
Bab 112. Hati Rahael 1
Tak terasa perjalanan waktu cepat berlalu
sudah kini sudah hampir setahun anak-anak di kota S kadang mereka yang pulang waktu liburan sekedar melepas rindu mereka.
Hubungan Rahan dan Ais aman-aman saja
sedangkan Rayhan dengan sejuta jurus mautnya akhirnya bisa membuat Naya luluh juga, mereka juga menjalin hubungan dengan serius.
Melihat seperti ini akhirnya Rahael teringat akan amplop yang di berikan Silvi dan Eyang Panji.
"Mas, liburan nanti jemput anak-anak," ucap Rahael saat itu.
Mas Galang hanya melihat raut wajah Rahael sedikit heran, "kok sepertinya serius Rahael, ada apa."
Rahael sesaatembuang napasnya dengan berat, "rasanya Rahael seperti punya beban jika belum menyerahkan amplop itu pada anak-anak, sampai mereka sebesar ini dan akan menuju rumah tangga."
Perkataan Rahael seperti ada benarnya juga pikir Galang, "ya, nanti mereka akan Mas jemput Rahael, sekalian Ais biar kenalan sama Eyang Panji," ucap Galang lagi
"Apa Rini dan Nono, akan memberi ijin Mas?" tanya Rahael.
"Rahael, Kita maksudnya baikdan bukan untuk apa-apa, begini saja setelah Ais dari sini kita antar pulang dan kita minta pada Rini dan Nono sekalian, bagaimana?"
Rahael terdiam sejenak, "nanti kita bicarakan sama Ibu Mas."
Melihat anak-anak tumbuh dan berkembang dengan cepat kadang membuat Rahael sedikit termenung serasa baru kemarin mereka manja-manja dan selalu jail satu dengan lainnya.
Melihat Twin Al tumbuh semakin dewasa membuat Rahael bersyukur, jalan yang di ambil mereka untuk mondok membuat perasaan was-was Rahael dan menginggat kejadian yang Rahael alami lambat laun terkikis perlahan.
Begitu juga dengan Rahan anak paling besar dengan panggilan Kakak meskipun dengan Rayhan hanya selisih sepuluh menit.
Bertemu dengan Ais yang kalem dan agamis sedikit banyak bisa merubah sifatnya yang seratus persen milik Mawan jadi lebih tenang,
Toko yang dalam pengawasannya pun tidak berubah dan mungkin kini lebih maju.
Sama halnya dengan Rayhan yang sibuk dengan kuliahnya mengurus Toko yang ada di sini dan yang membuat Rahael sedikit risau.
Rayhan, yang terlihat kalem ternyata dalam hal pacaran pun juga nomor satu cowok yang terlihat tenang tapi menimbulkan rasa was- was tersendiri bagi Rahael, meskipun Rahael percaya hingga kini mereka aman-aman saja.
__ADS_1
Tak terasa waktu liburan datang juga, masih pagi saat Mas Galang berangkat menjemput mereka, "Rahael mungkin masih besok pagi Mas balik kesini," pamit Mas Galang sebelum berangkat.
Rahael hanya mengangguk, "hati-hati Mas," ujar Rahael saat suaminya memasuki mobil. Namun, suaminya terlihat mengurungkan lagi niatnya untuk berangkat.
"Rahael, ada yang ketinggalan," ujar Mas Galang sembari menarik tubuh Rahael untuk mendekat, Mas Galang dengan tanpa malunya langsung mengecup seluruh wajah Rahael, "biar enggak kangen nanti," ucap sembari memasuki mobil.
"Kebiasaan," ujar Rahael. Melihat mobil mas Galang semakin menjauh dan Rahael kembali masuk dalam rumah.
"Ternyata Bapak itu enggak tahu malu," ucap Rayhan yang tiba-tiba ada di depan Rahael.
"Sudah Rayhan, diam," ucap Rahael sembari memukul lengan Rayhan.
"Rayhan, besok kalau Bapak sudah datang bawa Naya kesini biar kenalan dengan Ais," ucap Ibu.
Mendengar ucapan Ibunya Rayhan langsung tersenyum, "beres Bu, pasti Rayhan ajak kemari," ujar Rayhan sembari meraih tangan Rahael. "Mau kemana?" tanya Rahael.
"Toko Bu, kuliah juga libur, mendengar ucapan Rayhan, Rahael langsung menimpali, "jangan pacaran di Toko Rayhan," tutur Rahael mengingatkan.
Mendengar ucapan sang Ibu, Rayhan langsung terkejut dan mengalihkan pandangan, "nah, ketauhan kan, kalau sering mengajak Naya pacaran di Toko, jangan macam-macam Rayhan, ingat pesan Bapak," ujar Rahael pelan.
Rayhan seketika terdiam dan menunduk, "maaf!" ucap Rayhan lirih.
Rayhan yang mendengar ucapan ibunya kini menggaruk kepala, 'kalau Rayhan yang menikah dulu bisa kalah pamor sama Kak Rahan,' ucap Rayhan dalam hati.
Rayhan bergegas melajukan mobilnya ke Toko, rasa penasaran akan ucapan Ibu, begitu tiba di Toko, akhirnya Rayhan memeriksa cctv Toko. Seketika Rayhan terkejut, ternyata apapun yang terjadi di Toko langsung bisa di lihat oleh Ibu dan Bapak, "mati aku,"umpat Rayhan.
Seketika Rayhan lesu, 'mau taruh mana wajah Rayhan di depan Ibu dan Bapak,' batin Rayhan.
Seharian di toko tidak membuat Rayhan tenang, cukup lama Rayhan terdiam hingga akhirnya Rayhan mengambil kesimpulan untuk dirinya sendiri, "akh! Rayhan juga tak melakukan apa-apa, hanya dalam batas wajar tidak melakukan hal yang aneh-aneh, andaikan Bapak sudah melihatnya pasti sudah marah," ucap Rayhan lirih.
Pagi menjelang setelah semalam Mas Galang sudah menghubungi lewat ponsel bahwa Ais ikut serta ke kota M.
Rayhan yang sedari kemarin berusaha menghindari tatapan Ibunya, Rayhan jufa tak kunjung keluar kamar hingga ketukan ketiga kalinya baru Rayhan membuka pintu kamar.
"Rayhan. Buruan mandi, nanti jam tiga sore, Bapak sudah datang hubungi Naya Rayhan!
sudah mandi Rayhan," sembari Rahael mendorong tubuh Rayhan masuk kamar, "jangan di fikirkan ucapan Ibu kemarin itu hanya sedikit kecemasan orang tua ke anaknya," ujar Ibu kemudian mengusap kepala Rayhan dengan lembut.
"Mandi! Ibu juga minta maaf bila perkataan ibu melukai Rayhan," ujar Ibu sembari memeluk Rayhan.
__ADS_1
"Memangnya seserius apa hubungan Rayhan dengan Naya dan jika kalian sudah mantap beritahu Bapak, Nak! Ibu enggak keberatan jika kalian halalkan dari pada nanti timbul fitnah, meskipun kau tak melakukan apa-apa, Ibu tunggu kabar baiknya Rayhan," ucap Ibu sembari keluar dari kamar.
"Oh.Ya, jangan lupa jemput Naya," ujar Ibu sembari keluar dari kamar.
Mendengar ucapan ibu hatii Rayhan sedikit lega sesaat Rayhan tersenyum, "biar Rayhan lupakan saja taruhan Rayhan dengan Mas Rahan, saat ini ucapan ibu yang paling benar," guman Rayhan lirih.
Menuju kamar mandi dengan sedikit lega mengguyur tubuh dengan air dingin membuat hati Rayhan tenang kembali, Rayhan tersenyum sendiri saat mengingat ucapan Ibu, memang Ibu yang terbaik," guman Rayhan.
Pukul dua tiga puluh menit mobil Bapak sudah di garasi saat, Rayhan datang bersama Naya.
Memasuki rumah sudah terdengar suara Twin Al yang ribut dan Mas Rahan yang hanya
tersenyum melihat keributan itu.
"Assalammualaikum," ujar Rayhan lantang sembari menarik Naya ke ruang tengah,
menyalimi para Eyang serta Ibu dan Bapak.
"Nah, akhirnya yang di tunggu-tunggu sudah datang," ucap Ibu.
Setelah mereka semua berkumpul, Ibu kini yang mengambil kendali, "Naya, Ais, kemari. Naya ini Ais calon Kak Rahan dan Ais ini Naya calon Rayhan, Twin Al, kenalkan ini calon Kakak ipar kalian. Naya, Ais salim pada Eyang," ucap Ibu memberitahu.
"Wah. akhirnya Naya jadian juga dengan Rayhan," goda Rahan. Mendengar godaan Rahan Ibu langsung tak terima, "Kak, jangan di goda adiknya," ujar Ibu sembari ke dapur.
"Naya, sini!" ajak Ais sembari menarik tangan Naya, "Twin, ayo," ajak Ais pada mereka dan menuju dapur.
Melihat kedatangan empat anak perempuan mereka, Rahael langsung tersenyum.
"Eh, anak-anak perempuan Ibu, ayo sini bantu Ibu," ucap Ibu sembari memberikan beberapa makanan ringan untuk di bawa ke depan dan yang lain ikut membantu Ibu di dapur.
Bapak, Rahan dan Rayhan hanya tersenyum
melihat kehebohan mereka di dapur.
"Rumah tambah ramai ya, Pak!"
Bapak langsung merangkul Rahan dan Rayhan, "jaga baik-baik mereka, bisa menemukan wanita baik seperti mereka sangatlah sulit dan ingat jangan pernah membuat hatinya sakit dan terluka jika itu sampai terjadi mereka akan terus mengingatnya meskipun mereka memaafkan," tutur Bapak pelan.
Tak berapa lama mereka sudah ramai di meja makan dengan gelak tawa mereka. Eyang Jum dan eyang Rahayu hanya bisa menggelengkan kepala, makan siang yang sedikit terlambat. Meja makan kini di isi dengan sebelas orang beserta Bi Nani.
__ADS_1