Rahael

Rahael
Bab 109. Persiapan Pulang


__ADS_3

Bab 109. Persiapan Pulang


Hari ini semua berjalan seperti biasa Toko lancar Rahan sibuk dengan urusan kampusnya dan sedikit melupakan si bening yang selalu mengusik hatinya.


Hari ini gantian Twin Al yang sibuk, mengajak begitu banyak orang, Tante Rini, Bapak, Ibu dan Twin Al serta Ais juga di ajak ikut serta mengurus masalah pondoknya Twin Al dan kini Rayhan yang di tugaskan untuk membantu di kasir.


Di tengah kesibukan Rayhan melayani pembeli tiba-tiba ada suara cewek yang memanggil, "eh, kakaknya Aal ya?" tanya cewek ini sembari tersenyum.


Rayhan hanya menoleh sebentar dan kembali


melanjutkan gawenya.


"Ma, ingat enggak? Kakak ini yang adiknya nabrak aku di restoran," ujar cewek ini lagi.


Seketika Rayhan mendongak lagi dan beberapa saat Rayhan tersenyum, "hai, kau Naya, kan?" tanya Rayhan.


Rayhan yang sadar siapa yang mengajaknya bicara, segera keluar sebentar dari meja kasir, "pagi, Tante, Om," ujar Rayhan sopan sembari meraih tangan mereka untuk di cium.


Rayhan memandang wajah Naya sebentar, "liburan?" tanya Rayhan.


"Ya, mumpung liburan sekolah," jawab Naya sembari tersenyum.


"Mana, Twin?" tanya Naya kemudian.


"Oh, Twin? Mereka rencannya akan mondok di sini, sekarang mereka sedang mengurus untuk pendaftaran dan lain-lainnya," jawab Rayhan sembari masuk meja kasir lagi.


"Mari Tante," ujar Rayhan sembari mengambil belanjaan dan menghitung, kemudian memasukkannya dalam tas belanja.


"Kerja di sini Nak?" tanya Orang tua Naya.


"Enggak Tante, usaha keluarga," jawab Rayhan.


"Kenalkan saya Rayhan anak kedua dari orang tua saya," ujar Rayhan.


Mendengar itu orang tua Naya tersenyum


sembari mengangkat tas belanjannya.


"Gun, tolong bantu Ibu ini ke area parkir," pinta Rayhan.


Raihan masih menatap langkah Naya, hingga langkah mereka hampir di penghujung pintu, Rayhan mengejar langkah Naya.


"Naya," panggil Rayhan.


"Boleh, minta nomor ponsel Naya?" tanya Rayhan sembari mengulurkan ponsel mikiknya.


Naya langsung mengangguk dan tersenyum sembari menerima ponsel Rayhan, tak perlu waktu lama Naya sudah memberikan ponselnya pada Rayhan kembali.


Rayhan akhirnya, mengantar Naya hingga area parkir, "terima kasih Tante, Om, kami tunggu di kunjungan berikutnya," ucap Rayhan dengan sopan.


"Naya!" panggil Rayhan ulang.


"Ya!" jawab Naya. "Naya, jangan lupa, hubungi ponsel Rayhan," ujar Rayhan.


Rayhan masih menatap kepergian Naya hingga mobil mereka menghilang berbaur dengan lalu lalang mobil yang melaju, sembari tersenyum Rayhan kembali masuk dalam Toko.


Senyum Rayhan menghilang begitu saha saat melihat antrian panjang di depannya, "maaf, atas keterlambatan ini," ucap Rayhan dan segera menuju kasir.


Selepas dzuhur saat Ibu dan lainnya tiba nampak, Twin Al tersenyum bahagia saat menghampiri Kakaknya di kasir.


"Bagaimana, Twin cocok?" tanya Rayhan.

__ADS_1


Twin, tak menjawab pertanyaan Kakaknya, mereka hanya mengacungkan ibu jari saja sebagai jawaban sembari tertawa.


"Kapan mulai masuk Twin?" tanya Rayhan lagi.


"Besok, kakak!" kata Twin sembari menahan tangis.


"Eh. Kok menangis, sini-sini," seru Rayhan sembari memeluk adik mereka secara bersamaan.


"Kok nangis?" tanya Rayhan ulang.


"Twin, kan nantinya sering kangen sama Ibu dan Bapak serta Kakak," ujar Twin kini sudah menangis.


Rayhan mskin erat memeluk dua adiknya,


"Sudah, enggak boleh menangis, nanti ada Kak Rahan dan Kak Ais yang satu pondok sama kalian," tutur Rayhan sembari mengikis air mata adik kembarnya.


"Jangan sampai Bapak melihat kalian menangis, Bapak sudah bilang, jadi harus tanggung jawab," ujar Rayhan sembari tersenyum.


"Twin, ingat enggak sama Naya yang di tabrak Aal di restoran?" tanya Rayhan mengalihkan pembicaraan.


Seketika Twin tersenyum dan Aal langsung saja berkomentar, "Hayo, Kak Rayhan yang ketemu sama lope-lopenya," ujar Aal menggoda.


Mendapat godaan dari Aal, Rayhan hanya tersenyum, sembari mengeluarkan ponselnya. "Nomornya di situ, jika Twin mau saling bertukar kabar," ujar Rayhan.


Perbincangan kami terputus saat Ibu memanggil, "Twin, ayo berkemas dan kau juga Rayhan, besok setelah mengantar Twin kita langsung pulang," ujar Ibu.


Rayhan langsung keluar dari meja kasir setelah menyerahkan kembali tugas ke Tante Rini, berjalan menuju ke atas, Rayhan masih melihat Kak Rahan berdiri di pembatas kaca.


Rayhan dengan usil menyenggol tubuh Kakaknya, " kenapa?" tanya Rayhan.


Rahan hanya tersenyum sembari menggaruk kepalannya. "Hm ...., hanya ini yang Rahan dengar sembari melangkah menjauh


menuju ke kamar bersama.


Tanpa banyak bicara, Kak Rahan langsung memeluk Rayhan.


"Jangan cengeng, seperti kita enggak akan ketemu saja, fokus kuliah, mengejar bening dan satu lagi cepat menika," ucap Rayhan asal.


Mendengar ucapanku mas Rahan langsung memiting tubuh Rayhan, "kebiasaan," ujar Kak Rahan tak terima.


Merasa kesakitan akhirnya Rayhan tak mau kalah, Rayhan membalas Rahan hingga pergulatan kecil yang kami lakukan membuat kami kelelahan dan membaringkan diri di ranjang.


"Rayhan, lama nanti kita tak bisa begini," ujar Rahan sembari menatap langit-langit kamar.


"Hiya kak, sehat-sehat," ucap Rayhan. Rahan langsung memeluk Rayhan dengan erat.


"Jangan buat yang aneh-aneh Kak, ingat pesan Bapak, kalau memang udah sreg langsung saja ngomong sama Bapak," ucap Rayhan menggurui.


Mendengar ucapan Rayhan, Rahan hanya menunduk, "ya, Rahan akan menunggu Ais satu tahun ke depan sembari memantapkan hati," ujar Rahan sembari tersenyum.


"Mas! Ayo lomba, siapa yang bisa jadian dulu sama gebetan kita, apa taruhannya?" tanya Rayhan menantang.


"Enggak-enggak, enggak ada taruhan, begini saja, siapa yang berhasil menikah dulu berarti ...."


"Akh, Rayhan enggak mau, Kak Rahan pasti nanti ngawur," ujar Rayhan seraya pergi keluar kamar karena lapar.


Rayhan langsung tersenyum saat melihat siapa yang duduk di ruang tengah.


"Eh ... Mbak Ais!" sapa Rayhan.


"Mbak Ais, mencari Kak Rahan, ada itu di dalam kamar," sapa Rayhan dengan suara sedikit keras, berharap Kakaknya ikur keluar.

__ADS_1


"Kamu, ini Rayhan, saya kemari mencari Twin," jawab Mbak Ais.


Rayhan yang mendengar jawaban Mbak Ais seketika tersenyum, "tunggu Mbak," ucap Rayhan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mbak sini," ujar Rayhan sembari menarik ujung gamisnya.


"Eh, mau apa Rayhan?" tanya Mbak Ais bingung.


"Ada yang mau Rayhan bicarakan, janji enggak boleh nolak," ucap Rayhan memaksa.


Mbak Ais, seketika melotot mendengar ucapan Rayhan. Rayhan kini berbicara sedikit mendekat dengan suara pelan.


"Bagaimana, Mbak suka enggak?" tanya Rayhan menyelidik.


Rayhan seketika tersenyum lebar saat melihat Mbak Ais mengangguk sebagai jawaban. "Sebentar Kak Ais tunggu," ujar Rayhan bergegas kekamar dan menggeret Kak Rahan.


"Ray apa-apaan," ucap Rahan menolak.


"Cepat, ungkapin perasaan Kakak, sebelum Mbak Ais berangkat, nanti akan lama untuk ketemu lagi," ujar Rayhan semangat.


Rayhan dan Rahan yang sedari tadi sibuk berdebat, tak menyadari jika orang yang mereka bicarakan sudah berdiri tepat di depan kami.


"Cepat, Kak. Besok Mbak Ais sudah berangkat, jangan sampai Kak Rahan menyesel loh!"


"Rayhan," seru Rahan.


"Rahan comblangin kak," ujar Rayhan sembari berlalu menuju ke dapur. Rayhan masih mengintip mereka dari dapur dan cukup lama, Kak Rahan dan Mbak Ais, berdiri berhadapan dan diam. Hingga tak berapa lama, "maaf kalau Rayhan jahil begitu, tetapi benar yang Rayhan ucapkan, kalau Saya sangat menyukai Ais," ujar Rahan.


Mendengar ucapan Rahan, Mbak Ais langsung menunduk malu untuk beberapa saat, tak berapa lama Mbak Ais mendongak dan menatap Kak Rahan, Mbak Ais langsung mengangguk, "Ais juga suka," jawab Mbak Aia lirih.


Mendengar jawaban dari Ais, seketika Mas Rahan ingin memeluk mbak Ais. Melihat ulah Rahan, Mbak Ais langsung mundur, "enggak boleh, belum mukhrim," jawab Mbak Ais.


Rahan yang mendengar ucapan Ais langsung menyadari akan sikapnya. Kini Rahan memilih berdiri sedikit menjauh, "Ais, benar kan kamu suka?" tanya Rahan.


"lh, malu kalau Ais di suruh mengulang," ucap Ais, sembari tersenyum dan mengangguk.


Mendengar percakapan mereka, Rayhan yang berada di dapur langsung keluar dan tersenyum bahagia. "Begitu itu baru Kak Rahan namanya," ujar Rayhan usil.


Kak Rahan yang melihat Rayhan ke luar dari dapur langsung memeluk Rayhan erat. Cukup lama kami berpelukan. Melihat Rayhan di peluk Kak Rahan, Bapak yang baru naik terkejut, tak urung akhirnys Bapak bertanya juga, "ada apa Ais?" tanya Bapak.


"Anu, anu Pak," jawab Ais malu.


Rayhan segera melepas pelukan Kak Rahan.


"Cie, cie, Kak Rahan jadian sama kak Ais Pak," ucap Rayhan sembari berlari ke kamar.


"Rayhan," teriak Kak Rahan.


Mendengar ucapan Rayhan Bapak langsung tersenyum.


"Wah! Bakal mantu ini," ujar Bapak sembari berjalan ke kamar dan berucap, "belum mukhrim enggak boleh dekat- dekat," ujar Bapak mengingatkan.


"Sudah, Kak Ais turun, Twinnya juga enggak ada," ujar Ais sembari berlalu ke bawah.


Melihat jam sudah pukul lima sore, Rahan segera kekamar mengganti baju, rencana ingin mengajak Ais jalan-jalan tanda jadi jadian, Rahan segera menunda niatnya saat melihat Ais masih sibuk di Toko. Rahan langsung mendekati Ais, "mandi gih kita jalan-jalan mau kan?" tanya Rahan.


Ais hanya mengangguk menghiyakan


berjalan ke arah kasir, Rahan minta ijin pada Tante Rini kalau mau ajak Ais jalan dan Tante Rini mengijinkan. Tak berapa lama Ais sudah keluar belum juga di pintu Ais sudah memberi beberapa syarat


"No Kiss, no pegang dan no peluk," ujar Ais.

__ADS_1


Seketika Rahan lemas, berat sekali pikir Rahan, tetapi Rahan bersyukur ternyata seperti ini caranya, akhirnya Rahan menuruti saja persyaratan dari Ais.


__ADS_2