
Bab 118. Pinangan untuk Ais
Setelah sibuk menyiapkan lamaran Rayhan
kini Rahael menyiapkan lamaran untuk Rahan
berbagai persiapan telah di lakukan.
Setelah menghias hantaran dan yang lainnya
Di pagi hari mereka sudah sibuk perkiraan berangkat pagi kini molor hampir satu jam menunggu Eyang Panji dan keluarga Naya.
"Pak, belum beli kue untuk hantaran, kita beli di sana saja, lagi pula takut basi," ucap Rahael. Mendengar ucapan isterinya Galang hanya mengangguk tanda setuju.
"Tolong di periksa semua hantarannya lengkap cincinya, Pak?" tanya Rahael memastikan.
"Serahkan saja langsung sama Eyang Panji," ujar Rahael.
Setelah semua di rasa beres, akhirnya mereka berangkat, "Bi Nina, apa sudah di kunci pintunya, kompor air dan yang lainnya karena kita sedikit lama di sana," ucap Rahael lagi.
"Twin Ra, Twin Al koper kalian. Ais juga," ujar Rahael mengecek semua keperluan mereka.
Kini para Eyang duduk jadi satu dengan Eyang Panji bersama Rahan dan Ais sedang Rayhan bersama Naya dan Twin Al, Rahael dan Mas Galang bersama hantaran dan koper koper dan bawaan lainnya.
Perjalanan dari kota M menuju kota S cukup lama hampir lima jam lebih berhenti beberapa kali di rumah makan dan pom bensin untuk makan ataupun toilet.
Sudah memasuki kota S hati kami sedikit lega terutama para Eyang dengan membawa keluarga besar akhirnya kami memilih untuk tidur di hotel yang dekat dengan Ruko kami.
Eyang uti dan eyang Rahayu menolak ingin tidur di Ruko saja sedang Bi Nina ikut dengan kami, sementara anak-anak dengan lainnya tidur di Hotel. Setelah semuanya sudah mendapatkan kamar kami menuju Ruko, Eyang Jum dan eyang Rahayu tersenyum saat tiba di Ruko.
"Besar sekali, Rukonya," ujar Eyang Jum, kemudian kami mengajak Eyang Rahayu dan Eyang Jum untuk turun. Suasana Ruko dalam keadaan ramai, para karyawan sedang sibuk.
Rahan langsung mengajak kedua Eyang masuk, berdampingan dengan Galang dan Rahael. Rahan segera memanggil beberapa karyawan untuk membantu mengangkat koper. Senentara Ais langsung menemui Ibunya di meja kasir.
"Assalammualaikum Bu," ucap Ais sembari mencium tangan Ibunya.
"Waalaikumsalam," jawab Rini terkejut.
"Kenapa, tak memberi kabar jika mau datang Ais, telefon dulu kan bisa!" ujar Rini.
"Bapak mana, Bu?" tanya Ais tiba-tiba.
"Bapak di rumah, lagi beberes Nak!"
"Tante," di panggil Ibu," ujarbRahan sembari mencium tangan Tante Rini.
Setelah menyerahkan kasir pada yang lainnya Rini, segera naik keatas. "mana, suamimu Rini?" tanya Galang.
"Ada di rumah Pak lagi beres-beres," jaeab Rini singkat.
"Oh, ya kenalkan ini Eyangnya anak-anak dan Twin Al di hotel dengan yang lainnya."
"Bi, kemari. Kenalkan ini Rini," ujar Rahael.
Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, "aduh Bu, kenapa harus menginap di hotel, di rumah vanyak kamar, meskipun rumah kami sederhana," tutur Rini menjelaskan.
"Sudah. Enggak apa-apa, nanti kami malah merepoti kamu," jawab Rahael.
"Rini besok jam sepuluh pagi kami akan ke rumahmu, maaf kami membawa rombongan yang begitu bsnyak," ujar Rahael.
__ADS_1
"Rahael, tolong panggilan untuk calon besanmu di rubah jangan begitu, Mbak, Dek atau yang lainnya, enggak sopan Rahael," ucap Eyang Rahayu.
Hari ini mereka istirahat untuk tenaga esok hari, menjamu mereka di ruko dengan masakan dua Bibi sementara Rini dan Ais di ijinkan pulang kerumah untuk persiapan esok hari.
Pagi menjelang, masih pagi saat Rahael membangunkan Galang.
"Mas, antar Rahael ke pasar atau kemana begitu, mencari kue buat hantaran," ujar Rahael.
"Pesan online saja Rahael, ini waktunya sudah mepet sekalian minta di hias jadi tinggal beres Rahael," ujar Galang memberi solusi.
"Ya, sudah. Begitu saja, lebih praktis, Mas tolong hubungi yang di hotel suruh siap-siap," ujar Rahael.
Rahael langsung mengoprek hpnya dan beberapa menit kemudian mereka bergegas sarapan.
"Bi, masak apa?" tanya Rahael.
"Ini Bu, tadi sama Bapak di pesankan masak ala prasmanan karena ada tamu," ujar Bi Narmi.
"Kok sudah siap Bi?" tanya Rahel. "Semalam Bapak pesannya Bu, jadi jam segini sudah siap."
"Ibu mau sarapan?" tanya Bi Narmi, Rahael tak menjawab pertanyaan Bi Narmu, tetapi Rahael seperti mencari sesuatu.
"Bapak mana Bi?" tanya Rahael lagi.
"Sepertinya di Toko Bu," ucap Bi Narmi.
Setelah puas mendengar jawaban dari Bi Narmi kini Rahael, memilih untuk dusuk.
"Ayo, Bi kita sarapan setelah itu siap-siap," ujar Rahael.
"Tolong Eyang juga di ajak sarapan juga Bi."
Rahael kini memilih untuk turun ke bawah
"Bibi dulu dan Eyang saya masih nunggu sesuatu
" Kenapa Bi Nina, biasanya enggak seperti ini
Melihat suaminya masih sibuk dengan Rahan
" Loh kok belum siap siap ucap Rahael
" Sebentar ini ngasih tau Rahan dulu ucapnya, ujar Rahael. sembari sibuk dengan gawenya.
" Pak kasihan Rahan biar siap siap ucapku
" Bu....sebenarnya aku gemeter mangkannya aku cari kerjaan supaya gak grogi ucap Rahan
" hhhh ...gitu kok ngeledek adekmu Rahan
" Pak anak-anak mana tanyanya?" tuh di gudang sekalian kita ajak biar bantu No sekalian ucapnya.
Tak lama ada mobil masuk Rayhan, Twin Al orang tua Naya dan Naya serta eyang widia dan eyang panji
" Masuk yang Ucap Rayhan
"Waduh Pak, mereka sudah siap ayo mandi mandi sekalian ajak sarapan dan anak-anak yang di gudang juga ucap Rahael.
setelah semuanya keatas tinggal Rahael yang di bawah di temani Rayhan
__ADS_1
" Nunggu apa bu
Terdengar suara mobil masuk, "nah ini yang di tunggu ibu
" Ray langsung masukkan ke mobil saja dan periksa sesuai notanya , sudah ibu transfer pembayarannya
Setelah di rasa semua pas dan cocok akhirnya Rayhan keatas langsung ikut sarapan
Suasana ramai terdengar gelak twin dan yang lainnya ibu segera bergegas bersiap sementara Rahan juga sudah siap
Coba llihat baju kita sama semua pakai seragam celetuk twin Al
Setelah semua siap , duo bibi juga ikut bu tanya Rahan , ibu hanya mengangguk
" Pak hantaran perhiasannya ada di kamar tolong dibawa sekalian ucap ibu sembari keluar kamar
" Ray....lamaranku tak kalah heboh ternyata semua ikut
" Biar nanti pas hari h aku akan mengajak mereka semua di tambah dua toko kota M
dan anak panti sembari tersenyum
" Masih saja beradu padahal udah pada mau nikah , kini Rahael menjewer telinga keduanya
" ih...ibu kok di jewer ?
" Bapakmu dulu jika keliru eyang kakung selalu menjewer meski sudah punya anak empat
Sontak Rahan dan Rayhan tersenyum
"Maafkan kami bu sembari merangkul ibunya bersamaan
" E.....yang di tunggu kok belum muncul
ucap bapak saat itu
seperti posisi awal berangkat , rumah No yang ternyata cukup jauh dari ruko kami
hingga akhirnya kami melihat No nunggu di pinggir gang masuk
Mengikuti sepedanya menuju rumahnya
Masih suasana pedesaan , rumah dengan bangunan sederhana tapi dengan halaman yang cukup luas
" Ada terop mas , ucap twin Al
Aku langsung melongokkan kepala ku di jendela mobil
" Lho , kok pakai terop bu ucap bapak
" Nggak tau pak mungkin tradisinya seperti ini
Begitu sepeda berhenti kami pun ikut berhenti
Tetangga kanan kiri sudah nampak ikut hadir
Menyalami kami satu persatu , eyang panji dan bu Widia tersenyum melihat pemandangan ini
" Pa...cincinya gak lupa kan ? " ini ma sembari menunjuk sakunya
__ADS_1
Di persilahkan masuk dengan pemilik rumah kami mulai masuk satu persatu
Ruangan di bagi menjadi dua khusus untuk para orang tua dan ruangan yang satu khusus untuk anak anak meski tak di beri sekat