
BAB 20. Nomor asing
Gakang hanya duduk di kamarnya hingga drama muntah Rahael selesai. Setelah shalat isya Galang berpamitan pada ke dua orang tuanya dan Rahael. Semebtara Bu Rahayu sudah berangkat sedari sore tadi.
Setelah keberangkatan Galang dan Bu Rahayu ke tempat tujuan masing-masing Rahael seperti biasa hanya di rumah bersama Bi Jum yang kini berstatus mertuanya, untuk mengisi kesepiannya Rahael mulai belajar memasak dan bersih-bersih walau kadang semua yang dilakukan harus di ulang Bi Jum, karena rasa mual dan pusing yang tiba-tiba kerap muncul.
Kini sudah genap tiga bulan kandungan Rahael karena Bu Rahayu dan Galang tak di rumah jadi yang mengantar ke Dokter Sumi, Bi Jum dan Mang Udin.
Seperti biasa Dokter Sumi sangat cerewet karena berat badan Rahael yang masih di angka itu-itu saja membuat Dokter Sumi geleng-geleng kepala.
Sore ini adalah kunjungan Rahael yang terlambat beberapa hari. Setelah melakukan antrian yang cukup banyak kini giliran Rahael yang di panggil. Dokter Sumi hanya menggeleng heran.
"Kenapa? Apa masih muntah atau makan nya yang bermasalah?" tanya Dokter Sumi pelan.
Rahael hanya diam tak menjawab pertanyaan Dokter Sumi, "tolong asupan gizi nya di perhatikan jika muntah di isi lagi sedikit-sedikit, vitamin dan susu hamilnya juga di minum sayang!" titah Dokter Sumi.
__ADS_1
Bi Jum sang mertua hanya tersenyum, mendengar nasehat Dokter Sumi hingga semua pemeriksaan selesai, "terima kasih Dokter," jawab Bi Jum sambil berdiri.
Selepas kepergian Rahael dan Bi Jum, Dokter Sumi hanya menyerngitkan dahinya dan wajahnya menatap kasihan pada Rahael.
Sekitar sepuluh menit Bi Jum dan Rahael sudah memasuki rumah, Rahael yang duduk di sofa terkejut saat tiba-tiba poselnya berdering.
Di tekannya tombol hijau dengan ragu karena angka yang tertera adalah nomer baru.
"Ya, assalammualaikum wr.wb," jawab Rahael.
Rahael sedikit bingung saat teleponnya terputus secara tiba-tiba. Tak lama panggilan kembali terulang hingga tiga kali.
"Siapa Rahael?" tanya Bu Jum.
"Entah lah Bu, sudah tiga kali melakukan panggilan, tiga kali juga di putus terus, mungkin salah sambung Bu," jawab Rahael.
__ADS_1
"Coba ibu lihat, mungkin mas Galang sahut Ibu, bukan Bu andai nomer Mas Galang, Rahael tahu karena Rahael juga simpan nomornya Mas Galang."
"Jika panggilan itu masih terus menganggu jangan di angkat Rahael," pinta Bu Jum.
"Hiya Bu," jawab Rahael.
Seperti sore ini, ponsel Rahael kembali berdering Rahael yang berada di ruang tengah segera berlari untuk menjawab, "Assalammualaikum wr.wb," jawab Rahael.
"Aneh!" guman Rahael saat suara di ujung sana memutuskan panggilannya secaea tiba-tiba, "sebaiknya Raharl blokir saja," guman Rahael dalam hati.
"Bikin geram saja," ucap Rahael lirih.
"Kenapa Rahael? kok menggerurutu?" tanya Ibu. "Ini lho Bu, berkali -kali nelfon tetapi di putus begitu saja, kok bikin ribet saja," omel Rahael menggerutu. Mendengar Rahael menggerutu Bu Jum langsung mendekat.
"Ya, sudah kalau Rahael merasa enggak kenal, enggak usah di tanggapi bila perlu blokir Rahael."
__ADS_1
"Hiya Bu," jawab Rahael sembari mengulir ponselnya dan beberapa saat Rahael sydah terlihat tersenyum
Rahael lsngsung meletakkan ponselnya dan memilih berbaring di sofa sembari menarap nanar ke langit- langit ruang tengah, hanya sesekali napasnya yang terdengar berat dan beberapa kali mendengus kesal.