Rahael

Rahael
Bab 128. Persiapan untuk Rahan


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat kehamilan Rahael yang semakin membesar membuat Rahael sedikit bersedih tak bisa mendampingi putranya menuju pelaminan


"Sudahlah Bu, nanti kan bisa di video kan


Rahan lebih memilih ibu di rumah kasihan dedeknya," ujar Rahan sembari merangkul ibunya.


"Tapi Rahan?"


"Bapak juga di rumah Bu, Eyang Jum juga di rumah."


"Semua persiapan sudah selesai, besok kami semua berangkat mohon doanya Bu," ucap Rahan.


Eyang Panji dan Eyang Widia masih berbicara serius dengan Bapak, nampak wajah ketiganya sedikit tegang.


Rahan yang melihat itu ikut nimbrung dan mendengarkan dan akhirnya Rahan paham akan situasinya.


"Bagaimana, Galang?" tanya Eyang Panji.


"Seperti keinginan Rahael dan Eyang sadar maksudnya, istrimu tak ingin nantinya ada yang kurang," jawab Eyang Panji.


"Sudah! Eyangnya ini sudah siap dan bangga bisa menikahkan dua cucunya dan kami juga berterima kasih mempercayakan semua ini pada kami," ujar Eyang Panji lagi.


Sesaat kemudian Bapak masuk ke dalam mengambil sesuatu yang di masukkan dalam amplop, "Rahan, mas kawinya mirip kan dengan Rayhan?" tanya Bapak.


"Maaf nanti untuk kue hantarannya biar Eyang Rahayu yang menyiapkan dan untuk seragamnya sudah di kirim kan?" tanya Galang, sementara Eyang Panji dan Eyang Widia mendengarkan dengan seksama.


"Pak!" panggil Rahan dan seketika Bapak diam sesaat, sedang Eyang panji menatapnya dengan serius.


"Menyangkut tentang ngunduh mantunya


mungkin, setelah seminggu pernikahan Rahan akan di laksanakan ngunduh mantu, menginggat Rahael yang sudah hamil tua tidak mungkin kami melakukan kerepotan itu meski semua sudah catering dan yang lainnya. Kami selaku orang tua dari Twin Ra ingin sekali lagi meminta pertolongan untuk membantu kelancaran ngunduh mantu nanti dan kami harap Eyang berdua mau membantu," ujar Galang.


Mendengar ucapan Galang, Eyang Panji kemudian tertawa dengan keras.


"Galang, bicaramu seperti ke siapa saja mereka cucu kami, Galang. ya, jelas. Kami mau," ujar Eyang Panji sembari menepuk pundak Bapak.


Hati Rahan bertambah lega, Rayhan dan Naya sudah datang dan menginap sementara Twin Al tinggal di kota S bersama Bi Narmi.


"Jadi keberangkatan besok hanya Rahan, Rayhan, Naya, Eyang Rahayu dan Eyang Panji serta Eyang Widia," ujar Rahan menghitung.


Semua hantaran sudah di masukkan tinggal hantaran untuk mas kawin satu set perhiasan dari Ayah dan satu set alat sholat.


Memandang itu semua hati Rahan trenyuh, entah mengapa, "Rahan," panggil Bapak, "cepat istirahat ingat besok harus berangkat," ujar Bapak mengingatkan.


Rahan melangkahkan kaki masuk kedalam, Ibu yang dari tadi sudah sedikit bersedih, kemudian memeluk Rahan erat, "maafkan Ibu jika tak bisa menghantarmu ke pelaminan Nak," ucap Ibu sembari mengusap kepala Rahan.


Rahan tersenyum sesaat, "Bu, doakan semuanya baik-baik saja dan berjalan lancar," ujar Rahan kini memeluk Ibu dengan erat.

__ADS_1


Rayhan dan Naya yang melihat itu tersenyum


"Ayo istirahat, perjalanan masih jauh. Jaga stamina buat MP nya," ucap Rayhan tanpa filter.


Bapak yang mendengar itu langsung berdehem, "Raihan yang sudah merasakan MP, enggak boleh kasih bocoran," ucap Bapak sembari menyentil kening Rayhan.


"Ih. Bapak malu, kok nyentil di depan Naya," ujar Rayhan.


"Itu hukuman jika ngomong enggak pakai rem," ucap Bapak sembari berlalu.


Rayhan dan Naya saling pandang dan tersenyum, Bapak yang melihat langsung mendelik.


"Bu. Tidur, Yuk!" ajak Galang sembari meraih tangan isterinya.


Melihat Rahan yang masih belum sadar dengan omongan ini hanya diam, melihat Bapak menjauh, seketika Rayhan mendekatinya, "jangan khawatir nanti, Rayhan bagi obatnya," ujar Rayhan tak tahu malu.


Rahan tak menjawab, tetapi langsung memiting Rayhan. "Awas kau Rayhan, jangan macam-macam, kini ganti Rayhan yang memiting nya hingga puas, setelahnya kami tertawa bersama-sama.


Naya yang melihat ini hanya menggelengkan kepalanya. Kami berdua berangkulan memberikan semangat satu dan yang lainnya, "sukses, Kak. nanti MPnya," ucap Rayhan lagi.


"Mulutmu, Rayhan," ujar Rahan sembari berlalu.


"Naya, ayo," ajak Naya masuk kamar.


Masih pagi saat Eyang Panji datang kami pun sudah bersiap, Eyang Jum memeluk Rahan erat.


Melihat ibu dengan perut besarnya membuat Rahan sedikit berlapang hati, merelakan ibu tak menghantar ke pernikahan Rahan.


Setelah berpamitan kami pun berangkat


perjalanan di lalui dengan hening


hanya sepatah dua kata yang keluar dari mulut kami, hampir delapan jam akhirnya kami sampai di Ruko, mengeluarkan hantaran untuk dimasukkan kedalam.


Acara di mulai besok tapi karena tak ingin capek akhirnya kami berangkat sehari sebelumnya agar dapat beristirahat.


Melihat Rahan tampak pucat, Rayhan langasung memeluk saudara laki-laki satu-satunya untuk memberinya semangat.


"Kenapa?" tanya Rayhan, kini melihat Rahan hanya menunduk dan menangis.


"Maafkan Rahan," ucap Rahan pelan.


Mendengar ucapan Rahan, Rayhan membiarkan Rahan memelukku semaunya karena, Rayhan sadar, meski di panggil kakak tetapi untuk keadaan seperti ini kak Rahan lebih nyaman dengan Ibu dan memang ibulah yang bisa membuat Rahan tenang.


Setelah beberapa saat dia melepas pelukannya, Naya yang awalnya ingin mendekat ku beri isyarat untuk menjauh.


"Kakak istirahat, besok hari H siapkan tenaga untuk itu, jangan buat perasaan ibu sedih kak," ucap Rayhan lagi.

__ADS_1


Kakak menatapku lekat, kemudian memeluk Rayhan lagi, "terima kasih," ucap Rahan kemudian masuk kamar.


Pagi menjelang semua sudah bersiap memakai baju seragam, Twin Al tersenyum puas melihat kakak laki-lakinya tampak tampan.


"Berangkat agak pagi Rahan," ucap Eyang Panji, "nanti belum ganti baju untuk ijab," ujar Eyang lagi.


"Mungkin acaranya akan sama dengan Rayhan langsung resepsi Rahan," ujar Eyang Panji dan Rayhan melihat kakak hanya mengangguk saja.


Rayhan memegang tangan Rahan, yang dingin. "Kak sudah hafal ijabnya?" tanya Rayhan, sekali lagi Rahan hanya mengangguk.


"Kakak nerves tanya Rahan," sejenak Kak Rahan hanya menatap saja.


Eyang Panji yang sedari memperhatikan, langsung mendekat, "Ee, yang mau menuju halal kok murung," ujar Eyang Panji.


"Ada apa?" tanya Eyang Panji sudah memeluk


cucunya, sembari menepuk punggung Rahan.


"Sudah jam delapan ayo berangkat," ucap Eyang Rahayu.


"Bi, tolong ini di masukkan ke mobil


mana Rayhan?" tanya Eyang.


"Sepuluh menit lagi harus berangkat," ujar Eyang Panji mrngingatkan. Setelah semua hantaran dan kue-kue sudah masuk mereka pun segera berangkat.


Sampai di tempat tujuan kami di sambut dengan hangat, Rahan langsung di tarik kedalam untuk berganti pakaian.


Kini pandangan Kak Rahan sudah memindai setiap ruangan namun yang di carinya tak kelihatan. Menunggu di ruang yang telah di sediakan tak berapa lama acara di mulai. Menghapal ulang ijab qobul yang telah Rahan hapal. Rahan sedikit terkejut saat melihat Ais


keluar dengan tampilan beda meski berhijab tapi saat ini riasan nya membuatnya


semakin cantik. Pandangan Rahan tak lepas dari wajahnya, sadar akan Rahan, Ais malah menunduk.


Rahan tersadar saat pak penghulu menjawil tangan Rahan, "mau di pandang terus atau di halalkan," ujar Pak penghulu.


Seketika wajah Rahan panas menahan malu,


Eyang Panji yang ada di samping Rahan tersenyum lebar.


"Bisa di mulai?" tanya pak penghulu. Seketika suasana hening dengan sekali tarikan napas Rahan bisa mengucapkan ijab dengan lancar.


Kata sah, sah, sah seketika terucap dan itu membuat Rahan lega.


"Ais yang mengambil tangan Rahan untuk di ciumnya membuat Rahan tersenyum.


Kini ia tak menolak lagi untuk memegang malah dengan ke inginan nya sendiri Ais menyentuh tangan Rahan, seketika darah Rahan berdesir hangat.Kini tak ada lagi yang membuat Rahan ragu untuk menyentuhnya.

__ADS_1


__ADS_2