Rahael

Rahael
Bab 4. Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Bab. 4. Perpisahan sekolah


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, sejak pukul lima sorea Rahel sudah bersiap-siap, Bi Jum yang melihatnya jadi bingung dan bertanya-tanya.


"Eleh-eleh cantiknya. Tumben Non, mau kemana?" tanya Bi Jum mengejutkan Rahael.


"Eh ... Bibi, ini Bi Rahael mau ke perpisahan sekolah, kemarin Ibu juga sudah kasih ijin Bi."


"Berangkatnya sama siapa Non?" tanya Bi Jum khawatir. "Sama Silvi Bi," tutur Rahael sembari Rahael menengok ke arah halaman.


"M .... Hati-hati Non. Apa enggak di antar Mang Udin saja, Non!" ucap Bi Jum khawatir.


"Enggak usah Bi! Rahael sudah janjian sama Silvi Bi!" jawab Rahael lagi. "Ya sudah, hati-hati Non!" pesan Bi Jum sebelum Rahael berangkat.


Hampir sepuluh menit menunggu akhirnya, Silvi datang menjemput. "Bi, Rahael berangkat ya!" pamit Rahael sembari meraih tangan Bi Jum untuk di cium.


"Hati-hati Non, ingat jangan sampai larut malam pulangnya, apa nanti Mang Udin yang jemput Non?" tanya Bi Jum.


"Nggak usah Bi. Rahael juga enggak malam-malam pulangnya Bi, "oh, Ya Bi. Nanti Bi Jum tunggu Rahael sampai datang ya, Bi!" pinta Rahael.


"Baik Non," jawab Bi Jum.


Sejak keberangkatan Nona kecilnya perasaan Bi Jum tak enak. Ada perasaan tak enak yang selalu menganggu. Bi Jum akhirnya memilih menunggu dengan gelisah, 'semoga tak terjadi apa-apa ya Allah,' ucap Bi Jum dalam batinnya.


Sementara Rahael masih duduk dengan gelisah, hingga mobil yang di kendarai Silvi berhenti setelah lima belas menit perjalanan. Akhirnya, Silvi dan Rahel sampai juga di tempat acara perpisahan di laksanakan.


Nampak para siswa sudah datang semua berbaur jadi satu, begitu memasuki tempat acara Rahael langsung mengenggam tangan Silvi sembari berbisik. "Silvi, kenapa Rahael tiba-tiba takut, janji ! Silvi, enggak ninggalin Rahael sendirian," ucap Rahael pelan.


"Hiya Rahel cantik," jawab silvi sembari mencari tempat duduk untuk mereka.


"Rahael kita duduk di sini saja, dekat jendela!" ujar Silvi sembari duduk. Mendengar ucapan Silvi, Rahael hanya mengangguk setuju.


Menunggu tepat jam tujuh, tak berapa lama acara demi acara sudah terlewati. Rahael sekilas melihat jam tangan yang di pakainya.


"Silvi, sudah jam sembilan malam pulang yuk!" pinta Rahael.


"Ayo," jawab Silvi sembari berdiri, tetapi tak berapa lama, "aduh ... "ucap Silvi sembari meringis. Rahael yang melihat ke arah Silvi menatap heran dan tak urung bibirnya bertanya juga. "Kenapa Vi, ada apa?" tanya Rahael terkejut.


"Rahael, aku mau ke toilet sebentar pingin pipis, duduk di sini. Jangan kemana-mana oke!"


Rahael yang mendengar ucapan Silvi langsung berdiri. "Silvi, tapi Rahael takut, Rahael ikut!" pinta Rahael lirih


"Enggak usah Rahael, sebentar saja! Sudah duduk di sini, jangan kemana-mana Rahael !" ucap Silvi sembari melangkah ke toilet.

__ADS_1


Ketakutan Rahael makin menjadi saat melihat sekitar di mana Rahael duduk. Aroma tak sedap sudah di ciumnya sedari tadi. Asap rokok yang terus mengepul sepanjang acara perpisahan berlangsung.


"Duh ... "kenapa Silvi lama sekali!" guman Rahael sembari sesekali melihat ke arah toilet


Rahael akhirnya hanya duduk dan sesekali melihat jam tangannya dan Rahael tak menyadari jika sejak kedatangan Rahel sebenarnya ada sepasang mata yang selalu memperhatikan dari kejauhan, sepasang mata yamg menatap Rahael dengan tatapan yang sulit di artikan. Sesaat laki- laki ini tersenyum sembari mendekat ke arah Rahael.


"Rahael!" sapa laki-laki ini mengejutkan, "sendirian?" tanya laki-laki ini sambil menatap Rahael tajam.


"Ma-Mawan," jawab Rahael sedikit terkejut.


"Enggak sama Silvi?" tanya Mawan mencari tahu. "Sil-Silvi lagi ke toilet," jawab Rahael sembari tatapannya menuju arah toilet.


Rahael memilih beranjak berdiri dan melangkah menyusul Silvi. "Maaf Wan, Rahael ke toilet dulu!" pamit Rahael pada Mawan.


Belum dua langkah Rahael melangkah, langkah Rahael terhenti karena merasa ada yang menarik tangannya.


"Mau kemana Rahael? D sini saja Mawan temani." Seketika Rahael menghempas tangan Mawan kasar.


"Maaf, Wan. Rahael mau lihat Silvi dulu, sudah lama ke toilet tapi kok belum kembali," jawab Rahael berusaha menolak secara halus.


Mendapat penolakan dari Rahael lagi dan lagi membuat Mawan emosi di tariknya tangan Rahael. "Sudah di sini saja, jangan kemana-mana!" perintah Mawan.


Rahael yang melihat Mawan dalam keadaan tidak baik berusaha untuk tidak menyulut emosinya lagi, kembali Rahael melirik kearah toilet.


"Silvi kok lama!" guman Rahael sendiri, sesaat Rahael membuang napasnya kasar mencoba mengusir rasa khawatir yang tiba-tiba menyusup di hatinya.


"Maaf Wan, dari tadi aku sudah banyak minum, buat kamu saja," jawab Rahael menolak.


Mendengar penolakan Rahael, Mawan yang


hatinya sudah tersulut sejak tadi, kini semakin menjadi setelah menerima penolakan lagi dan lagi dari Rahael.


"Ayolah Rahael, hargai aku. Minumlah sedikit saja, toh habis ini kita juga enggak ketemu."


Karena merasa bosan dengan paksaan Mawan akhirnya Rahel meminumnya dengan satu syarat membiarkan dia ke toilet mencari Silvi.


Mawan langsung menyetujui syarat dari Rahael dan menyerahkan minuman itu pada Rahael dengan senyum culasnya.


Setelah Rahael menerima minuman itu dari Mawan, Rahael langsung meminum jus itu dengan sekali tegak dan meletakkan gelas kosong itu di meja. "Maaf Wan, Rahael ke toilet dulu," pamit Rahael dan melangkah pergi.


Mendengar ucapan Rahael, Mawan pun langsung menjawab. "Silahkan!" ujar Mawan tapi bibirnya tersenyum puas.


Rahael yang sejak tadi merasa khawatir, akhirnya menyusul juga Silvi ke toilet.

__ADS_1


Rahael berjalan dengan hati-hati karena, beberapa anak masih terlihat berjoget. Sesekali Rahael melirik jam tangannya dengan gelisah. "Hampir sepuluh menit," guman Rahael sembari berjalan bergegas menuju toilet, belum sepuluh langkah Rahael berjalan tiba-tiba kepalanya pusing pandanganya pun memudar.


Rahael yang merasa keadaanya tak baik-baik saja dengan kepala pusing Rahael berusaha mencari pegangan agar tubuh Rahael tak jatuh. Namun, belum sampai Rahael meraih benda yang di maksud tiba-tiba badannya sudah limbung dan ... Mawan yang sudah memperhatikan dan berjalan sedikit jauh di belakang Rahael langsung berlari meraih tubuh Rahael dan membopong tubuh Rahel dengan senyum menyeramkan.


Tak menunggu waktu lama Mawan langsung membawa Rahel naik ke atas, Mawan langsung memesan kamar pada pelayan hotel.


Entah setan dari mana yang membuat Mawan nekat untuk memilik Rahael seutuhnya dan hanya miliknya hingga nanti.


Setelah memberi tip pada pelayan yang membantu membukakan pintu, Mawan bergegas masuk dalam kamar, memang sengaja Mawan memesan kamar yang paling baik di hotel itu.


Di rebahkan tubuh Rahel di atas ranjang di pandanginya wajah Rahael lalu tersenyum, "cantik," guman Mawan terpesona.


Di belainnya wajah Rahael yang halus putih bersih, tak lama tangan Mawan mulai meraba bibir Rahel, "mungil" ucap batin Mawan.


Mawan masih meraba bibir Rahael sekali lagi. Rahael yang dalam keadaan tak sadar tentu Rahael tak merasakan apa-apa saat Mawan menyentuh bibirnya.


Perlahan namun pasti tangan Mawan mulai meraba satu persatu tubuh Rahael, dengan sedikit nakal di sibaknya gaun Rahael, bibirnya tersenyum saat melihat sesuatu di depannya, sesaat Mawan menelan ludahnya saat melihat bagian bawah Rahel yang terlihat putih mulus.


Masih belum puas menyibak gaun Rahel, kini tangan Mawan mulai menjelajah bagian atas tubuh Rahael, di bukanya resleting baju Rahel di singkap semua baju yang di kenakan Rahael yang tertinggal kini hanya penutup dua gunung kembarnya dan segitiga bermuda yang di pakai Rahael.


Melihat pemandangan yang menakjubkan membuat Mawan semakin nekat, di lumatnya bibir Rahel kemudian turun ke leher dan tangannya tak henti memainkan dua gunung yang tinggi menjulang, belum puas bermain di bagian atas kini akhirnya tangan Mawan mulai turun ke bawah dan ke bawah lagi, hingga akhirnya dengan kasar Mawan menerobos goa kenikmatan dengan kasar.


Setelah menuntaskan hasratnya dengan kasar Mawan terkulai lemas di sisi Rahael sembari tersenyum puas.


Di pandanginya wajah Rahael, di pindai secara seksama dan kembali tersenyum.


Hasratnya yang kini sudah membuncah kembali, dengan napasnya yang menderu, Mawan meraba, mencium dan semua Mawan lakukan pada tubuh yang tengah pingsan karena sesuatu yang di minumnya tadi.


Kali ini yang di pikirkan Mawan hanyalah bagaimana menuntaskan hasrat yang tak kunjung surut, keringat Mawan kembali membasahi tubuh setelah menuntaskan hasrat untuk yang kedua kalinya.


Kakinya terasa lemas, Mawan merebahkan tubuh di sisi Rahael dengan napas tak beraturan, hingga suara dering ponsel yang mengejutkan Mawan dengan merangkak di atas tubuh Rahael Mawan meraih ponsel yang tersimpan rapi di atas meja.


"Mama ... "ucap Mawan lalu menggeser tombol hijau.


"Ya, Ma! Tunggu satu jam lagi Mawan sampai," jawab Mawan sembari menutup panggilan ponsel miliknya.


Hanya itu yang terdengar dari bibir Mawan dan Mawan bergegas memakai baju debgan tergesa. Mawan melirik sejenak ke arah Rahael, sejenak Mawan menatap bingung.


Entah seperti apa keadaan Rahael saat ini hanya Mawan yang tahu, di pandangnnya tubuh polos Rahael, setelah itu tersenyum.


Di pungutnya baju Rahel di taruh di sisi ranjang dan menutupi tubuh putih mulus yang penuh lukisan bibirnya dengan selimut, mendekat secara perlahan sembari mengecup bibir Rahel. "Setelah ini kau akan jadi milikku selamanya Rahael," ucap Mawan dengan penuh napsu.


Setelah berpakaian, Mawan mencari sesuatu di laci nakas, setelah menemukan secarik kertas, Mawan menuliskan sesuatu di kertas dan meletakkan di atas meja begitu juga dengan tas dan ponsel Rahael.

__ADS_1


Setelah itu Mawan segera bergegas keluar dari kamar hotel.


Di meja repsitionis Mawan berhenti dan berbicara dengan pelayan hotel, sang pelayan pun manggut-manggut tanda mengerti.


__ADS_2