Rahael

Rahael
Bab 120. Memaksa


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Eyang Rahayu datang bersama Twin Al.


"Bu, Aal dan Al pulang ke Ruko saja ya?" pinta Twin Al tiba-tiba.


Mendengar itu Rahael tersenyum, "kenapa?" tanya Rahael.


Twin Al hanya cemberut dan tak menjawab pertanyaan Ibunya, "ya sudah biar Kak Rahan nanti yang mengurus Twin, sekarang Kak Rahan yang mengantar Eyang pulang dulu dan sesudahnya kalian sama Kak Rahan ke hotel," ucap Bapak.


Melihat Eyang Jum, sudah duduk di mobil dan dua Bibi di sampingnya, sementara Eyang Rahayu dengan Twin Al serta Ibu, Rahan dan Bapak duduk di depan. Perjalanan dari Alun-alun tak jauh memang, beberapa menit kami pun sudah sampai, Eyang pun sudah turun begitu juga dengan Ibu dan Bapak, Rahan lalu berputar haluan mengantar Twin Al ke hotel membayar semua tagihan untuk kamar Twin sebelum Rahan melajukan mobilnya, Rahan melihat Rayhan datang bersama Naya dan lainnya.


Rahan menarik ke sisi sebentar, "Rayhan, Twin Al ingin tidur di Ruko, tolong di urus yang di sini," ucap Rahan. Rayhan mengangguk tanda setuju dan Rahan segera masuk mobil.


Eyang Panji dan Eyang Widia melihat lalu tersenyum, "kenapa?" tanya Eyang Panji, "enggak ada apa-apa, Eyang. Twin Al kangen Ibu dan pingin tidur di Ruko," jawab Rayhan.


"Hem ...., hanya ini yang keluar dari bibir Eyang Panji.


Sudah larut malam kami pun sibuk di kamar masing-masing dan terlelap karena kesibukan dari pagi hingga malam menjelang.


Pagi sudah datang, tetapi Rahan masih enggan bangun, "mumpung libur," pikir Rayhan.


Sudah pukul sepuluh pagi saat, Rayhan bangun, saat mendengar beberapa kali pintu di ketuk. "Ray!" teriak Naya memanggil.


Begitu Rayhan membuka pintu, "aduh maaf, Rayhan kesiangan Naya, sudah jam berapa Naya?" tanya Rayhan.


Naya hanya tersenyum, "buruan mandi di tunggu papa sama mama," ujar Naya pelan.


Seketika Rayhan menyerngitkan dahinya,


"ada apa?" tanya Rayhan penasaran.


Naya hanya menggeleng tanda tidak tahu, selepas Naya pergi, Rayhan langsung menutup pintu dan bergegas ke kamar mandi berganti baju, Rayhan sedikit termenung berdiri di depan pintu sebelum mengetuk pintu kamar orang tua Naya, secara perlahan, "masuk Rayhan!" terdengar suara dari dalam dan begitu pintu terbuka.


"Ayo masuk-masuk," ucap Om Sentot.


"Terima kasih, Om," ucap Rayhan lagi.


Om Sentot seketika menatap Rayhan lekat dan kemudian, "kenapa? Memanggil Om, seharusnya panggil Papa, sama seperti Naya memanggil. Oh. ya, Rayhan hari ini kami mau chek out, karena Papa ada tugas mendadak, jadi papa pulang dulu! Titip Naya dan antar ke Ruko ya sekalian kami pamit," ucap Papa Sentot.


Rayhan dan Naya sudah keluar lebih dulu sedang orang tua Naya masih di dalam, "loh! Eyang mau kemana?" tanya Rayhan saat melihat Eyang Panji mendorong kopernya.


"Eyang juga mau chek out, Eyang mau tinggal di Ruko saja, lagipula semua pada keluar," ujar Eyang Panji.


Rayhan seketika hanya bisa menggaruk kepalanya, "Eyang, maaf! Bukan begini," ujar Rayhan lirih. Rayhan yang ingin menyampaikan maksudnya terhenti saat melihat Papa Sentot, keluar dari kamar, sembari tersenyum Om Sentot menghampiri Eyang Panji, "maaf, Panji. Kami pulang lebih dulu, ada tugas mendadak," ujar Papa Sentot sembari memeluk Eyang Panji bergantian.


"Titip anakku," Panji ujar Papa Sentot.

__ADS_1


Melihat ini Rayhan langsung, Pa. Eyang, tunggu di mobil dulu, Rayhan akan membereskan srmua tagihannya dulu," ujar Rayhan sembari melangkah dengan bergegas.


Tak berapa lama kami sudah sampai di Ruko, kedatangan kami di sambut hangat dengan kedua orang tua kami dan Eyang.


Permintaan maaf selalu terucap dari bibir orang tua kami dengan sedikit paksaan akhirnya calon mertuaku mau makan siang bersama.


"Kami juga minta maaf, kalau kami pergi mendadak karena tugas," ucap Papa Sentot sebelum pergi.


Eyang Panji hanya tersenyum, "Eyang kita jalan-jalan yuk, sebelum Twin balik ke pondok dengan kak Ais," ujar Twin mengagetkan.


"Terus, kapan balik ke pondok?" tanya Eyang Panji.


"Besok!" jawab Twin singkat.


"Mau kemana?"


"Terserah, Eyang."


"Rayhan, Naya, Rahan mana Ais?" tanya Kakek.


"Kak Ais belum datang, Eyang," ujar Twin Al bersamaan.


"Rahan telpon Ais, suruh datang, kita enggak usah jalan-jalan tetapi kita ke Mall saja belanja," tutur Eyang Panji.


Mendengar itu Rahan langsung menolak


"Hem, kamu enggak ikut enggak apa-apa, tetapi tetap Ais, Eyang jemput paksa! Pilih mana, ikut atau ...."


Mendengar itu Rahan langsung mencebikkan bibirnya dan menggaruk kepalannya.


"Sudah, yang lain siap-siap biar Kak Rahan


jemput kak Ais," ucap Eyang Panji tanpa mau penolakan.


Bapak dan ibu tersenyum, "maafkan mereka pak," ucap Mas Galang.


Saya keatas dulu Pak lihat Ibu," ucap Rahael.


"Toko masih tutup, Galang," ucap Pak Panji tiba-tiba.


"Menunggu keadaan tenang dulu mungkin besok sudah mulai buka Pak," jawab Galang.


Pak Panji kini hanya berdiri menatap Toko sambil sesekali melihat jam, hingga tak berapa lama yang di tunggu datang.


Begitu Rahan memasuki Toko, "Rahan panggil yang lainnya, Eyang Wdia juga," ucap Eyang Panji.

__ADS_1


Melakukan perjalanan dengan ke enam cucunya serasa mempunyai kesenangan sendiri melihat cucu mereka dengan pasangan masing masing kecuali Twin Al dalam hal ini.


Sesekali tersenyum dan itu semua tak luput dari tatapan Bu Widia, mengajak mereka memasuki setiap toko dan membeli beberapa barang itu pasti dan yang paling di takuti saat memasuki toko ekektronik, tetapi untung Eyang tidak masuk tapi beralih ke toko perhiasan. Beberapa menit kemudian Rahan menarik Rayhan, "aduh Rayhan, bagimana ini, pasti Eyang akan dengan sesuka hatinya membelikan mereka perhiasan," guman Rahan.


Mendengar kasak kusuk kami, Eyang Panji langsung menoleh, "eh, kalian kemari!" panggil Eyang Panji.


Begitu kami mendekat, kami melihat Etang Widia sudah memilih beberapa perhiasan untuk Naya, Ais serta Twin Al.


"Nah ini di pakai nanti setelah kalian menikah," ucap Eyang Panji, "wah seneng sekali Eyang melihat, ke empat cucu perempuan Eyang bisa memakai perhiasannya kembaran.


Mendengar ucapan Eyang Panji, serentaj Twin Al berucap, "Eyang ... Ibu dan Bapak sudah membelikan kami."


"Hah! Itu kan, orang tua kalian dari Eyang kan belum, suka-suka Eyanglah," jawab Eyang memaksa.


"Tapi, Eyang ...."


"Sudah-sudah! Jangan ribut malu di liatin penjualnya," ucap Eyang Widia menimpali.


Saat hendak keluar dari toko perhiasan Eyang Panji berdehem, mendengar itu Eyang Widia langsung menoleh, "kenapa cinta Papa belum juga memilih perhiasannya? Papa akan menunggu terus di sini," ucap Eyang Panji dan itu membuat Eyang Widia langsung tersenyum malu, tak lama kami melihat Eyang Widia dan Eyang Panji kembali masuk dalam Toko perhiasan, setelah beberapa saat memilih akhirnya Eyang Widia memikih midel yang sama drngan ke empat cucu perempuan mereka drngan malu Eyang Widia menunjuk perhiasan yang di mau, "sudah! Mama pilih yang ini," ujar Eyang Widia kemudian.


Eyang Panji hanya tersenyum sembari menyerahkan kartu ajaib ke kasir.


"Kalian jalan dulu, biar Eyang Widia di sini,


Rahan langsung masuk restoran," ucap Eyang Panji.


Masing-masing membawa tas belanja dengan aneka macam dan untuk barang berharga mereka masing-masing masuk dalam tas yang mereka bawa.


"Kak, maaf! Bukan ini yang Twin mau,


Twin maunya mengajak ke tempat wisata," ujar Twin dengan rasa bersalahnya.


Rayhan dan Rahan hanya bisa mendengus saja, ternyata ide jalan-jalan akan jadi berbeda dan merepotkan jika itu dengan Eyang Panji.


Akhirnya setelah berbagai macam pertimbangan, kami memilih memasuki restoran cepat saji, tetapi saat memaduki restoran kembali Eyang Panji berdehem, mendengar itu ke enam anak muda ini hanya menunduk dan patuh sekaligus menghentikan langkah mereka.


"Salah masuk anak-anak, lihat. Restoran ada di sebelahnya," ujar Eyang Widia mengingatkan. Sesaat mereka saling pandang, lalu, melihat ke atas. Seketika Eyang Panji dan Eyang Widia tertawa.


"Masuk saja biar kalian yang di poles," ujar Eyang Panji sembari berjalan lebih dulu, senentara kami langsung tertawa, ternyata kami hampir masuk ke salon kecantikan.


"Kalian terlalu lapar rupanya, ayo!" panggil Eyang Panji agar mengikuti langkah mereka.


Setelah memasuki, Restoran kami mengambil tempat duduk masing-masing, kami hanya melihat saja, saat Eyang Widia yang memilihkan menu untuk kami.


Tak berapa lama hidangan sudah memenuhi meja dan melahapnya dengan semangat,

__ADS_1


melihat kami senyum Eyang Panji tak pernah putus dari bibirnya.


__ADS_2