Rahael

Rahael
Bab 29. Semangat Bumil


__ADS_3

BAB 29. Semangat Bumil


Pagi hari, Rahael sudah terbangun, Galang yang terkejut saat mendengar suara benda jatuh langsung bangun dan keluar dari kamar


Galang langsung melanhkah menuju dapur, melihat Rahael yang berusaha meraih sesuatu di laci atas. "Eh ... sudah bangun?" tanya Galang sembari mendekat.


Sembari tersenyum Rahael, menjawab. "Mau bikin teh Mas. Maaf, mas jadi bangun," ujar Rahael sembari menyakan kompor.


Galang melihat sekilas jam di dinding, "masih setengah lima pagi," guman Galang lirih sembari meraih sendok yang jatuh.


"Sini, Mas bantu. Habis ini subuh yuk!" ajak Galang, Rahael hanya mengangguk saja karena tengah menyesap tehnya.


Galang masih menunggu Rahael menyesap tehnya, "Mas, Galang mau?" tawar Rahael.


Galang tanpa ragu dan menyesap teh yang di tawarkan oleh Rahael hingga habis. "Ayo, kita subuhan dulu, nanti kita buat teh lagi," ujar Galang saat melihat Rahael cemberut tak urung Rahael mengikuti langkah suaminya.


Setelah shalat subuh, Rahael untuk pertama kalinya mencium punggung tangan Galang.

__ADS_1


"Mas, boleh enggak, Rahael nanti bantu- bantu di Toko?" tanya Rahael tiba-tiba.


Galang hanya diam, mendengar ucapan Rahael. "Mas ... "panggil Rahael sembari mengguncang tubuh Galang.


"Eh, hati-hati dedeknya Rahael, boleh tapi ... harus dekat Mas, Rahael khusus di bagian kasir saja enggak boleh ikut melayani, janji!"


Mendengar ucapan suaminya Rahael langsung tersenyum, "siap Bos," ujar Rahael dan itu membuat Galang makin gemas.


"Rahael, nanti Bi Narmi datang untuk bersih-bersih dan yang lainnya, nanti Mas kenalkan terus ... belum selesai Galang berbicara, "mas, bantuin Rahael bikin nasi goreng yuk! Rahael lapar Mas," ujar Rahael lirih.


Berkutat di dapur berdua memberi arti sendiri untuk Galang, sesekali Galang mekirik Rahael yang gesit melakukan ini dan itu hingga Galang tersenyum sesaat, Galang menyadari jika kini Rahael telah banyak berubah dan sedikit mandiri, tetapi di mata Galang Rahael tetaplah gadis kecil yang manja.


Galang dan Rahael menyatap sarapan pagi berdua dengan sesekali tersenyum dengan lelucon yang kami ceritakan.


Sudah jam tujuh pagi, Mas galang bergegas turun bersamaan datangnya Bi Narmi. Tak lama dua karyawan Mas Gakang pyn juga Sudah terdengar suaranya.


Mas, Galang kembali naik dengan Bi Narmi mengenalkan Rahael pada Bi Narmi, Rahael menatap Bi Narmi lekat, jelas terlihat wajah keibuan dan sabar. "Saya Rahael, senang berkenalan dengan Bibi," ujar Rahael.

__ADS_1


"Rahael, sudah siap?" tanya Mas Galang.


Rahael hanya tersenyum sembari mengajungkan ibu jarinya dan mengekor langkah suaminya menuruni anak tangga perlahan.


Melihat kami turun, Rin dan No langsung melihat ke arah kami, jelas dari raut wajah mereka jika Rin dan No masih malu mengingat kejadian kemarin.


"Rin, No. Kenaklkan ini isteriku Rahael," ujar Galang sembari tersenyum.


"Rin, tolong kerjasamanya, saat ini isteriku sedang hamil empat bulan tetapi bandel pingin bantu-bantu di Toko," ujar Galang sembari menatap Rahael.


Rini dan Nono segera mengulurkan tangan mereka, Rahael menyambut dengan hangat.


"Rahael, ayo. Ikut Mas ke kasir, ada tempat dufuk panjang dan satu kursi, ingat jika Rahael sudah capek, harus cepat istirahat naik ke atas," cicit Galang sembari menoel hidungnya.


"Ish ... Mas Galang, enggak punya malu," gerutu Rahael sembari duduk.


Pukul sepuluh pagi Toko mulai ramai, pengunjung silih berganti datang dan pergi, Galang masih mengawasi Rahael, senyum Rahael terus terukir di wajahnya. Ada rasa tenang di hati Galang, semoga dengsn suasana baru dan kegiatan ini Rahael bisa melupakan masa lalunya dan trauma yang Rahael alami.

__ADS_1


__ADS_2