
BAB 27.Keberangkatan 2
Masih pagi buta bumil satu ini sudah terbangun dan bersiap. "Rahael," panggil Galang saat hendak turun. "Sebentar Mas," Rahael sudah siap," ujar Rahael sembari
membuka pintu dan menarik koper.
Melihat ini Galang langsung bertindak cepat,
"sini biar Mas saja yang bawa, Rahael turun duluan dan ingat pelan-pelan," ujar Galang.
Sampai di bawah, Galang melihat kedua orang tua mereka tengah sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. "Rahael, Galang. Sarapan dulu dan Rahael obat dari Dokter Sumi sudah di bawa kan? Rahael enggak lupa kan? Susu hamil juga sudah di bawa kan?" tanya Bu Rahayu dari dapur.
"Oh. ya, jangan lupa snack yang di atas mrja belakang di bawa juga untuk kalian di mobil," ujar Bu Rahayu lagi.
Galang dan Rahael hanya menatap heran, karena dengan tiba-tiba Bu Rahayu jadi begitu cerewet.
Setelah memasukkan koper dan barang bawaan dari kedua orang tua kami berpamitan.
Pak, bu kami berangkat sambil mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Galang ingat jangan ngebut, ada empat nyawa dalam mobil ini," ujar Ibu khawatir.
"Hiya, Bu," jawab Galang sembari mengangguk.
Membawa bumil dalam perjalanan jauh sangat menegangkan, beberapa waktu berhenti sejenak untuk sekedar sholat dan ke toilet atau hanya istirahat sebentar untuk menghilangkan penat karena lamanya duduk.
Perjalanan yang biasa di tempuh delapan jam kini harus di tempuh hampir dua belas jam. Setelah hampir sampai tujuan, "Mas berhenti sebentar di situ," ujar Rahael sembari menunjuk alun-alun kota, Galang melihat sejenak dan langsung mengangguk setuju. Galang langsung menepikan mobilnya menuju area parkir.
"Enggak capek Rahael?" tanya Galang.
Rahael hanya menggeleng dan melihat ke arah taman. Sesaat bibir Rahael tersenyum.
"Melihat taman di alun-alun Rahael kok jadi pingin kesini," ujar Rahael sembari meraih tangan Galang.
__ADS_1
"Mas. Boleh enggak?" tanya Rahael sembari menatap beberapa pasangan yang berjalan di depannya.
"Mas. boleh kan Rahael minta sesuatu," bisik Rahael lirih.
Galang yang mendengar bisikan Rahael langsung menatap wajah Rahael dan belum sempat Galang menjawab. "Mas, Rahael pingin jalan seperti pasangan yang di depan kita," bisik Rahael pelan.
Mendengar bisikan Rahael, Gakang langsung tersenyum dan semakin mengeratkan tangannya, "begini Rahael?" tanya Galang.
Rahael seketika mengangguk, " kita jalan satu putaran," ujar Galang sembari melangkah perlahan.
Merasa genas drngan tingkah Rahael Galang langsung mengusap kepala Rahael, "ih. Anak Bapak, ngidamnya seperti orang pacaran saja," goda Galang. Seketika Rahael melepas tangannya, "Mas, Galang enggak ikhlas bantu Rahael," ujar Rahael sembari cemberut.
Merasa yang di goda marah, Galang kembali mersih tangan Rahael, "eh, kok di lepas? Mas ikhlas demi bumil yang csntik ini dan untuk isteri kecil Mas Galang," ujar Gslang sembari mengeratkan gengaman tangannya.
Sembari berdebat kecil, tak terasa satu putaran terlewati dengan acara merajuk.
"Rahael, Rahael menginginkan sesuatu?" tanya Galang pelan
"Enggak Mas, ayo pulang," pinta Rahael.
Rahael hanya terdiam dan menatap kosong, mobil yang telah melaju beberapa meter akhirnya Galang memutuskan untuk menepikan mobilnya sesaat.
"Ada, apa?" tanya Galang sembari menatao wajah Rahael.
"Rahael merasa aneh saja Mas, kenapa ngidamnya sama Mas, sementara Rahael ..." seketika Galang membekap bibir Rahael, sebelum Rahael melanjutkan ucapannya.
"Jangan pernah berbicara seperti itu, Mas enggak suka," ujar Galang marah sembari melepas tangannya.
"Tapi, benar kan Mas!" ujar Rahael sembari menatap wajah Galang. Galang langsung menutup bibir Rahael dengsn bibir Galang, Galang mencium Rahael dengan lembut hingga ciuman itu berhenti beberapa saat.
Mendapat ciumanndari Galang yang tiba-tiba Rahael langsung menundukkan wajahnya dalam dan tak berani berbicara lagi.
Galang sadar akan kelakuannya, " maaf, Rahael," hanya itu yang keluar dari bibir Galang dan kini mereka berdua sama-sama terdiam untuk sesaat. Galang hanya tersenyum saat melihat wajah Rahael yang merona, ciuman pertama yang Galang rasakan.
__ADS_1
"Rahael, maaf. satu keinginan Mas, Rahael jangan petnah sekali-kali mengucapkan hal ini lagi, ingat jika Rahael masih terus mengucapkan itu, Mas akan menghukum Rahael dan Mas akan mencium Rahael lagi, ingat itu Rahael," ucap Galang
Cukup lama kami berdiam, hingga bunyi klakson yang mengejutkan kami berdua, menatap wajah Rahael sejenak membuat dada Galang tiba-tiba berdesir hebat, jantung Galang seakan berlomba lari, Galang hanya menghembuskan napasnya, Galang sesekali meraba dadanya yang terus berdebar, hingga Gakang ingin memeriksakan jatungnya agar bisa berdetak normal kembali. Sementara Rahael masih menunduk dengan diamnya.
"Rahael," panggil Galang sembari meraih tangan Rahael yang dingin. " Kita akan sampai, Mas harap Rahael tak terkejut saat tiba di rumah kontrakan Mas," ujar Galang masih memegang tangan Rahael.
Rahael yang terdiam dan menunduk kini sedikit berani mengangkat wajahnya. Hingga mobil Galang berhenti di depan Ruko yang cukup besar. Rahael yang sedari tadi diam akhirnya, mendongak melihat Ruko yang ada di depannya.
"Ayo, kita sudah sampai," ujar Galang sembari melepas tangan Rahael dan keluar dari mobil dan setelah itu Galang mengeluarkan koper Rahael.
Galang sedikit heran saat melihat Rahael yang masih duduk di dalam mobil.
"Rahael, ayo," ajak Galang lagi.
Rahael bergegas keluar dengan tatapan tak percaya, "kok Ruko Mas, katanya rumah kontrakan?" tanya Rahael tak percaya.
"Ayo, masuk. Nanti Mas jelaskan," ujar Galang.
"Rin. No!" panggil Galang saat mendekati pintu Ruko.
Nono yang mendengar panggilan Galang langsung bergegas keluar, "Mas, Galang sudh datang? kenapa Mas Galang tak memberitahu," ujar Nono.
Galang hanya tersenyum sembari meraih tangan Rahael, "No, tolong koper Ibu dan yang lainnya bawa keatas," ujar Galang.
"Siap! Pak Bos," jawab Nono.
"Rahael! Ayo," ajak Galang sembari mengeratkan tangannnya. Tetapi Rahael masih menatap bingung. "Sudah! penasarannya nanti saja sekarang mandi istirahat dulu Rahael," titah Galang.
Sesampainya di atas, " ini kamarnya dan ada kamar mandi juga di dalam, itu dapur dan tempat jemuran di samping Rahael ada. Terus ... "ucapan Galang terhenti saat Rahael melepas tangannya. "Rahael laper Mas," ujar Rahael yang mengejutkan. Galang langsung menghentikan turnya dalam rumah, Galang kemudian duduk. "Hash. kenapa Mas lupa?" tanya Galang sembari mengulir ponselnya.
"Dedeknya belum makan?" pesen online dulu Rahael. Beberapa saat kemudian, Rahael mau makan apa? Rahael mau, nasi angkringan, nasi kucing atau ... "Gudek Mas pinta Rahael tiba-tiba.
Setekah mengulir ponselnya beberapa saat dan menunjukkan tempat yang lainnya.
__ADS_1
"Rahael, Mas. kebawah dulu. sembari menunggu gudegnya datang, Rahael mandi dan terus istirahat," perintah Galang.