Rahael

Rahael
Bab 88. ada apa Rahan lagi


__ADS_3

Bab 88. Ada apa Rahan lagi


Setelah makan malam para Eyang langsung masuk kamar masing-masing setelah duo Bibi membereskan meja makan dan mencuci bersih semua peralatan makan mereka langsung di suruh istirahat.


Berkumpul di ruang tengah dengan situasi dingin Rahan sedikit menjauh dari Aal


Melihat itu mas Galang langsung membuka suara, "sepertinya ada perang dingin Bu."


Rahael yang mendengar ucapan Mas Galang tersenyum, "sudah Pak! Siapa dulu yang mau melempar bomnya."


Mendengar Ibunya berbicara, "Aal langsung buka suara, "Kak. Aal, minta maaf!"


"Memang ada apa? Berarti Ibu dan Bapak sudah ketinggalan berita ini. Berarti kita butuh piknik Bu," kelakar Mas Galang.


Rahan yang di mintai maaf masih diam.


"Rayhan kamu kakak yang kedua jelasin ada apa !" ujar Galang tak sabar. Al yang sedari tadi diam tiba-tiba Al nyletuk, "biar dosa Bapak sudah tanya baik-baik enggak ada yang jawab, kalau begitu Al yang sebagai adek bontot akan bicara," mendengar ucapan Al, seketika itu ketiganya langsung teriak, "Al ... jangan."


Akhirnya Rahan dengan menunduk menjawab


"Sebenarnya, Aal enggak salah Pak, Rahan saja yang sedikit jengkel jadi ... Rahan tak melanjutkan ucapannya."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo. lekas minta maaf, jangan sampai tiga hari tidak saling menyapa," tutur Galang tegas.


"Aal. Ayo, minta maaf!"


"Tadi kan, sudah Bapak!"


"Di ulang, sambil jabat tangan biar afdol," ucap Bapak dan kau juga Rayhan dan Al selanjutnya bergantian setelah itu masuk ke kamar kalian, kecuali mas Rahan Bapak ingin bincang-bincang," tutur Galang tegas.


Setelah acara maaf maafan ketiganya masuk ke kamar, "apa Ibu boleh ikut Pak?" tanya Rahael.


"Ini urusan antara laki-laki Bu," ujar Galang sambil mengedipkan matanya sebagai isyarat.


Melihat Mas Galang dan Rahan berjalan ke teras belakang, sembari membawa kopinya yang belum habis. Setelah duduk mereka masih berdiam mengambil kopinya dan di minumnya sedikit.


"Memangnya ada apa? Hingga Aal membuatmu jengkel, Nak?" tanya Galang.


"Bapak. Enggak ingin jika ada suatu masalah berlarut-larut, Bapak siap mendengar ceritamu dan Bapak juga enggak ingin, jika Mas Rahan menyembunyikan suatu kebohongan, Bapak juga enggak bakalan marah asal Mas Rahan cerita."


Galang diam beberapa saat menunggu reaksi anaknya. "Pak Rahan minta maaf, jika sudah jahat sama Aal tapi, janji kan Bapak enggak marah. Eee, Rahan, sudah melanggar poin ke tiga Pak," ujar Rahan jujur.


Setelah mengatakan itu, seketika raut wajah Rahan sedikit berubah.

__ADS_1


Galang langsung tertawa, saat mendengar cerita anaknya, "wah ternyata anak Bapak sudah besar, ternyata sudah naksir anak gadis," ujar Galang dan itu membuat Rahan semakin menunduk, "terus bagaimana, ceweknya juga suka?" tanya Galang tiba-tiba.


Rahan langsung menggeleng, "sudah berapa lama Rahan mengejarnya?" tanya Galang lagi.


"Dari kelas satu Pak," jawab Rahan lirih.


Mendengar jawaban Rahan sang Bapak seperti dejavu, serasa cerita Rahan seakan mengulang kisah Rahael.


"Lalu apa yang kau tunggu Nak, jika cewek itu tak ada respon lebih baik tinggalkan jangan menanti hal yang tak pasti."


"Tapi. Pak, Rahan ingin berjuang."


"Sampai kapan?" tanya Galang lagi, kini Rahan hanya diam mendengar pertanyaan Bapaknya.


"Saran Bapak mending tinggal saja Nak, Bapak akan cerita jika Rahan mau mendengarnya," ujar Galang memberi pertimbangan. Rahan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Rahan mungkin lebih baik sakit sedikit dari pada kecewa nantinya. Dulu. Bapak mempunyai teman yang ceritanya hampir mirip dengan Rahan, dia juga mencintai gadis itu, tetapi sayang cintanya bertepuk sebelah tangan hingga teman Bapak nekat melakukan hal yang tak senonoh pada gadis itu.Tetapi meski sudah melakukan hal tak senonoh dan mengetauhi gadis itu hamil, ternyata takdir tak membuat mereka bersatu. Akhirnya, gadis itu menikah dengan laki-laki lain dan kau tahu apa yang terjadi Nak, dia pergi dengan kekecewaan dan cintanya."


Setelah mendengar ini Bapak harap Mas Rahan lebih bijak, usia masih muda


dan ingat satu hal Allah tak akan pernah salah mengirimkan jodoh kita dan jalannya akan lebih mudah dan indah. Pikirkan baik-baik Nak dan jangan salah jalan," ucap Galang lalu berdiri. "Ayo. tidur, sudah larut."

__ADS_1


__ADS_2