, ya. Nanti tunggu mereka pulih dulu, karena kita juga harus mengajak Twin juga, Mas ingat kan? Dulu waktu Ibu opname, Mas enggak mengijinkan lama-lama di rumah sakit, paling tidak biar mereka pulang dulu," jawab Rahael sembari naik ke ranjang.
Mendengar pendapat Rahael, Galang hanya mengangguk menghiyakan saja.
"Ayo, tidur Rahael. Badan Mas rasanya capek," ujar Galang sembari merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik tubuh Rahael agar lebih mendekat, agar terasa lebih hangat dan tenang.
__ADS_1
Tengah malam, Galang terbangun saat merasakan hawa yang dingin menyentuh tubuhnya, tabgan Galang secara reflek langsung meraba sesaat tempat di sisinya, seketika Galang membuka matanya dan mencari sosok Rahael. Senyum Galang tersungging begitu saha sat Rahael tengah shalat tahajud, hingga Rahael mengakhiri shalatnya dengan salam dan menatap sekilas ke arah Galang.
"Tahajud Mas. Ayo, bangun Rahael sudah selesai," ujar Rahael sembari melipat mukenanya. Tanpa di minta dua kali Galang langsung beringsut turun dan menuju kamar mandi. Hingga beberapa menit kemudian Mas Galang sudah menyelesaikan shalatnya.
Galang langsung menyusul Rahael yang sudah berbaring di ranjang. Galang dan Rahael tak melanjutkan tidurnya, mereka lebih membahas hal-hal kecil dan kafang menceritakan masa kecil kami sembari menunggu adzan subuh datang.
Suara adzan subuh berkjmandang dengan jelas, kami bergegas mengambil air wudhu dan shalat berjamaah, setelah melipat mukenanya Rahael hsnya tersenyum saja saat melihat suaminya sudah rebahan di atas ranjang. "Mas, mau tidur lagi?" tanya Rahael dan di balas anggukan oleh Galang. "Kalau begitu Rahael lihat Twin dulu Mas," tutur Rahael sembari berjalan menuju pintu.
Belum lagi langkah Rahael sampai pintu Mas Galang sudah menyusul, "Rahael. Cepat ganti baju, Mas akan mrmberitahu Ibu dulu dan biarkan Twin di rumah saja sama Bibi," ujar Galang sembari membuka pintu.
Rahael yang melihat sikap suaminya tak biasa saja langsung menahan langkah Galang, "Sabar. Mas, ada apa? Ayo, cepat ganti baju, kasihan Silvi," tutur Mas Galang ulang.
Meligat Mas Galang tergesa-gesa, "Mas! Tenang!" ucap Rahael sembari menahan langkah suaminya, "Tarik napas Mas," tutur Rahael sembari menegang lengan suaminya.
"Sekarang cerita, ada apa?" tanya Rahael.
Belum selesai bicara tiba-tiba ibu sudah berteriak, "Lang! Ayo ke rumah sakit sekarang darurat," ucap Ibu.
Kali, ini tanpa ba, bi, bu, Galang langsung menggeret Rahael, "Sebentar Mas, lihat baju Rahael."
Seperti sadar akan keadaan Mas Galang menatap sejenak dan sedikit tenang, "gantilah dulu Rahael, Mas tunggu di mobil."
Sedikit lega melihat Mas Galang tenang kembali.
__ADS_1
Setelah berganti pakaian Rahael menemui Bi Nina di dapur, berpesan sesuatu padanya dan kemudian berjalan keluar melihat
Ibu sudah menunggu di depan bersama Mas Galang. Begitu masuk dan menutup pintu, "Mas jangan ngebut," ucap Rahael sembari memukul lengan suaminya.
Mas Galang hanya mengangguk, tetapi jelas nampak gelisah.
Sembari menyetir ku genggam tanganya
entah apa yang membuatnya begitu khawatir
Ibu yang sedari tadi juga duduk terdiam sesekali ku lihat mulutnya komat kamit
perjalanan cukup lama hampir satu jam
terasa lambat karena sedikit macet .
Pikiranku mulai teringat akan kata kata mas Galang kasian silvi , memangnya.....
Tiba tiba dadaku berdegub kencang dan tangan ku sedikit berkeringat , kuambil air putih yang ada di depanku kemudian mengambil nafas panjang berulangkali .
Melihat kegiatanku ibu dan mas Galang secara bersamaan .
Untuk menutupinya aku tersenyum , ikutan tegang mas .
__ADS_1