Rahael

Rahael
BAB 77 . MIRIS


__ADS_3

Bab 77. Miris


Melihat kedatangan Galang, Silvi tersenyum sedang Mawan masih tertidur.


Galang mendekat sambil tersenyum, mau Galang telfonkan orang tuamu?" tanya Galang, sesaat Silvi mengeleng menolak.


Melihat reaksi Silvi, Galang akhirnya memilih diam, kini pandangan Galang tertuju pada Mawan, "Mawan sudah melewati masa kritisnya dan tinggal masa pemulihan," tutur Silvi.


Galang kembali menghela napasnya, melihat Mawan yang sedang tak berdaya, hingga tak lama kemudian Galang melihat Mawan mulai menggerakkan tubuhnya meski pelan.


"Maaf!" ujar Mawan tiba-tiba, " kenapa kau meminta maaf Lang. Semua sudah ada yang mengaturnya, enggak apa-apa. Pergilah ke kamarnya," ujar Silvi lirih.


Galang masih menatap Silvi sebelum beranjak dari duduknya, "Lang!" psnggil Silvi tiba-tiba. "Ya!" jawab Galang sembari duduk lagi. "Ajaklah Rahael dan Twin kemari Lang, paling tidak ini untuk Eyangnya biar mereka sedikit terhibur," tutur Silvi lirih.


Galang hanya tersenyum tipis, ada rasa enggan sejenak di hatinya, " Silvi, nanti saja membahas hal ini. Sekarang yang penting kalian sehat dulu!" jawab Galang sembari berdiri. "Ya, sudah. Saya ke depan dulu," pamit Galang sembari melangkah keluar.


Berjalan menuju kamar depan, banyak pertanyaan di benak Galang tentang Silvi, tetapi semua bukan ranah Galang dan biar nanti Rahael saja yang menanyakan semua itu.


Sesampainya di depan Galang melihat Pak Panji dan Bu Widia sudah terbangun dan mulai duduk di ranjang. Melihat Galang datang mereka langsung tersenyum sembari melambaikan tangannya memanggil untuk mendekat.


Ibu dan Bapak yang sedari tadi sudah duduk kini berdiri, "Bapak mau melihat Mawan dan Silvi," ujar Bapak. Ibu mertua akhirnya ikut berdiri dan mengikuti Bapak melihat Mawan dan Silvi.


"Bagaimana Twin Lang? Mereka sehat?" tanya Pak Panji.


Galang langsung mengangguk, "sehat Pak!"

__ADS_1


"Ajaklah mereka kemari Lang," tutur Pak Panji lagi.


Mendengar ucapan Pak Panji Galang semakin trenyuh dalam keadaan seperti ini. Mereka masih mengingat akan cucunya. Galang langsung tersenyum, "Pak. Saat ini yang penting Bapak dan Ibu sehat dulu," tutur Galang. Mendengar ucapan Galang Bu Widia dan Pak Panji langsung tersenyum, "terima kasih Lang, untuk semuanya," tutur Bu Widia sembari mengikis air matanya.


Galang hanya bisa menghela napasnya melihat semuanya, hingga tak lama kemudian terlihat Bapak dan Ibu mertua keluar dari kamar Silvi dan Mawan. Bapak dan Ibu berhenti sebentar mengahampiri kamar Pak panji, "bagaimana dengan barang yang dari polisi Pak?" tanya Ibu mertua.


Mendengar pertanyaan Ibu, terlihat Pak Panji berpikir sejenak, "maaf, merepotkan, tetapi kalau boleh saya nitip dulu." Mendengar ucapan Pak Panji Ibu hanya mengangguk menghiyakan, "Kalau begitu sata pamit dulu Pak, Bu," ujar Ibu mertua sembari menjabat tangan mereka.


Bu Widia masih mengenggam erat tangan Ibu mertua, "Maaf, lusa kami akan pindah dari rumah sakit ini. Bila semua memungkinkan dan bila rujukan yang di urus sama pengacara saya selesai, Lang nanti Bapak kabari," ujar Pak Panji.


Bu Widia yang sedari tadi belum juga melepas tangan Ibu mertua akhirnya menyampaikan maksudnya juga, "Bu. Nanti, jika kami merindukan Twin, bolehkan kami berkunjung?" tanya Bu Widia lirih penuh pengharapan. " Boleh!Boleh Bu, silahkan datang," tutur Ibu mertua memberi pengharapan.


Melihat keadaan yang seperti ini. Galang hanya menunduk sesaat, Gakang merasakan hatinya yang begitu miris ada hal yang membuat Galang hati Galang pedih, 'Ya, Allah. Mereka berangkat dari rumah drngan bahagia, tetapi melihat ini. Allah memang Maha membolak balikkan,' guman hati Mawan.


Begitu memasuki mobil kini Galang yang menyetir, melajukan mobil dengan santai karena sudah pukul tiga sore. Perjakans pulang yang tenang.


Seketika Bapak menoleh, mendengar ucapan Gakang, "memang waktu Bapak dan Ibu kecelakaan apa seperti itu rewelnya Lang?" tanya Bapak terkejut.


"Sama Pak sampai Galang bawa ke Dokter segala, kata Dokter sih enggak apa-apa


cuma gelisah saja," jelas Galang pelan.


Mendengar cerita Galang seketika Bapak tersenyum, "Perasaannya tajam, didik mereka yang baik," tutur Bapak dan di hiyakan oleh Ibu mertua, terlihat drngan jelas jika Ibu mertua sudah lelah karena srjak maduk dalam mobil terlihat beberapa kali menguap dan itu terlihat jelas dari kaca spion.


"Mengantuk, Bu?" tanya Galang.

__ADS_1


"Hiya, Lang. Semalam habis dengarkan Twin rewel, paginya masih sibuk juga," tutur Ibu mertua.


Hampir sejam perjalanan akhirnya kami sampai juga di rumah, begitu memasuki halaman melihat Twin sudah beraktifitas seperti biasanya.


Ada Bi Narmi dan Bi Nina, Galang tak melihat Rahael.


Saat mobil memasuki garasi mereka terdiam


melihat dari jauh, "Galang bilang sama Bibi, anak-anak jangan boleh mendekat."


Mendengar ucapan Ibu mertua, Galang langsung paham. "Bi, tolong bawa anak-anak masuk dulu, biar tidak minta gendong," ujar Galang sedikit keras.


Bibi yang mendengar itu segera mengajak Twin masuk, Galang, Ibu dan Bapak segera keluar mencuci tangan kaki dan wajah dulu setelahnya masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu memasuki kamar aku langsung ke kamar mandi, Galang hanya tersenyum saat melihat Rahael yang tertidur.


Segar itu yang Galang rasakan, saat keluar kamar Galang melihat Rahael belum bangun. Galang bergegas mencari Twin. "Bi. Mana Twin?" tanya Galang.


"Di kamar Pak," jawab Bibi. Galang langsung membuka kamar Twin, sesaat Galang tersenyum saat melihat Rayhan sedang berbicara mengatakan satu kata dua kata.


Sementara Rahan masih sibuk dengan dotnya, Galang berhenti sejenak menatap Rahan dan Rayhan, sehari tak bersama mereka, membuat Galang seperti krhilangan momen-momen indah ini. Hingga beberapa saat kemudian, Galang memanggil mereka.


Rahan dan Rayhan serentak menoleh dan beringsut turun berlomba lebih dulu sampai, tawa Galang seketika terdengar melihat kaki- kaki kecil yang berlari dengan lucu di tambah saat mendrngar suara mereka yang kini semakin jelas memanggil, "bapak- bapak."


Meraih dua anak kembar yang begitu menggemaskan ini kebahagian yang Galang rasakan, "ikut Bapak Yuk!" ajak Galang sembari menggendong Rahan dan Rayhan.


Begitu mereka melihat ku Rahan langsung merosot turun bapak , bapak .

__ADS_1


Rayhan langsung tersenyum dan ikut turun pak , bapak , bapak serasa lomba berlari menjangkau ku .


Inilah kebahagiaan yang ku rasakan


__ADS_2