Rahael

Rahael
BAB 60 . MASIH DI RUKO


__ADS_3

Begadang dengan Mawan membahas sesuatu yang menurut Galang kurang manfaat. Membuat Galang ingin mengerjainya, mengorek tentang perasaan Mawan pada Rahael. Sebenarnya ini hanya mengurangi rasa curiga Galang saja.


"Wan, memang seperti apa Rahael di sekolah dulu?"


Memang nyatanya saat itu aku sudah di kota S ini untuk menuntut ilmu.


Mawan tersenyum menatap Galang.


"Jangan bilang Mas cemburu."


"Galang hanya tersenyum."


Mawan Flass back


"Sebenarnya Rahael itu adik kelas, saat dia masuk awal sekolah, aku sudah ada di kelas dua. Hahaha ... otak Mawan memang gila saat itu. Aku rela tinggal kelas demi dapat satu kelas dengannya, sembari menatap jauh kedepan. Bodohnya aku tak menyadari jika cinta ku bertepuk sebelah tangan, aku selalu mendapat penolakan dengan alasan dia sudah mencintai orang lain.


Namun nyatanya aku tak pernah melihat dia berjalan dengan siapapun, Rahael itu cewek


pemilih dan dengan silvi lah aku selalu melihatnya bersama.


Merasa selalu mendapat penolakan hatiku


semakin sakit dan saat itu memang aku sedikit mabuk mas dan membuatku nekat


flasshback end


Melihat wajah Mawan di tekuk Galang tertawa terkikik puas. "Memang kau itu bodoh," jawab Galang.


Mawan hanya tersenyum menanggapi olok kan dari Galang sembari menggaruk


kepalanya.


"Sudah jam satu malam, aku mau tidur Wan.


Besok masih ada urusan dengan anak-anak


mungkin lusa kita dapat ke Kota M, Wan.


Besok pagi kamu pulang, ke penginapan kasihan silvi nanti kangen sama kamu.


Mendapat olokan dari Galang, Mawan beringsut berdiri.


"Memang kamu nggak bulan madu Wan?" tanya Galang sembari berjalan ke kamar.


Yang Galang tanya hanya diam. "Buruan di bukak," ucap Galang.


"Ngantuk Mas, hanya ini jawaban Mawan dan masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Merebahkan diri di ranjang beberapa saat mata Galang pun terpejam.


Terbangun saat adzan subuh, melihat Mawan masih tertidur. 'kenapa juga di sofa pikirku.'


Setelah menyelesaikan sholat subuh Galang lihat Mawan sudah keluar dari kamar mandi.


Mengambil sajadah dan sholat subuh.


Galang bergegas ke dapur membuat kopi dan


turun kebawah sembari melihat toko.


Setelah memeriksa toko dan gudang, Galang sedikit lega dan memang mereka jujur.


Sudah jam delapan pagi Galang melihat Mawan belum turun mungkin tertidur pikirku.


Anak-anak sudah datang, sengaja Galang menutup toko karena ingin meminta pertolongan mereka untuk mengepak barang kami yang tertinggal dan nantinya kami paketkan.


"Rin, tolong nanti urus semuanya alamatnya juga jelas kan?"


"Siap Pak."


"Di mana No, Rin? Kok nggak kelihatan."


" Mas No ada di gudang Pak."


"Sejak kapan kamu manggil No, dengan sebutan Mas Rin?"


Yang di tanya cuma mesam mesem.


"Memangnya kalian pacaran? Awas ya kalo


nikahnya nggak bilang-bilang," ucap Galang lagi.


"Sain panggil Mas No," ucap Galang tiba-tiba.


Mendapat perintah dadakan Husain bergegas ke bawah, Mawan yang masih duduk di sofa hanya geleng-geleng kepala.


"Biar ku jodoh kan saja mereka," guman Galang. Biar tidur di sini ada yang merawat ruko ini sekalian.


Mawan yang mendengar ucapan Galang, Mawan hanya geleng-geleng.


"Pulang Wan! Kasihan Silvi. Siap-siap besok kita berangkat."


"Sebentar Mas, masih betah."


"Dasar tuyul tengil," ucap Galang.

__ADS_1


Tak berapa lama No datang bersama Husain


"Terima kasih sain," ucap Galang.


"Siap bos," jawab No.


"Rin ... panggil Galang kemudian.


No hanya terdiam saat Galang memanggil Rin.


Mawan yang melihat keisengan Galang hanya tersenyum. Seperti akan di sidang melihat tubuh mereka tegang.


Husain yang ada di belakang juga ikut menegang. "Rin, No setelah saya periksa tadi pagi, sepertinya ada yang kurang," ucap Galang serius.


Galang langsung melirik Mawan yang tengah menahan tawa.


"Memangnya apa yang telah kalian lakukan."


Galang melihat Rin, No dan Husain wajahnya semakin pucat.


"Sain kamu keluar karena tak ada sangkut pautnya di sini."


Sesaat setelah Husain keluar. "Rin, No duduk," pinta Galang.


"Maaf, Pak saya berdiri saja," ucap mereka serentak .


"Baik lah kalo itu mau kalian."


Galang turun mendekati mereka dengan wajah serius. "Sejak kapan kalian pacaran hem ... "


Yang Galang tanya hanya saling menatap.


"Sepertinya satu bulan yang lalu, kalian masih menyebut nama masing- masing, sekarang kok sudah berubah jadi Mas No."


Mendengar ucapan Galang, No dan Rin langsung tersipu malu.


"Bapak kalau mau bikin lelucon garing tau," Ucap No.


"Hahahaha ... seketika Galang tergelak, erasa puas bisa mengerjai mereka, Mawan tak kalah keras suara tawanya. Setelah beberapa saat kemudian.


"Kalau memang sudah serius dan mantap buruan halalin, Bapak nggak mau terjadi apa apa di sini Rin, No."


"Dan untukmu No, awas sampai macem macem buruan halalin. Bapak tunggu kabar nya."


"Siap Pak," jawab No kemudian.


"Panggil Husain ada yang ingin Bapak bicarakan."

__ADS_1


__ADS_2