
Bab 71. Pertanyaan Jebakan
Sudah sore memang ketika kami memasuki garasi, melihat Twin sedang bersama Bi Narmi dan kedua Neneknya berada di teras depan. Twin sedang duduk di rerumputan sedang duo nenek duduk di kursi sedangkan Bi Narmi sedang berjongkok menunggu Twin serta Bi Nina di sisinya.
Begitu mobil berhenti Twin langsung berhenti bermain memandang kearah garasi, senyum Twin seketika tersungging menampakkan dua giginya yang terlihat saat tersenyum.
Melihat kami keluar dari mobil Twin langsung berhambur, berlari kecil drnga langkahnya yang lucu berusaha berlomba saling mendahului, Rahael yang sudah jongkok dan siap-siap ingin menangkap mengurungkan niatnya saat melihat kemana Twin berlari.
Twin langsung lari kepelukan Bapaknya, Rahael yang sedari tadi jongkok menunggu langsung berbalik arah menuju mobil. suasana teras menjadi ramai saat Bi Narmi dan duo Nenek tertawa melihat ulah Twin.
Galang yang mendapat serbuan dari dua jagoan kecilnya langsung merentangkan tanganya menangkap Twin dengan senyum.
Rahael yang genas dengan ulah Twin langsung menghampiri dan menggelitik Twin dalam pelukan Bapaknya, Twing sekerika tertawa sembari menggeliat geli, Galang yang kewalahan akhirnya berucap juga.
"Rahael, sudah. Lihat Twin bergerak ke sana kemari," ujar Galang sembari mengangkat dua anaknya dalan satu gendongan.
Sementara Rahael memilih berjalan lebih dulu dan menyerahkan baju Twin pada Bi Narmi.
"Bi, Rahael minta tolong bajunya di cuci!"
Bi Narmi langsung menerima ukuran tangan Rahael dan berlalu masuk dalam rumah, sementara dua Nenek langsung mengekor langkah Bi Narmi, tak lama setelahnya.
"Bi, Nina. Tolong ini di bawa di dapur juga," tutur Rahael sembari menyerahkan beberapa kotak makanan.
Tak berapa lama Rahael mendengar Twin berceloteh dengan Bapaknya, "coba sekali lagi," ujar Mas Galang pelan.
"Bu, Bu, Mbur ...., kata-kata ini yang akhirnya keluar secara bersamaan dari bibir Twin, Rahael yang mendengar seketika tertawa sembari mencium pipi Twin, sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Suasana menjelang maghrib seketika menjadi hening. Hingga shalat isya datang Rahael masih melihat suaminya duduk di teras belakang. Suasana benar-benar sepi malam ini, Ibu sudah maduk dalam kamarnya dan Twin kini sudah tidur serta Ibu dan Bapak sudah masuk ke dalam rumah dalam.
Rahael memilih mendekst ke arah suaminya yang duduk termenung menatap kosong di depannya, tumben Mas, shs ... dingin," ujar Rahael sembari duduk makin mendekat.
__ADS_1
Mas Galang hanya diam sembari mengutak atik Laptopnya. Rahael yang penasaran akhirnya memilih duduk lebih mendekat makin duduk merapat, "Apa ada masalah dan Toko kita bermasalah Mas?" tanya Rahael sembari menatap wajah suaminya.
Sementara Galang hanya menggeleng.
"Lalu!" jawab memandang ku dengan dalam.
" Mas, punya satu masalah yang saat ini belum juga bisa Mas pecahkan.
Mendengar itu aku langsung menaikkan kaki ku di sofa, sembari menguubah dudukku menjadi bersandar di bahunya.
Melihat itu mas Galang langsung merangkul ku dengan erat sembari berulang kali mencium pucuk kepala Rahael.
"Sayang masalah ini baru bisa terpecahkan
bila kamu yang bantu Rahael, seketika aku berganti duduk menghadap di depannya sembari mengkerutkan keningku .
"Aku?"
"Beneran?"
" Yakin deh seribu persen .
"Ih. Mana ada seribu persen paling ya cuma seratus Mas, Mas mengada-ada."
Sebenarnya aku ingin tertawa dengan percakapan ini tapi aku urungkan ku pasang mode serius agar Rahael mau cerita.
"Apa sih Mas, cerita siapa tahu Rahael bisa membantu," cicit Rahael lirih.
"Tetapi janji dulu enggak ingkar janji, dosa loh
apalagi sama suami," tutur Galang pelan.
__ADS_1
"Janji. Sueeeeer!"
"Mau di mulai dari mana, ya?" tanya Galang sembari sekilas mrlirik wajah Rahael yang nampak serius.
"kira-kira, kalau Mas tanya tentang sehari yang lalu." Galang menjeda sejenak ucapannya, "Rahael mau jujur enggak?" tanya Galang lirih.
"Kan. Pertanyaan Mas Galang, menjebak," tutur Rahael sembari menggaruk kepalannya.
"Kok diam Rahael? Mumpung Silvi on line nih,
Mas pencet loh tombolnya," ucap Galang memaksa, seketika tangan Galang di tarik Rahael, "kan. Mas, maksanya kalem tetapi harus, hiya- hiya Rahael cerita, sudah janji juga," ujar Rahael menyesal.
Sekilas Rahael menatap Galsng malu, melihat wajah Rahael merona, jelas sekali walau terlihat di bawah sinar lampu dengan menghela nafas kasarnya Rahael menatap sejenak, sebelum memulai ceritanya.
"Waktu kecil Rahael itu, enggak punya teman Mas. Rahaelvhanya punya seorang teman laki-laki. Rahael masih ingat sampai sekarang dia baik seperti kakak bagi Rahael, seperti teman karena dia baik dan menjaga Rahael," tutur Rahael menjeda sejenak ceritanya.
Sesaat Rahsrl tersenyum dan kembali bercerita, Laki-laki yang selalu melindungi Rahael, hal yang paling Rahael ingat sampai sekarang, dia rela di marahi demi menutupi kesalahan Rahael, rela di pukul Bapak Udin jika Rahael menangis dan rela di cubit Ibu Jum jika Rahael ngambek, padahal Rahael yang nakal dan manja," ucap Rahael sekilas menatap Galang.
"Ya. Rahael mencintai sosok itu, saat aku telah duduk di bangku SMP kelas dua saat itu, dia sudah memakai seragam abu-abunya dengan ketampananya yang paling Rahael suka dia tak pernah melewatkan shalatnya, Rahael mencintainya dalam diam.
Rahael menangis semalaman saat di tinggal dan kuliah di kota S, Rahael akan tersenyum manis saat laki-laki itu pulang liburan semesteran. Rahael merasakan cinta, cinta monyet, cinta pertama dan Rahael ingin selamanya menjadi cinta sejatinya," tutur Rahael sembari menunduk tak berani menatap Galang.
Seketika jantungku berdetak cepat, seakan ingin berlari saling mendahului, Galang masih diam sesaat ada rasa tak percaya yang Galang rasakan saat ini.
"Jadi?" tanya Galang lirih.
"Ya. Mas, Rahael mencintai Mas dari kecil," jawab Rahael sembari berdiri dan mengecup kening Galang.
Kembali dada Galang berdesir, sebelum Rahael berjalan menjauh, "Rahael!" panggil Galang sembari meraih tangannya, menangkup wajah cantik yang kini tersipu malu, mencium seluruh wajahnya dan mendekap erat tubuh yang ada di depanku,
"terima kasih sudah mencintai Mas sebesar itu, terima kasih Rahael."
__ADS_1