
Bab 85. Renungan Rahael
Setelah sebulan pasca melahirkan merupakan hari hari yang berat di mana Twin Ra begitu sangat cemburu dengan Twin Al.
Rahael yang melihat itu merasa sedikit tercubit hatinya , ingin menambah momongan lebih awal ternyata harus serta dengan menyiapkan batin juga.
Memiliki empat anak dengan usia yang tidak begitu jauh jaraknya di mana Twin masih tiga tahun sedang aktif-aktif nya memerlukan banyak perhatian dan belum mengerti akan pengertian.
Mungkin untuk baby Al masih banyak tidur dan hanya memerlukan asi saja hingga kini bi Narmi berganti tugas mengurus Twin Al.
Sedangkan Twin Ra sedikitpun tak ingin aku tinggalkan selalu menguntit di belakangku dan selalu merengek jika aku menggendong
Twin Al.
Kini seisi rumah harus selalu sibuk mengurus anak-anak saat mereka menangis bersamaan lucu memang.
Mas Galang yang melihat hal itu hanya menggaruk kepalanya disamping kesibukannya di Ruko yang semakin padat juga, Mas Galang adalah korban dari kerepotan kami dan menjadi orang yang paling terakhir Rahael perhatikan.
Kasihan itu yang saat ini Rahael rasakan kadang harus pintar-pintar mencuri waktu dan menyiasatinya.
Tawaran dari ibunya Mas Mawan mungkin kadang menggiurkan hati Rahael untuk mengijinkan Twin Ra untuk seminggu sekali tinggal di rumah mereka, untungnya Mas Galang selalu menolaknya.
__ADS_1
Ya mungkin inilah keseruan dan kelucuannya
rumah yang cukup besar di tambah hadirnya dua bidadari kecil lengkap sudah.
Seperti pagi ini saat aku sedang memberi asi Twin Al tiba tiba Rayhan datang dengan tangisnya .
Sesaat Rahael tersenyum, "sini sayang," ucap Rahael.
"Bu, hua ... hua ... hua ...., terdengar tangis Rayhan sangat keras hingga membangukan Al.
Tak berapa lama Rahan juga ikut masuk, "ayo sini duduk!" Rahan Rahael taruh di sisi kanan dan Rayhan di sisi kiri, mereka merangkul kedua lengan Rahael dengan erat.
Melihat Al menangis Rahael langsung menggoyang box Twin Al, tetapi Rahan langsung marah, "enggak boleh Bu. Enggak boleh," rengek Rahan sambil menarik tangan Rahael. Belum juga Rahan berhenti merengek
Seperti ini keramaian untuk beberapa bulan kedepan hingga akhirnya Rahael memutuskan untuk mendaftarkannya sekolah di play grup terdekat mungkin dengan beberapa jam bertemu dengan teman-teman sepantaran membuat mereka lebih bisa untuk bersosialisasi. Mungkin awalnya repot tapi lama kelamaaan semua bisa terkendali.
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat Aalya dan Alia sudah berumur lima tahun sedang kan Rahan dan Rayhan sudah delapan tahun.
Twin Al merupakan perpaduan antara aku dan Mas Galang sedangkan Twin Ra plek ketiplek Mawan tapi bukan masalah bagi Rahael
dan Twin Ra merupakan kebanggan Mas Galang. Kedua orang tua Mawan masih sama dengan adanya Twin Al mereka seakan menemukan sosok anak perempuannya.
__ADS_1
Dan mereka lebih heboh, terkadang ibu dan ibu mertua harus mengalah untuk mereka, tetapi semua itu tak mengurangi senyum Rahael, sekilas terukir saat semua berkumpul.
Serasa anak-anak mendapat begitu rasa kasih sayang yang berlebih dari dua kakek dan tiga neneknya.
Lamunan Rahael sedikit jauh kebelakang
andaikan ayah masih ada mungkin juga akan merasa bahagia juga, Raharel sedikit mengikis air matanya yang sedikit jatuh.
Lamunan Rahael terhenti saat mendengar suara yang begitu Rahael kenal, "kenapa?" tanya Mas Galang. Rahael hanya diam tak menjawab.
"Jangan sering melamun sendiri apalagi sudah hampir magrib begini," ucap Mas Galang.
Rahael hanya tersenyum menatap suaminya, "bukan yang seperti Mas pikirkan, Rahael senang impian menjadi ibu muda saat anak sudah mulai besar-besar."
Sekilas Mas Galang menatap mendengar ucapan Rahael.
"Hm. Bagaimana kalau kita nambah dedek lagi?"
" Enggak. Mas, hidup Rahael sudah lengkap dengan dua jagoan dan dua bidadari, Rahael hanya ingin membesarkan dengan baik-baik saja," ujar Rahael lirih.
Mendengar hal itu Mas Galang menatap dalam, membuyarkan lamunannnya saat adzan magrib berkumandang.
__ADS_1
"Ayo. sholat, nanti takut ada yang lain-lain," sembari ku kecup lembut pipinya.