
Setelah istirahat hampir sehari di rumah, sore hari Galang kembali berangkat ke rumah sakit di temani Bapak.
Sepanjang perjalanan Galang menceritakan semuanya tentang Rahael, Bapak yang mendengarnya pun hanya mengeluarkan napas kasarnya. Memandang anak semata wayangnya.
"Bapak bangga padamu Galang," ucap Bapak sembari menepuk pundak Galang berkali-kali.
"Jangan pernah kau sakiti Rahael, jaga dia dengan baik hanya itu pesan Bapak.
Setibanya di rumah sakit Bapak dan Galang segera menuju ruang paviliun. Rahel yang melihat kedatangan Galang tersenyum.
"Seger amat. Senyumnya," ucap Galang sambil menoel hidungnya.
"Ih! Mas kebiasaan."
Galang tersenyum saat melihat duo nenek sedang menimang cucunya.
"Rewel nggak Rahael?" tanya Galang.
"Nggak Mas, alhamdulillah nggak rewel."
"Bagaimana asinya masih belum keluar?" tanya Galang lagi.
"Keluar sedikit," jawab Rahael.
Rahaek meraih tangan Galang dan langsung menarik lehernya, Rahael langsung membisikkan sesuat ke telinga Galang.
"***** Rahael ujungnya sakit, tanya sama ibu di kasih apa! Perih," ucap Rahael pelan.
"Shs ... kok nggak tanya sendiri?" jawab Galang sembari ikut berbisik.
"Malu Mas, ada Bapak!"
"Nah! Tadi kok nggak tanya?" Sengaja jawab Galang sembari berbisik lagi.
Duo nenek yang melihat interaksi kami berdua, langsung tersenyum.
"Masih nifas Galang, tunggu sampai kelar dulu, baru boleh!" celetuk duo Nenek, sementara Kakek yang ada di ujung sofa juga ikut tersenyum.
Rahael yang mendengar ini pun langsung tersipu malu.
"Ibu salah paham ini, Rahael mau ... belum selesai Galang berucap, seketika mulut Galang langsung di bekap Rahael.
Galang terkikik geli melihatnya, tak berapa lama Galang mendapat cubitan dari Rahael denga wajah dongkolnya.
Hari semakin sore, sudah pukul lima.
"Sebaiknya ibu pulang istirahat, besok Rahael dan twins sudah boleh pulang! Tunggu saja di rumah Bu. Besok tak naik grab aja pulangnya, kasihan Bapak bolak balik," ucap Galang.
Mendengar ucapan Galang. Duo Nenek, berdiri sambil bersiap-siap menyerahkan twin pada Galang dan Rahael.
"Lang, memang anakmu ini kau beri nama siapa dari tadi kok twin-twin terus," omel Ibu pada Galang.
Seketika Galang menoleh ke arah Rahael.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Galang pelan.
Rahael yang mendapat tatapan dari Galang langsung tersenyum.
"Rahan dan Rayhan Bu," jawab Rahael.
Sebelum Ibu beranjak pergi, Galang menarik supaya agak menepi.
"Ada apa?" tanya Ibu sembari mengusik kepala Galang.
"Mm ... itu- itu, ***** nya Rahael perih di kasih apa?" tanya Galang pelan.
"Itu belum terbiasa karena lidah bayi masih kasar," ucap Ibu, sembari membisikkan sesuatu pada Galang.
"Biar terbiasa," jawab Ibu.
"Wes ibu bali disik Lang! Rahael hati-hati.
"Rahael ... sembari mencium seluruh wajah anaknya ibu pulang dulu.
Setelah ruangan sepi.
"Apa Mas jawaban Ibu," tanya Rahael menyelidik.
"Nggak tahu, Lah Ibu jawabnya juga aneh," jawab Galang bingung.
"Aneh bagimana?" tanya Rahael .
"Ih! Mas bikin penasaran," protes Rahael.
"Bagimana langsung praktek saja mumpung twins masih bobok," ucap Galang asal.
"Asal jangan aneh-aneh," jawab Rahael.
"Sudah! Nggak jadi takut nanti kamunya marah."
"Lah, memang apa obatnya Mas?" tanya Rahael. Galang hanya diam tak menjawab, hati Galang seketika bimbang menimbang antara ya dan tidak .
"Sudah mandi belum?" tanya Galang mencoba mengalihkan perhatian.
"Tuh perabot udah ganti yang baru belum , ingat pesen Dokter," ucap Galang lagi.
"Ingat harus di lap kering dulu sebelum ganti yang baru."
Merasa suaminya aneh. Rahael berjalan perlahan mendekati.
"Kok tiba-tiba suami Rahael jadi aneh ya?" ucap Rahael sembari memegang kening Galang.
Di tengah-tengah perdebatan kecil terjadi
tiba-tiba twin terbangun.
Rahael langsung duduk di sofa dengan tegak. "Aduh! Siapa dulu yang bangun Mas? Sini Rahael kasih ***** dulu.
__ADS_1
"Mas sini duduk di sebelah Rahael," ucap Rahael sembari memberikan Rahan.
Membuka kancing baju
perlahan mengeluarkan ***** nya memberikan pada Rahan. Semenit dua menit akhirnya.
"Sakit Mas," ucap Rahael dengan isaknya.
"Belum lagi Rayhan," guman Rahael sembari meringis.
Galang hanya menatap sendu.
"Sini! Mas obatin biar sakitnya hilang, sembari Galang mengecup kening Rahael.
"Besok kita tanya Dokter, kalau pakai dot bagimana?"Mendengar ucapan Galang Rahael hanya mengangguk.
"Sabar ya?" ucap Galang sembari mengelus punggung Rahael.
'Beruntung menyusunya belum kuat pikir Galang.'
Tengah malam twins terbangun bersamaan.
keduanya langsung menangis, Rahael yang terbangun tiba-tiba.
"Mungkin pup atau pipis Mas," ucap Rahael dengan kantuknya.
Mendengar ucapan Rahael seketika Galang keadaan Twins. Melihat popoknya kering.
"Haus mungkin Rahael ," jawab Galang.
Rahael langsung duduk bersandar.
"Sini Mas, bawa sini," ucap Rahael sudah sadar dari kantuknya.
"Eleh- eleh, mau *****. Kembali Rahael membuka kancing bajunya dan langsung memberikan pada Twins .
"Rahael, terus twins satunya?" tanya Galang bingung.
"Mas-Mas, mau nolongi pegang?" tanya Rahael.
Rahael memberikan bantal, untuk meletakkan twins satunya. Galang tersenyum saat melihat sesuatu yang baru.
"Rahael. Buah mentegamu makin berisi saja," ucap Galang tanpa malu.
Mendengar ucapan Galang seketika Rahael menunduk.
"Jangan buat Rahael malu."
Galang yang masih fokus menatap Rahael, kini Galang melirik jam di dinging.
"Sudah di lepas itu Rahael nenenya," ucap Galang sembari mengambil twin, kemudian meletakkan di box.
"Ayo bobok lagi Rahael. Besok pagi juga harus beres-beres.
__ADS_1