Rahael

Rahael
Bab 28. penjelasan untuk Rahael


__ADS_3

BAB 28. Penjelasan untuk Rahael


Menunggu kira-kira sepuluh menit orderan yang Galang pesan datang, "terimakasih kasih Mas," jawab ojol yang mengantar makanan. Gakang melihat sekilas dua karyawannya yang sibuk beberes.


Galang mengambil dua kotak makanan, "No. Rin, ini buat kalian. Saya ke atas dulu," ujar Galang sembari menyerahkan dua kotak makanan untuk karyawannya.


"Terima kasih Bos," jawab mereka serempak.


Begitu sampai di atas, Galang melihat Rahael, tengah tidur di sofa depan TV. Galang memindai seluruh wajah Rahael yang sudah terlihat sedikit cubi, sesaat Galang tersenyum namun tak urung juga bibirnya berucap, "Ish ... kenapa juga tidur di sini," gunan Galang lirih sembari meletakkan makanan di meja makan. Galang berjalan menuju sofa, sekali lagi Gakang berdecak heran hingga beberapa detik kemudian Galang sudah membopong tubuh Rahael menuju kamar dan membaringkan dengan pelan.


Melihat Rahael yang tertidur pulas, membuat Galang ikut merebahlan dirinya juga, rasa lekah dalam perjalanan membuat Galang cepat tertidur. Hingga magrib menjelang saat Nono dan Rin membangunkan, setelah mengetuk pintu beberapa kali. Dengan menguap Galang membuka pintu kamarnya.


Seketika wajah Nono dan Rin menunduk sat melihat siapa yang tertidur dalam kamar.


"Maaf, Pak. Jika kami menganggu istirahat Bapak. Tetapi ini sudah waktunyaToko tutup.


Kami pamit pulang Pak," ujar Nono mewakili Rin juga.


Belum juga Nono dan Rin beranjak dari tempatnya, Rahael terbangun dan berjalan keluar sembari menguap.


"Maaf, jika kami menganggu istirahat Bapak," ujar Nono ulang dan sambil berlalu pergi.


Sementara Galang dan Rahael hanya saling menatap dan tersenyum, saat menyadari apa yang terjadi.


"Rahael ... "panggil Galang saat melihat Rahael duduk di depan sofa tv, "sudah magrib, ayo shalat. Setelah itu lekas makan Rahael, kasihan dedeknya," ujar Galang sembari menatap Rahael lekat.


"Rahael masih mengantuk Mas," ujar Rahael sembari menguap. "Eh. ayo, kok mau tidur lagi," cicit Galang.


"Ayo buruan mandi. Mas tunggu, kita shalat jamaah yuk?" ajak Galang.

__ADS_1


Rahael hanya tersenyum sembari melangkah menuju kamar mandi, namun tak berapa lama. "Lho. Kok cepat mandinya?" tanya Gakang heran.


Rahael hanya menggaruk kepalanya, tetapi memilih berjalan menuju kopernya. "Rahael belum bawa baju ganti Mas," ujar Raharl sembari membuka koper dan memilih baju serta yang lainnya.


Raharl kembali masuk kamar mandi, hsmpir lima belas menit Rahael baru keluar dari kamar mandi. Melakukan shalat jamaah untuk pertama kalinya bersama Rahael, sedikit membuat Galang tenang.


Setekah sekesai shalat, Gakang dan Rahael menuju meja makan, Rahael begitu lahap menyantap makanan yang tersaji, "mau nambah, juga boleh," ujar Galang sembari melihat Rahael. "Boleh Rahael nambah satu porsi lagi?" tanya Rahael dengan mulut penuhnya. Galang hanya mengangguk menghiyakan ucapan Rahael.


Setelah makan dan membereskan, sisa makanan dan peralatan makan mereka, Galang dan Rahael menuju ruang tengah sembari meraih tangan Galang. "Mas," panggil Rahael pelan.


"Mas, bohong. Katanya Mas tinggal di rumah kontrakan, tapi lhat! Mas tinggal di Ruko yang bagus," cicit Rahael sembari mengamati Ruko.


"Duduklah, Mas ajan cerita, Rahael mau cerita dari mana dulu," ujar Galang sembari menepuk bangku di sisinya.


Sesaat Rahael diam, memindai wajah Gakang lekat. "M ... Rahael boleh tanya sesuatu? Sebelum Mas memutuskan untuk menikah dengan Rahael, apa ... sebelumnya Mas punya pacar? Terus Ruko ini?" tanya Rahael bertubi.


Sejenak Galang menghela napasnya, saat ini ada sesuatu yang tak ingin ceritakan, Galang kemuduan menatap Rahael lekat.


Rahael seketika mengangguk dan menatap Galang serius.


Cerita Galang.


Awal Mas kuliah di kota S ini memang Mas masih belum punya keinginan apa-apa Rahael. Begitu masuk semester tiga, Mas mulai membuka usaha kecil-kecilan karena Mas melihat di daerah sini bagus buat usaha, Biasa modal awal patungan dari Ibu dan Bapak, karena di sini prospeknya bagus. Alhamdulillah modal Bapak dan Ibu sudah Mas kembalikan dan untuk Ruko ini. Ini murni hasil penghasilan Mas," ujar Galang mengakhiri cerita.


"Jangan menatap Mas seperti itu Rahael," ujar Galang menangkup wajah Rahael. "Cantik," guman Galang lirih.


"Ish ... Mas selalu begitu," ujar Rahael sembari menggeleng.


"Ayo, kita istirahat. Besok Toko pasti akan sibuk, karena bulan ini musim wisatawan datang, Raharl doakan semoga berjalan lancar," ujar Galang sembari tangannya ingin mengusap perut Rahael, namun akhirnya Galang urungkan begitu saja.

__ADS_1


akan sibuk bulan ini musim wisatawan datang, doakan semua berjalan lancar," ujar Galang sembari berusaha mengusap perut Rahael, tetapi Galang mengurungkan niatnya begitu saja.


"Rahael, tidur di kamar yang tadi dan Mas tidur di kamar sebelah. Rahael besoj saja beberes kopernya biar di bantu Bi Narmi."


Mengahantar, Rahael hingga sampai di ranjang, Galang mengecup kening Rahael sebelum keluar kamar. Namun, langkah Galang terhenti dan menoleh ke arah Rahael.


"Rahael jangan kunci pintunya," tutur Galang sembari menutup pintu dan terlihat Rahael mengangguk setuju.


Belum satu jam Galang merebahkan tubuhnya dan netranya tengah terlelap.


Suara pintu yang terus di ketuk membuat Galang terbangun. Duduk di sisi ranjang sejenak, "Kenapa Rahael belum, tidur," guman Galang sembari berdiri. Membuka pintu kamar, Galang terkejut saat melihat Rahael berdiri dengan bingung.


"Ada apa?Kok belum tidur?" tanya Galang.


Melihat reaksi Rahael yang hanya diam saja.


"Kok, diam?" tanya Galang ulang.


"Rahael enggak bisa tidur Mas," jaeab Rahael sembari menunduk.


"Kenapa? Mau apa coba?" tanya Galang lagi.


"M ... Rahael boleh minta tolong? Rahael enggak bisa tidur, mau di usap perutnya, biasanya Ibu yang ngusap perut Rahael," ucap Rahael bingung.


Galang seketika menatap Rahael lekat, hatinya saat terasa melayang, mendapat angin segar Galang langsung tersrnyum sembari membuka pintu kamar lebih lebar.


"Ayo, sini Mas bantu mengusap perut Rahael.


Rahael langsung masuk begitu saja dan langsung merebahkan tubuhnya di sisi Galang. Rahael langsung mengubah posisi tidurnya, Rahael langsung membelakangi Galang. Galang langsung spintan merapat di tubuh Rahael, mengusap perut Rahael yang terlihat lebih buncit. Tak lama Ragael pun kini sudah terlelap perlahan Galang melepas tangannya, tetapi Rahael seakan sadar dan langsung menarik tangan Galang untuk mengusap lagi.

__ADS_1


"Argh ... Galang hanya mendengus kesal saat tubuh yang lainnya tergoda oleh aroma rambut Rahael yang wangi dan Galang juga laki-laki yang masih normal,


Jantung Galang meronta, karena ini untuk pertama kalinya Galang menyentuh dan mengusap perut Rahael, setelah Galang resmi menikahinya empat bukan yang lalu.


__ADS_2