
Bab 38. Pagi yang menghebohkan
Setelah perawat pergi, sebaiknya Ibu sama Bapak pulang istirahat di rumah, nanti kalau ada apa-apa Galang beritahu," ucap Galang.
Bu Rahayu, langsung menghiyakan saja usulan Galang. "Mari Bu Jum, Pak! Kita pulang saja istirahat di rumah, jangan kuatir Rahael sekarang sudah ada pawang yang sudah siap siaga," ucap Bu Rahayu.
Sebenarnya banyak hal yang ingin Galang bicarakan bersama Ibu dan mertua Galang, tetapi melihat situasi yang tidak memungkinkan Galang mengurungkan niatnya.
Selepas isya, Rahael sudah mulai resah bolak balik ke kamar mandi.
"Kenapa Rahael?" tanya Galang.
"Enggak tahu Mas. Pipis terus ini. Sampai basah daleman," ucap Rahael tanpa malu.
"Ya, ganti Rahael," jawab Galang.
"Ih ... loh Mas, mau pipis lagi aku, masak
mau berdiri terus di kamar mandi," celetuk Rahael lagi.
"Sini " ajak Galang sembari menuntun tangan Rahael ke kamar mandi.
"Sakit enggak perutnya Rahael ?" tanya Galang penasaran.
"Enggak Mas, mules juga enggak," jawab Rahael memastikan.
"Sudah Mas, capek mau duduk dulu," kata Rahael.
"Masih pingin pipis Rahael?" tanya Galang dan Rahael hanya menggeleng.
"Tidur gih istirahat, besok jalan-jalan," pinta Galang.
Pukul tiga pagi, Galang melihat Rahael sudah mulai meringis kesakitan.
"Mas kok sakit."
__ADS_1
Seketika Galang menekan tombol darurat, tak berapa lama seorang suster datang, membawa peralatan memeriksa Rahael.
Setelah beberapa menit.
"Masih bukaan satu masih lama Pak, buat jalan-jalan dulu dalam kamar, kalau capek berbaring bergantian ke kanan dan ke kiri. "ya Bu," ucap sang suster.
"Saya hubungi Dokter dulu, tiga puluh menit lagi, saya kembali untuk memeriksa lagi.
Sudah pukul empat pagi Rahael semakin merasakan sakit dan semakin sering, Suster yang datang per tiga puluh menit mengatakan masih bukaan tiga.
Melihatnya meringis Galang tak tahan.
"Rahael, operasi saja ya? Seperti rencana awal," ucap Galang.
Rahael masih menggeleng. "Mas ... panggil Rahael saat sakit di perutnya datang, Rahael meremas tangan Galang dengan kuat.
Kini suster datang lagi, memeriksa sesaat.
"Pak, Ibu akan kami pindah keruang bersalin silakan ikuti kami, bukaan hampir lengkap jam menunjukkan pukul lima tiga puluh."
Meskipun orang tua kami belum datang, saat Galang di minta masuk ke ruang bersalin, untuk menemani Rahael.
Melihat keringat membasahi tubuhnya, mengerang perlahan, sembari menahan sakit dan meremas tangan Galang dengan kuat.
Tak berapa lama Dokter datang. "Siap Sus, bukaan lengkap darah normal dan bla bla hanya itu yang tertangkap di telinga Galang saat bersamaan Rahael mendesis sakit.
Setelah semua siap. "Ikuti arahan kami ya Bu!"
"Usahakan saat, sembari memberikan arahan meletakkan tangan Rahael untuk memegang lututnya, usahakan mata terbuka dan posisi dagu menempel di bagian dada, jangan terpejam Bu, usahakan mata melihat kearah perut ya Bu?" ucap suster.
"Usahakan saat mengejan jangan mengeluarkan suara, ya Bu?"
"Ambil napas yang panjang, tahan, ayo Bu mengejan, sekali lagi Bu, ambil napas tahan. ayo Bu, mengejan."
Tak berapa lama terdengar suara bayi menangis, setelah beberapa saat melihat Rahael yang kelelehan.
__ADS_1
"Minum Rahael," ucap Galang.
"Mas ... panggil Rahael dengan wajah lelahnya.
"Masih sakit."
"Dokter teriak Galang memanggil.
"Ayo Bu! Seperti posisi tadi dengan cara yang sama, tarik napas Bu tahan, ayo Bu mengejan."
"Tarik napas tahan, mengejan."
Tak berapa lama terdengar suara tangis bayi untuk yang kedua kalinya, Galang membasuh keringat yang mengucur deras, sesaat Galang mencium seleruh wajah Rahael.
"Terima kasih," ucap Galang.
Melihat dua suster tengah membersihkan anak-anakku dan satu suster membersihkan Rahael.
"Saya jahit dulu, ya pak! Supaya jalannya kembali rapat. Galang hanya tersenyum mendengar seloroh suster perempuan itu.
Tak berselang berapa lama, Pak baju untuk dedeknya?" tanya sang suster.
"Maaf, Sus, saya ambil sebentar.
Beruntung ibu sudah datang, mereka tersenyum bahagia menatap Galang.
"Bu baju dedeknya," mendengar permintaan Galang Ibu segera mengulurkan tas yang berisi perlengkapan dedek bayi.
"Pak! Tolong adzani dulu dedeknya, selamat ya, Pak," ucap Dokter yang menangani Rahael.
Galang kembali masuk untuk mengadzani satu persatu anaknya secara bergantian.
Entalah, melihat dua malaikat kecil di depan Galang, hati Galang seketika meleleh air mata nya tiba-tiba saja turun.
Melihat Rahael yang tengah memeluk dua malaikat kecil yang tampan-tampan.
__ADS_1