
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Rahael hanya menatap nanar kamarnya dan pandangan Rahael tertuju pada ponselnya yang di biarkan tergeletak begitu saja di nakas.
Rahael menatapa nanar ke arah ponselnya hanya air mata saja yang turun, "maafkan Rahael, Silvi. Setelah sembuh Rahael akan menemuimu."
Ini hari ketiga tubuhnya sudah membaik hanya bagian intinya saja yang masih sedikit sakit untuk berjalan.
Pagi ini Bi Jum tersenyum lebar melihat Nonanya sudah mau keluar kamar dan sudah terlihat rapi.
"Mau kemana Non kok sudah cantik?" tanya Bi Jum. Rahael hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan Bi Jum
"Bi mang Udin mana? Rahael mau minta tolong di antar kerumah Silvi Bi!"
"Tuh. Non, ada di depan," jawab Bi Jum.
"Terima kasih Bi' ucap Rahael sambil melangkah keluar.
" Non, Non enggak sarapan dulu?" tanya Bi Jum sembari memburu langkah Rahael.
"Enggak Bi," jawab Rahael lagi.
"Ya, sudah hati-hati Non," ujar Bi Jum sembari mengelus kepala Nona kecilnya.
"Mang ... "panggil Rahael.
Mendengar panggilan dari Rahael dengan tergopoh Mang Udin mendekat, "ya Non," jawab Mang Udin lirih.
__ADS_1
"Mang tolong antar Rahael ke rumah Silvi Mang."
Mang Udin menatap Rahael untuk beberapa saat, "siap Non," ucap Mang Udin sembari tersenyum.
Perjalanan yang cukup jauh hampir lima belas menit Rahael sudah sampai di rumah Silvi, Rahael hanya mrmbuang napasnya dengan kasar, sudah dua kali Rahael menekan bel tapi tak ada reaksi dari dalam rumah untuk membuka pintu, hingga Rahael menekan bel untuk yang ketiga kali baru terdengar kenop pintu di buka dari dalam.
"Pagi Bi," sapa Rahael sopan.
Melihat siapa yang datang sang Bibi menatap Rahael sejenak, " Non Rahael," ujar Bibi terkejut.
"Bi. Silvi ada?" tanya Rahael sembari menunduk.
Mendengar pertanyaan Rahael Bibi langsung mengerutkan keningnya. "Lho! Non Rahael ketinggalan," jawab Bibi bingung.
Mendengar ucapan Rahael, Bibi hanya tersenyum saat menyadari ketidaktahauan Rahael.
"Non. Silvi, di bawa orang tuanya ke kota B Non! Yang Bibi dengar Non Silvi mau kuliah di sana Non."
Mendengar jawaban Bibi seketika wajah Rahael meredup, dadanya kian sesak dan badan Rahael langsung lemas. Hingga beberapa saat Rahael masih berdiri di depan pintu. "Terima kasih Bi!" jawab Rahael lemas sambil melangkah pergi.
"Hiya, Non. Sama-sama," jawab Bibi ini sembari menutup pintu.
"Mang, kita pulang, Silvi enggak ada Mang," cerita Rahael begitu masuk dalam mobil.
Mang Udin masih melihat dengan heran, "ya sudah! Ayo Non," ucap Mang Udin sembari tersenyum.
__ADS_1
Sembari melajukan mobilnya, Mang Udin sesekali melirik Nona kecilnya lewat kaca spion, terlihat jelas tatapan nanar Nona kecilnya, menatap keluar lewat jendela kaca.
Hingga cukup lama Rahael masih terdiam, hanya terdengar napas nona kecilnya yang terdengar berat. Kembali Mang Udin melihat sekilas, nampak Nona kecilnya tengah melamun dan sibuk dengan pikirannya yang entah mengembara kemana.
"Mang ... bisa enggak, mengantar Rahael ke suatu tempat?" tanya Rahael pelan.
Mang Udin yang sedari tadi melirik ke arah Rahael hanya tersenyum kecut dan sedikit terkejut mendengar ucapan Nona kecilnya.
"Non ... "panggil Mang Udin. "Non, mau kemana?" tanya Mang Udin pelan.
Hingga beberapa saat kemudian, "kesini Mang, ini alamatnya," ujar Rahael sembari tangan Rahael menyerahkan secarik kertas ke Mang Udin.
Mang Udin menghentikan mobilnya sejenak membaca kertas yang di terimanya. "Non. Non, yakin mau kesana?" tanya Man Udin memastikan. Rahael tak menjawab, Rahael hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Non Rahael yakin mau kesana? Tempatnya lumayan jauh Non," ucap Mang Udin lagi.
Kembali Rahael mengangguk. Mang Udin akhirnya menyetujui juga keinginan Nona kecilnya. Setelah hampir dua puluh menit perjalanan, "Non ... kita sudah sampai," ujar Mang Udin sembari menghentikan laju mobilnya.
"Terima kasih Mang, Mang Udin tunggu di sini saja Rahael enggak lama," ucap Rahael sembari melangkah ke luar. Rahael melangkah menuju rumah yang memiliki pintu gerbang yang terlihat megah. Rahael sejenak menghentikan langkahnya karena ada keraguan yang tiba-tiba muncul di hatinya. Namun, tak lama Rahael kembali melanjutkan langkahnya.
Mang Udin yang sedari tadi melihat dan memperhatikan Nona kecilnya dari dalam mobil sedikit menghela napasnya Nona kecilnya berdiri di pintu gerbang dengan gelisah dan terlihat sesekali menekan bel rumah yang ada di depannya. Akhirnya setelah beberapa menit menekan bel, terlihat penjaga rumah keluar.
Dari jarak yang cukup jauh Mang Udin masih memperhatikan Rahael yang tengah membicarakan sesuatu. Namun, setelahnya wajah Nona kecilnya terlihat menunduk sedih dan kembali ke mobil.
Masih dengan wajah sedihnya, "ayo Mang kita pulang," ujar Rahael, hanya ini yang di ucapkan Rahael dan setelahnya hening hingga Rahael dan Msng Udin tiba di rumah.
__ADS_1