Rahael

Rahael
Bab 12. Pengakuan


__ADS_3

BAB 12. PENGAKUAN


Rahael lama terdiam, setelah mendengar ucapan sang Ibu masih dengan ragunya dan tatapan matanya yang kosong, "Bu! Rahael takut dan malu, Rahael juga enggak tahu harus memulai cerita Rahael dari mana, ini juga bukan kemauan Rahael Bu," ujar Rahael tercekat.


"Di sini Rahael korban Bu," tutur Rahael sembari menghela napas panjangnya dan menunduk, "Bu, Rahael hamil," ucap Rahael pelan.


Mendengar kejujuran anaknya Bu Rahayu seakan di sengat listrik tegangan tinggi, seketika Bu Rahayu menatap Rahael dengan tak percaya.


"A- apa! Apa Ibu enggak salah dengar Nak? Rahael ! Jangan bercanda," pekik Bu Rahayu tertahan. "Enggak Bu. Rahael enggak bercanda," jawab Rahael cepat.


"Maaf kan Rahael Bu," ucap Rahael lagi.


Mendengar kejujuran Rahael Bu Rahayu


seketika merangkul Rahael dengan erat dan tak tahu harus berkata apa dan dengan sekuat hatinya Bu Rahayu mencoba untuk menahan tangisnya.

__ADS_1


"Siapa Nak? Siapa- siapa yang tega melakukan pada Rahael, siapa?" tanya Bu Rahayu memburu.


"Maafkan Rahael Bu, Rahael juga enggak tahu siapa Bu, Rahael hanya menemukan ini," ujar Rahael sembari menyerahkan kertas yang di dapat dari hotel.


Setelah menerima secarik kertas yang di berikan Rahael, Bu Rahayu langsung membacanya, kemudian menatap ke arah Rahael.


"Cerita Rahael, kenapa bisa begini? Ibu minta Rahael cerita Nak!"


Tak menunggu lama dengan menunduk Rahael langsung bercerita sembari memainkan ke dua jari tangannya.


Mendengar ucapan Ibunya Rahael hanya menggeleng dengan tangisnya. "Bu! Setelah tiga hari dari kejadian itu Rahael sudah mencarinya, ternyata dia sudah pergi Bu, rumahnya kosong," jelas Rahael lirih.


Kini tangisnya semakin keras dengan isakan isakan, "Rahael takut Bu, saat ini Rahael hamil Bu," ucap Rahael pelan.


Tidak ada kata-kata yang Bu Rahayu ucapkan,

__ADS_1


di peluknya Rahael dengan erat, menangis itulah yang di lakukan. "Ya, saat ini dua wanita berbeda generasi tengah menangis, meratapi apa yang terjadi.


"Sssst ... sudah jangan menangis lagi, mari kita pecahkan masalah ini sama-sama sayang dan kita cari jalan keluarnya. Ibu tak akan marah, marah sekalipun juga tak akan membuat semuanya kembali seperti semula. Sekarang Rahael harus siap, kuat dan jangan pernah membenci ya, sayang? Apalagi saat ini ada sesuatu di sini," ucap sang Ibu sembari memegang perut anaknya.


"Maafkan Rahael Bu .... "


"Sekarang istirahat sayang, ingat kata Ibu


dan enggak boleh nangis lagi. Besok Rahael Ibu ajak ke Dokter untuk memastikan? Ibu tidak mau ada penolakan ingat itu. Ibu ke kamar dulu sayang," ujar Bu Rahayu sembari mencium seluruh wajah anaknya.


Begitu keluar dari kamar anaknya Bu Rahayu bagaikan di hempas dari ketinggian seribu kaki tubuh Bu Rahayu limbung , langkahnya goyah, air mata yang berusaha di tahannya sedari tadi kini luruh sudah, "YA ALLAH, hamba mohon kuatkan hambamu ini," hanya itu yang terdengar dari bibir Bu Rahayu.


Memasuki kamar Bu Rahayu seketika merebahkan tubuhnya, isakan-isakan tangisnya kian menjadi, bergelut dengan hatinya dan tak pernah menduga jika semuanya akan terjadi seperti ini. Setelah puas menangis Bu Rahayu mulai menata hatinya untuk tenang.


"Ya, bagaimana pun juga aku harus mencari anak itu tekad Bu Rahayu."

__ADS_1


__ADS_2