Rahael

Rahael
Bab 43. Bancaan


__ADS_3

Bab 43. Bancaan


Tak terasa begitu banyak hal yang harus di lakukan, kehadiran Twin menambah daftar yang tidak bisa di tangguhkan, semua harus berjalan beriringan.


Sudah empat puluh hari sejak kelahiran twins. Rencana aqiqoh yang di susun sejak satu minggu yang lalu akhirnya bisa terlaksana hari ini.


Menyesuaikan jadwal kedua orang tua kami terlebih ibu mertua dengan segala kesibukannya.


"Mas, bagaimana semua siap?" tanya Rahael.


Galang hanya mengangguk menghiyakan.


Mengundang tetangga kanan dan kiri karyawan toko dan setelahnya akan di kirim ke panti asuhan.


Suasana rumah sekarang sedikit ramai.


Acara di laksanakan pukul sepuluh pagi sengaja memang, menjaga Twins bila sewaktu-waktu rewel, mengundang Ustad yang biasa berceramah di kampung kami.


Acara di buka dengan bacaan ayat suci


al qur'an dan tausiah serta terakhir mencukur rambut ke dua anak Twins kami yang nantinya akan kami timbang dan akan kami hargai sesuai dengan harga perak atau emas dan dengan jumlah sesuai timbangan itu dan uangnya akan kami sumbangkan ke panti.


Acara terakhir mencicipi jamuan yang telah kami persiapkan. Selesai dengan perjamuan para tetangga berpamitan sembari mendoakan putra Twins kami.


"Semoga Allah memberikan berkah pada anakmu, engkau bersyukur pada Allah yang memberikan anak dan anakmu sampai usia dewasa engkau mendapat baktinya. Amin ... "


Satu persatu para tetangga telah pergi.

__ADS_1


Kini rumah kembali sepi seperti hari-hari biasa. Melihat jam sudah pukul satu siang.


"Rin ... panggil yang lainnya untuk istirahat dan makan siang dulu pinta Galang.


"Ya, Pak," jawab Rin.


Hendak bergegas naik ke atas, ponsel Galang berdering. Melihat notif dari Mawan.


"Terima kasih Mas kiriman videonya."


Galang hanya tersenyum, kembali memasukkan ponselnya ke kantong celana.


"No! Setelah istirahat tolong bantu Bi Narmi beberes," siap ucap mereka bebarengan.


Bergegas keatas melihat kedua orang tua


"Rahael mana Bu?" tanya Galang pelan.


"Lagi di dapur sama Bi Narmi Lang," mendengar jawaban Ibu, Galang hanya mengangguk.


Segera menyusul Rahael di dapur.


"Bagimana sudah siap?"


Rahael langsung mengangguk.


"Kalau begitu aku akan ngabari Ibu dan Bapak untuk sia-siap."

__ADS_1


"Bi, tolong siapkan biar di masukkan anak anak ke mobil pinta Galang."


"Rahael, ganti baju gih! Ayo kita nganter uangnya sekalian," ucap Mas Galang.


"Ya. Sudah tunggu sebentar Mas."


Tak berapa lama Rahael sudah berganti pakaian Twins sudah siap begitu juga dengan kedua orang tua Galang dan Bu Rahayu.


"Bi, kami akan pergi sebentar, tolong di beresin ya?" pesan Galang.


"Bi, terus untuk makanan yang tersisa di kotak bagikan saja pada anak-anak di bawah jangan lupa Bibi juga harus bawa," ucap Rahael lagi.


"Bu, untuk yang di rumah?" tanya Bi Narmi.


"Biar. Bapak nanti pesan sendiri Bi. Itu memang di pesan untuk aqiqoh," jawab Rahael lagi.


"Siap Bu," jawab Bi Narmi.


Setelah berpesan pada Bi Narmi kami pun segera berangkat ke panti asuhan yang cukup dekat di kota ini.


Tak butuh berapa lama Twins yang berada di gendongan dua neneknya, terlihat adem ayem nggak ada acara rewel mungkin hanya geliatan kecil, setibanya di panti kami di sambut hangat oleh pengurus panti.


Begitu banyak doa kebaikan yang kami terima, ucapan terima kasih tak pernah lepas dari bibir kami dan senyum Rahael yang tak pernah hilang, setelahnya kami pun mohon pamit pada pemilik panti.


Percakapan-percakapan kecil, Galang dengar saat melajuukan mobil saat kembali pulang.


Bapak yang berada di depan duduk dengan Galang hanya tersenyum simpul, merasa semuanya sudah lengkap dan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2