Rahael

Rahael
Bab 13O. Ngundu mantu1


__ADS_3

Bab 130. Ngundu mantu 1


Tak terasa waktu berlalu kini sudah seminggu sejak pernikahan Rahan.


Ingatan Rahan kembali ke awal seminggu pernikahan, senyum simpul Rahan terus mengembang, benar jika Ibu mengirim serbuk berendam dan Rayhan kau juaranya, memberiku solusi jitu saat Ais merengek kesakitan.


Dan yang membuat Rahan heran mesti sesudahnya merengek tapi dia tak menolak jika aku meminta jatah, kini aku duduk di ruang tengah Ruko. Ais di dapur dengan Bi Narmi, melihat anak-anak sibuk di bawah merupakan kesenangan tersendiri.


Mertua Rahan pun sudah tak lagi bekerja di Ruko tapi kapan pun Rahan meminta bantuan pasti mereka siap membantunya.


Lamunan Rahan buyar saat Ais menyusupkan kepala di dadanya, masih menjaga aurat meski di rumah, kecuali di kamar dia akan memamerkan semuanya meski Rahan tak meminta. Rahan mengecup pucuk kepalanya, wajahnya sedikit pucat karena kegiatan yang kulakukan bisa menyita waktunya semalaman. Merasakan nikmat yang tiada tara membuat Rahan ketagihan siang dan malam.


Masih mendekap Ais, saat pagi ini ibu meminta Rahan pulang bersama mertua dan juga Bi Narmi, karena acara nguduh mantu yang di laksanakan sehari lagi.


Mengusap bahunya sesaat, itu membuat Ais semakin mendekatkan tubuhnya," sudah peking Ais?" tanya Rahan pelan. Ais hanya mengangguk.


Melihat Rahan dan Ais berangkulan membuat Bi Narmi menegur, "Den, masuk kamar banyak pembeli malu," ucap Bi Narmi pelan dan berlalu ke dapur.


Rahan hanya tersenyum, "maaf, Bi," ucap Rahan.


"Ke kamar yuk," ajak Rahan. Ais tak menolak ajakan Rahan dan masih saja bergelayut di lengan Rahan. Saat masuk kamar dengan tersenyum, Rahan mengunci pintu dan langsung menangkup wajah istrinya, "hem, cantiknya Mas," ucap Rahan lembut.


Belum juga melepas hijabnya Rahan sudah melakukan serangan dadakan setelah memberikan ciuman dadakan untuk Ais. Kini Rahan sudah menyusupkan kepala di balik hijab Ais mencari benda kesukaan yang sudah seminggu ini menjadi favorit Rahan.


Mengusapnya perlahan dan kembali bermain di sana Ais dengan desahannya membuat Rahan semakin menggila bukan hanya bibirku tapi tanganku, juga sudah merayap kemana-mana. Tubuh Ais bergetar saat sentuhan Rahan mengenai tempat faforit hingga membuat Ais kembali mendesah. Mendengar desahannya membuat darah Rahan semakin memuncak.


Membopong tubuhnya ke rajang tanpa melepas pautan bibir kami berdua, hasrat yang sudah di ubun-ubun membuat Rahan ingin segera menyelesaikan serangan di siang bolong.


Dengan napas sama-sama, terengah Rahan menuntaskan semuanya hingga Rahan terkulai di sisi Ais. Kami saling tersenyum dan menatap, "terima kasih," ucap Rahan sembari mengecup bibir Ais sekali lagi. Kami pun tertidur hingga sore menjelang saat Bi Narmi mengetuk pintu kamar, Rahan baru terbangun saat melihat Ais masih tertidur dengan bajunya yang berantakan, karna ulah Rahan, tetapi hijabnya sudah jatuh entah kemana.


Rahan menutup tubuh Ais saat ketukan itu terdengar lagi, "sebentar," Rahan menjawab sembari memakai kolornya. Membuka pintu kamar dan segera keluar kemudian menutupnya lagi karena Ais kini tengah tidur.


"Maaf Den," ucap Bibi sambil menunduk.


"Nggak apa Bi," ucap Rahan.


"Ada apa?" tanya Rahan lagi.


"Em, itu ponsel Aden dari tadi siang bunyi terus." Rahan melihat sejenak, memang kini sudah berbunyi lagi dengan segera aku mengambilnya dan menekan tombol hijau


"Assalammualaikum wr, wb."

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab di seberang sana.


"Rahan," panggil ibu tertahan.


"Ada apa Bu?" jawab Rahan, tak lama terdengar suara ibu tertawa di seberang sana.


"Kemanten baru, kemana saja dari siang Ibu nelpon enggak di angkat?" tanya Ibu dan itu membuat Rahan tersipu malu.


"Toko rame Bu," alasan Rahan sembari tersenyum. Jelas terdengar di seberang sana jawaban Ibu, saat mendengar jawaban Rahan.


"Sebenarnya Ibu marah, tetapi Ibu pingin Rahan pulang, ingat pulang," ucap Ibu sembari menutup telfonnya sepihak.


Rahan tersenyum kecut setelah nya dan kembali ke kamar dan belum benar-benar masuk Rahan melihat Bibi melintas, "Bi, sudah siap-siap?" tanya Rahan.


"Sudah Den," jawab Bibi.


Menghubungi mertuaku, karena perjalanan


ini aku putuskan untuk berangkat lebih awal.


Melihat Ais dengan rambut hitam yang tergerai dan banyak lagi kelebihan yang tak bisa Rahan sebutkan, mendekati kata sempurna, sempurna dengan senyum penuh arti. Masih melihat Ais yang tertidur, sinar sore hari kini menerpa wajahnya dengan kulitnya yang bersih.


Mencari ke sisi ranjang, jangan sampai ajimat ini hilang pikir Rahan, kemudian naik dan berbaring di sisi Ais, kini aku sudah merangkulnya dan kembali tidur.


Pukul lima sore Rahan terbangun dan melihat Ais sudah selesai mandi dan menyisir rambutnya, "mandi Mas sudah sore, bentar lagi magrib."


"Rahan masih enggan beranjak, masih saja Rahan memandang siluet tubuh Ais, kini dia sudah memakai hijab lebarnya hingga menutup dadanya, kemudian menoleh ke arahku.


"Mas, ucapnya lagi. "Mandi .... "


"Hm," hanya itu yang ke luar dari bibir Rahan. "Kok hem Mas, bangun," ujar Ais kini sudah meraih tangan Rahan. Rahan malah merentangkan tubuh saja di ranjang.


"M ... Ais, tak berbicara, namun Rahan melirik Ais berjalan mendekat naik ke ranjang.


Ais, langsung mengecup bibir suaminya, mandi Mas," ucap Ais sembari keluar kamar, menerima kecupan tiba-tiba membuat Rahan tersenyum dan bergegas mandi.


Melihat Toko belum tutup saat Rahan keluar dari kamar, melihat jam sudah pukul tujuh belas tiga puluh. Rahan sengaja turun, melihat mereka masih sibuk, "kok belum tutup Husain, sudah jam segini?" tanya Rahan.


"Setelah pelanggan terakhir tutup Husain mau magrib," ucap Rahan mengingatkan.


Husain yang mendengar perintah seperti itu langsung memberi tahu yang lainnya. Berjalan berkeliling melihat keadaan toko, karena selama seminggu ini Rahan jarang turun ke bawah.

__ADS_1


Aku memanggil Husain, "Husain tolong mungkin, agak lama saya di kota M tolong jaga dan awasi anak-anak," ucap Rahan.


Setelah berbicara dengan Husain Rahan naik keatas, melihat Ais sudah bersiap dengan Bibi, mengeluarkan tas dan perlengkapan lainnya.


"Mas, kata Bapak mending kita berangkat malam saja," ucap Ais memberitahu.


Rahan melihat jam, "shalat magrib dulu Ais," ucap Rahan sembari melangkah ke kamar mengambil air wudhu. setelah shalat, "Bi, tolong siapkan semuanya, saya ke bawah sebentar.


Melihat Husain dan yang lainnya masih beres beres, "Husain," panggil Rahan.


Husain langsung mendekat, "saya akan berangkat malam ini, tolong untuk beberapa hari tidurlah di sini Ruko, Ruko kosong Husain," ucap Rahan memberi tahu.


"Apa boleh saya mengajak Hendro?"


"Enggak apa Husain! setelah saya berangkat tutup saja."


Setelahnya Rahan bergegas ke atas.


"Ais dan Bi Narmi sudah siap, tak berapa lama terdengar suara orang tua Ais datang.


Mendengar itu Ais langsung tersenyum, "ayo Mas, Bapak sudah datang," ucap Ais sembari tersenyum.


Memanggil Husain untuk membantu mengangkat tas dan yang lainnya. Begitu melihat orang tua Ais, Rahan langsung salim


setelahnya membuka pintu mobil.


Menatap sejenak Ruko sebelum Rahan melajukan mobil. Benar kata orang tua Ais melakukan perjalanan malam hari


lebih menyenangkan, tetapi harus lebih hati hati.


Melirik Ais yang sudah menguap dari tadi, "tidur Ais," ucap Rahan sembari memberinya bantal untuk leher. Sudah pukul tiga dini hari Rahan memasuki daerah kota M, udara makin dingin saat aku menghentikan mobil di masjid sembari menunggu shalat subuh dan mata Rahan juga sedikit mengantuk.


Hampir satu jam menunggu akhirnya adzan subuh berkumandang, Ais sudah bangun dan juga orang tua Ais dan Bi Narmi.


Kami semua keluar untuk melaksanakan shalat subuh, air yang dingin membasahi wajah membuat mata Rahan jadi terbuka lebar.


Setelah shalat subuh kami melanjutkan perjalanan, "Mas, cari sarapan dulu yuk


tuh pecel glintung sudah buka," ucap Ais.


Rahan langsung membelokkan mobil di warung biru kecil dan sederhana, tempat di pinggir jalan memudahkan siapa pun untuk datang, tempat yang ramai. Menyantap sarapan pagi hari, meski kami belum mandi dan gosok gigi dari semalam.

__ADS_1


__ADS_2