Rahael

Rahael
Bab 3. Ijin Ibu


__ADS_3

BAB 3. IJIN IBU


Setelah semalam mengirim pesan ke ibunya dan belum mendapat jawaban. Akhirnya, pagi ini Rahael mencoba menelfon ibunya lagi. Sudah tiga kali melakukan panggilan tetapi tak ujung berbalas. Dengan kesal Rahael melemparkan ponsel yang sedari tadi di pegangnya ke atas ranjang dengan sembarangan. Hingga tak terasa sudah hampir tengah hari tapi panggilannya belum juga berbalas.


Rahael memilih ke luar kamar, kemudian berjalan menuju dapur, mencari bibi kesayangannya.


"Bi ... "panggil Rahael sambil membuka tudung saji. Rahael tersenyum saat melihst menu di atas meja. Rahael mengambil tempe goreng kesukaannya.


"Bi Jum!" panggil Rahael sekali lagi dengan mulut penuhnya.


"Eh ... Non Rahael, mau makan siang Non?" tanya Bi Jum sambil menyiapkan piring di atas meja makan.


"Ya Bi, Rahael luaper ... "jawab Rahael.


"Kebetulan Bibi masak sayur sop, tempe goreng, pepes ikan sama sambel kecap, Non mau?"


"Maulah Bi," ucap Rahael sembari mengambil makanan dan mengaturnya di piring.


Rahael dengan mulut penuhnya, "Bi, Ibu kok sulit di hubungi ya? Padahal ada hal penting yang mau Rahael sampaikan."


Mendengar suara Rahael yang tak jelas.


"Kapan makannya Non, kalau cerita terus," tutur Bi Jum dengan duduk di dekatnya.


"Hhhh, hiya Bi," jawab Rahael sembari menyendokkan suap demi suap nasi dan sayur kemulutnya hingga habis.


"Non ... coba telfon lagi nanti selepas magrib," kata Bi Jum mengingatkan.


"Oh. ya Non! Bagimana pengumuman kelulusan, Non pagi tadi?" tanya Bi Jum.


Dengan tersenyum Rahael menjawab, "alhamdulillah Bi, Rahael lulus, sudah enggak sabar Bi, Rahael pingin lekas kuliah di univ. yang Rahael idam-idamkan," celoteh Rahael lagi dengan netra berbinar.

__ADS_1


Melihat Nonanya bahagia Bi Jum seketika tersenyum bahagia mendengar kabar bahagia ini. Bi Jum memandang lekat Nona kecil yang di rawat seperti anaknya sendiri. Sesaat Bi Jum menghela napasnya dalam.


"Kenapa Bi? kenapa melihat Rahael seperti itu?" tanya Rahael kikuk. Rahael merasa jika sedari tadi Bi Jum terus memperhatikan dan itu membuat Rahael bingung dan salah tingkah.


"Nah, sekarang Bi Jum malah senyum-senyum sendiri, apa ada yang salah dengan wajah Rahael Bi?"


"Ah, eggak Non. Bibi merasa senang mendengar Non lulus," alibi Bi jum.


"Jujur Bi ! Ada apa dengan wajah Rahael?" tanya Rahael bingung.


Bi Jum hanya tersenyum menjawab pertanyaan Rahael, "Wajah Non mah, tetep cantik enggak berubah dari dulu! Malah sekarang Non tambah terlihat cantik," ujar Bi Jum sembari menoel dagu Nonanya.


"Bibi ini mesti begitu!" kata Rahael tak terima sembari melangkah kekamar. Melihat tingkah Nona kecilnya Bi Jum kembali tersenyum sembari membereskan piring dan gelas kotor di atas meja.


Setelah memasuki kamar, Rahael langsung merebahkan diri di ranjang dan karena merasa kenyang Rahael terlihat beberapa kali menguap, tak perlu waktu lama Rahael pun tertidur.


Pukul lima sore Rahael baru membuka netranya menggerjap sesaat sembari menggeliatkan tubuh untuk berapa lama dengan malas Rahael memilih duduk sejenak di pinggir ranjang, sembari beberapa kali menguap Rahael mencoba untuk mengumpulkan nyawa yang belum lengkap dan lalu berdiri menuju kamar mandi.


Mengulir kembali nomor ponsel ibunya, sesaat Rahael mengambil napas perlahan dan membuangnya secara kasar. 'Semoga ibu menjawab,' batin Rahael berucap. Hingga beberapa menit kemudian baru terdengar nada sambung dan terdengar suara menjawab.


"Ya. Rahael, cantiknya ibu."


"Ish, ibu! Biasa saja Bu, rupanya Ibu enggak sayang sama Rahael dari pagi Bu, Rahael telfon," ujar Rahael dengan mode merajuk.


"Hhhhh .... terdengar suata tertawa di seberang sana, "ternyata anak Ibu ini ambegan juga, bagimana Rahael, lulus kan? cantiknya Ibu!"


"Lulus lha Bu! Siapa dulu Rahael gitu loh!"


"Selamat ya sayang. Rahael mau hadiah apa dari Ibu hm .... "


"Bu! Rahael enggak minta apa-apa, tetapi ini ada surat edaran yang harus di tandatangani Bu," jawab Rahael sedikit ragu.

__ADS_1


"Coba foto dan kirim ke Ibu surat edaran itu, nanti Ibu telfon Pak Mahmud, oke !"


"Siap Bu !" jawab Rahael dan setelahnya Rahael menutup panggilan ponselnya.


Setelah mengirim foto surat edaran dan menunggu beberapa saat akhirnya Ibu mengirim balasan dan menyetujui, melalui kabar WA yang di terimanya, seketika senyum Rahael terkembang dan ini seperti hadiah kelulusan untuk Rahael.


Dengan senyum merekah Rahael keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah sembari menelfon Silvi.


Hingga beberapa saat panggilan Rahael terhubung.


"Hai Rahael," jawab Silvi, di seberang sana.


"Bagaimana, Rahael di kasih ijin sama Ibu?"


"Di kasih Silvi, tapi janji ya, di sana nanti aku jangan di tinggal !"


"Hiya, Rahael," jawab Silvi.


"Sungguh!" ucap Rahael seperti mencoba meyakinkan.


"Hiya Rahael yang bawel, sudah Silvi tutup, ya!"


"Ok!" ucap Rahael sembari menutup ponsel miliknya.


Setelah menutup ponselnya Rahael sedikit heran saat melihat rumah sepi, Rahael kemudian berjalan ke arah kamar belakang, mencari Bi Jum sembari terus memanggil namanya.


"Bi ... "panggil Rahael sembari berjalan ke kamar belakang. "Bi ... "pangil Rahael lagi.


Rahael sedikit menyerngitkan dahinya saat melihat kamar belakang kosong.


"Kok, kosong Bibi mana ya?" ujar Rahael kini sembari menuju taman belakang.

__ADS_1


__ADS_2