Rahael

Rahael
Bab 126. Nganten Baru


__ADS_3

Bab 126. Nganten Baru


Melihat istrinya masih berendam membuat ide Rayhan muncul, "Naya sudah belum berendam nya?" tanya Rayhan.


"Sebentar Mas, masih suka wanginya," jawab Naya.


"Masak Naya, coba abang cium," ujar Rayhan sambil maju selangkah dan kemudian ikut masuk dalam bath tube yang awalnya hanya ingin berendam lama-lama Rayhan tak tahan juga dengan tubuh yang sama-sama polosnya, sentuhan kulit tanpa pembatas membuat naluri kelakian Rayhan memuncak.


Sedikit melakukan gerakan akhirnya tak luput juga bibir Rayhan mulai merayap menyesap setiap jengkal tubuh Naya, di tambah aroma yang membangkitkan gairah dengan ******* lembut Naya menyambut setiap sentuhan mencari sensasi kenikmatan bersama saling memberi dan merasa hingga mereka sama sama bergulat untuk mencari kepuasan tiada tara, terkulai di dalam bath tube dengan senyum mengembang.


" mMaaf kalau masih sakit," ucap Rayhan, kini Naya makin mendekap erat suaminya.


Melepas sejenak tubuh Naya, membuang air di bath tube dan mengantinya dengan air hangat yang baru, mandi bersama saling menggosok tubuh mereka satu dan lainnya


dan setelahnya membilasnya lagi.


"Ayo, Naya, dingin," ucapnya sembari melilitkan handuk di tubuh Naya, "hem, wanginya istrinya Abang," ujar Rayhan.


Berjalan kearah ranjang sembari terus memberikan kecupan lembut di bibir Naya.


"Sudah, Bang. Naya, lapar malu mau keluar,


Abang keluar gih, ambil makanan," ucap Naya.


"Keluar berdua Naya," ucap Rayhan. "Abang ini masih sakit, apa Abang enggak malu kalau nanti Nay keluar jalannya kayak bebek."


Mendengar itu Rayhan langsung mendekat "maaf, Naya," ujar Rayhan sembari menyesap bibir istrinya.


"Ih, kan mulai lagi, nanti Abang buatin rendaman lagi, satu kardus Naya, Ibu kirim," ujar Rayhan, mendengar ucapan suaminya Naya tersenyum.


"Abang, Naya lapar," rengek Naya. "Hiya, sebentar," kini Rayhan mulai ganti baju dan membuka pintu.


"Abang jalanya kok kayak habis sunat?" tanya Naya heran.


"Naya, bukan punyamu saja yang sakit, punya Abang juga sakit," jawab Rayhan pelan.


"Jangan ngetawain abang Naya," ujar Rayhan sembari menuju dapur mengambil sarapan yang terlewat.


Membawa dua porsi makanan dan dua teh panas. Setelah sarapan Rayhan hanya di kamar saja, menemani Naya, "Abang!" teriak Naya saat berada di kamar mandi, "ya, Naya," jawab Rayhan.


Begitu masuk Rayhan terkejut, saat melihat Naya menangis, "kok nangis?" tanya Rayhan bingung.


Naya, kemudian mendekat dan berbisik, "terus! Tanya ibu di kasih apa? Naya enggak tahan Abang, nyeri pas buat pipis," ujar Naya sembari menangis.


Sudah bersih tanya Rayhan, Naya hanya mengangguk lalu Rayhan membopong menuju ranjang, tak lama kemudian Rayhan mengambil gawainya mencari solusi, Naya, Abang kan malu telfon ibu," ujar Rayhan.


"Lalu!" jawab Naya marah, "hiya deh," jawab Rayhan.


Beberapa saat menghubungi ibunya hingga suara telfon di ujung sana tersambung


"Ya, Rayhan," jawab Ibu.


"Em, sudah. Rayhan, Wa, Bu!"

__ADS_1


Tak berapa lama sudah mendapat jawaban dari sang ibu, "coba baca Naya," jawab Rayhan sembari menunjukkan wa yang di terimanya.


Kini wajah mereka berdua sudah merah, "ini gara-gara Abang sih!" ujar Naya marah. "Abang ke Apotik Naya," ucap Rayhan.


Mau duduk hanya menggeleng, "enggak mau


sakit," ujar Naya sembari meringis.


"Ya, sudah Abang ke Apotik dulu," ujar Rayhan lagi dan kini benar-benar keluar dari kamar.


Begitu keluar dari kamar Rayhan bertemu dengan Ibu mertua, "Rayhan, mana Naya?"


"Masih tidur Ma," ucap Rayhan malu, "pelan- pelan Rayhan, masih pertama kasihan," ucap Mama Maya menggoda.


Mendengar itu Rayhan hanya mengangguk


"Mau kemana? Keluar sebentar Ma, ujar Rayhan sedikit malu untuk mengatakan akan ke Apotik membeli obat untuk Naya.


Tak berapa lama Rayhan sudah datang sembari membawa obat yang di belinya


Sedikit tersenyum saat membaca cara pakainya kini pikirannya sudah traveling ke mana-mana mengetauhi menantunya tersenyum saat berjalan akhirnya Bu Maya memanggilnya, "Rayhan!" panggil Bu Maya, mendengar panggilan yang di tujukan untuk dirinya, seketika Rayhan menoleh, "Eh. Mama! maaf, Rayhan enggak lihat."


"Mana kamu lihat Mama, wong jalan saja cengar-cengir, hayo mikir apa?"


"Eh. Enggak Ma, maaf Rayhan masuk dulu," jawab Rayhan malu.


Melihat cara jalan Rayhan, Bu Maya hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.


"Main sruduk saja Rayhan-Rayhan."


di lihatnya wajahnya sedikit pucat


membaringkan tubuhnya di sisi Naya di pandangnya istri yang di nikahinya baru sehari kemarin ternyata memang benar aku tak salah memilihmu sembari mengecup kening Naya, merangkulnya dan tidur.


Terbangun saat mendengar panggilan Naya


"Bang ... "panggil Naya sembari menggoyang tubuh Rayhan.


"Bang, tolongin Naya," ujar Naya seketika Rayhan membuka matanya lebar.


"Ya, Naya. Mana obatnya?" tanya Naya.


Rayhan segera bangun dan mengambil obat itu, "yakin bisa sendiri?" tanya Rayhan. "Kenapa Bang?"


"Rayhan langsung menujukkan cara pakainya, "duh, kok begini Bang."


"Ya, sudah enggak apa-apa asal nyerinya hilang," ujar Naya malu.


Dengan tersenyum Rayhan membantu memberikan obat Naya.


"Naya, obat ini bekerja cepat dan menghilangkan nyeri," ucap Rayhan.


"Baguslah Bang, Naya juga pingin keluar kamar, asal enggak nyeri," jawab Naya.

__ADS_1


Rayhan hanya tersenyum, "em ... istrinya Abang moga-moga cepet sembuh, ini dedeknya juga sudah enggak tahan." ujar Rayhan


"Bang, sudah agak enakkan, tetapi?"


"Tapi ...., Naya langsung membisikkan sesuatu yang membuat Rayhan merasa bersalah.


"Ayo keluar Mama tadi tanya," mendengar kata mama Naya langsung tersenyum.


"Ayo, tapi pelan-pelan saja jalannya


masih sakit." Naya hanya menggeleng.


Saat keluar kamar Mama masih duduk di ruang tengah, melihat anaknya Bu Maya hanya tersenyum, sini duduk di sebelah Mama, Naya hanya menurut saja, sedang Ray ada di samping Naya.


"Papa mana, Ma?" tanya Naya.


"Papa, sudah dari tadi berangkat lihat jam berapa Naya?"


Merasa jadi tersangka Naya dan Rayhan tertuduk malu, "kalian sudah sarapan?"


"Sudah, Ma! Tadi, Bang Rayhan yang mengambilkan. "Ya, sudah istirahat saja."


"Naya," panggil Bu Maya lalu menariknya sedikit mendekat dan membisikkan sesuatu, melihat itu Rayhan langsung menyerngitkan keningnya.


"Ya, Ma paham," ucap Naya.


Mengobrol sana sini, membuat Rayhan beberapa kali menguap, Naya yang melihat itu langsung menarik tangan suaminya.


"Ayo, Bang kekamar."


Melihat sejenak ke arah mertuanya, "sudah


masuk sana!"


Begitu di dalam kamar, Rayhan langsung mendekap Naya, "apa yang Mama bisikkan Naya? Sebenarnya Abang enggak suka kalo main bisik-bisik," ujar Rayhan.


Seketika Naya tertawa, "jangan berpikiran buruk Bang."


"Mama bilang, memang sakit setiap wanita pasti merasakan tapi Nay juga harus bisa menjaga cara jalan Naya."


"Begitu Abang, Rayhan Naya yang cakep."


Mendengar pujian dari Naya, Rayhan malah senyum-senyum dan kini malah menyerang, "aduh, Bang sabar," ujar Naya kewalahan.


"Enggak bisa Naya, Abang enggak tahan kini tangannya mulai kemana-mana, merasakan getaran aneh yang kian lama kian menuntut untuk di tuntaskan, menjadi sore yang panas dan lupa akan sakit yang di rasakan berpacu dalam keringat dan peluh, "terima kasih, Naya," ujar Rayhan saat semua sudah terpuaskan.


Memang penganten baru, mengenal barang baru yang rasanya legit membuat Rayhan ketagihan dan pingin nambah terus dan terus.


Selama seminggu hanya ini yang di lakukan Rayhan, hingga gawainya berdering saat ia tengah berpacu kenikmatan.


"Bang, biar Naya yang menjawab, tetapi Rayhan tak ingin melepas tubuh Naya sembari melanjutkan kenikmatan yang belum tuntas.


"Bang!"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Naya!"


Mungkin sudah lebih dari lima panggilan dari gawainya, hingga panggilan yang ke enam bersamaan dengan menuntaskan kenikmatannya.


__ADS_2