Rahael

Rahael
BAB 48 . MERAJUK


__ADS_3

Andaikan jujur dari awal mungkin tak akan seberat ini. Galang sadar terlalu banyak kebohongan yang Galang buat.


Saat ini Rahael hanya berusaha baik-baik saja di depan Galang, memang sejak dulu ia selalu bersikap seperti itu pada Galang.


Sudah seminggu ini Rahael berusaha menghindar dari Galang dan memilih tidur di kamar Twin, jika Galang menyusulnya ikut tidur di kamar Twin. Rahael lekas-lekas berpindah di tengah-tengah Twin.


Benar-benar pusing setahun lebih menikah baru kali ini Rahael merajuk pada Galang.


Meskipun semua urusan dan keperluan Galang masih di siapkan seperti biasanya.


Saat ini Galang masih belum punya cara jitu agar Rahael tidak merajuk, seharian Galang pusing dengan sikap Rahael.


Melihat sudah jam sembilan malam, Galabg berjalan ke kamar Twin, melihat mereka sudah terlelap dengan posisi tak beraturan membuat Galang tersenyum.


Kini Galang melihat sekeliling kamar mencari sosok yang membuat Galang pusing beberapa hari kebelakang.


Galang terkejut saat melihat sosok yang Galang rindukan tengah berdiri menatap keluar jendela dengan isakan-isakan pelan.


Suara langkah kaki yang Galang buat seakan tak membuatnya ber reaksi. Hanya terdengar isakannya, berjalan mendekat dengan perlahan Galang mendekap tubuh Rahael dari belakang, tak ada tolakan dan memang aku ingin menyelesaikan semuanya.


"Maaf," ucap Galang sambil menyandarkan kepala di bahu Rahael.


"Maaf Rahael, jangan buat Mas salah tingkah dengan sikapmu, Mas minta maaf," ucap Galang lagi.


Tak ada jawaban hanya senyuman yang Galang terima dan itu membuat hati Galang semakin sakit.

__ADS_1


"Rahael ... "


"Sudah Mas. Rahael tak akan membuat masalah ini menjadi besar. Rahael, juga minta maaf," ucap Rahael dan setelahnya berusaha menghindar.


Semakin erat Galang memeluk tubuh Rahael. "Maaf kalau Mas nggak cerita selama ini. Mas sadar, Mas salah."


Rahael kemudian berbalik dan menatap Galang dalam. "Rahael sudah siap Mas, kapan pun Mas cerita, maaf kan Rahael jika Rahael tak pernah bertanya. Namun, jujur Mas. Rahael ingin Mas yang cerita sendiri bukan karena Rahael yang korek-korek atau tahu dari orang lain. Maaf jika sikap Rahael di minggu akhir-akhir ini," ucap Rahael tersekat dan setelahnya Rahael tertunduk diam.


Galang merasa semakin bersalah. kembali Galang mendekap erat tubuhnya.


"Rahael, mungkin kita bicara di kamar kita saja, kasian Twin," ucap Galang sambil mengayunkan kakinya menuju kamar kami.


Duduk di sandaran ranjang berdua menatap lurus kedepan.


"Rahael mau cerita Mas dari mana dulu atau yang kemarin dulu," ucap Galang dan itu membuat Rahael menatap sejenak.


Galang memulai cerita, setelah Rahael mengalami pendarahan, dengan rinci hingga perjanjian Galang dengan Mawan dan yang terakhir tentang datangnya orang tua Mawan.


Rahael diam menatap Galang.


"Terima kasih Mas mau jujur pada Rahael, maaf Rahael juga sudah membuat Mas Galang repot lagi."


"Mas. Boleh nggak Rahael bersifat egois saat ini?" tanyanya tiba-tiba.


"Boleh nggak Rahael ingin memilik Twin hanya berdua dengan Mas, memang Rahael belum bisa memaafkan Mawan dan terus terang Rahael masih sakit hati Mas," ucap Rahael pelan. Kini isaknya mulai terdengar.

__ADS_1


"Rahael sakit Mas, Mawan yang dengan begitu teganya menghancurkan dan merusak impian-impian Rahael. Apa salah Rahael padanya, apa menolak rasa sukanya itu salah! Masih teringat bagaimana dulu dia menggagahi Rahael, memberikan luka di hati Rahael, Mawan meninggalkan dan mencampakkan Rahael Mas," ucap Rahael dengan isakannya.


Berhenti sejenak untuk, menyeka air matanya.


membuang napasnya agar lebih longgar, menghilangkan sesak di dadanya, terlihat jelas Rahael berusaha untuk kuat.


"Kemana dia dulu Mas, saat Rahael mencarinya, meminta pertanggung jawabannya, kemana dia Mas? Menghilang begitu saja dan meninggalkan rasa trauma dan sakit hati pada Rahael."


Rahael tergugu di hadapan Galang sembari terus memukul dadanya pelan.


"Mas, setiap malam Rahael terus mengigau, menangis dalam putus asa, hanya Ibu Jum yang tahu bagaimana penderitaan Rahael, Rahael sakit Mas ... "


"Mas melihat kenyataan begini sungguh aku sangat terpukul Mas, mungkin sebaiknya dulu Rahael tak mendengarkan, biar Rahael buang saja mereka."


Mendengar ucapan Rahael seperti seketika Galang membekap mulut Rahael.


"Dosa Rahael, jangan berbicara seperti itu," ucap Galang.


Kembali Galang merengkuh tubuhnya, membiarkan Rahael menangis dalam rengkuhan Galang.


Galang membiarkan Rahael menangis semalaman membiarkan dia menangis meluapkan segala amarahnya yang di pendam selama ini.


Rahael, menyimpannya dalam waktu yang lama cerita usang ini dan di biarkan memendam sendiri. Mencoba kuat dan bertahan, ternyata masih ada luka yang belum sembuh.


Galang tertunduk lemas memandang wajah Rahael yang kini tengah terlelap dalam rengkuhan Galang dengan mata sembabnya.

__ADS_1


Mulai mencoba untuk memejamkan mata dan memang semuanya belum benar-benar selesai masih ada hal lain yang harus di bahas.


__ADS_2