
Bab 129. Mpnya Rahan
Setelah ijab selesai acara di lanjutkan dengan resepsi sekalian, sedari pagi tamu berdatangan dari tetangga terdekat maupun sanak saudara, berkali-kali Rahan melirik Ais.
Tampak cantik dan anggun, Rahan terkejut saat tiba-tiba Ais merangkul tangan Rahan.
"Jangan jauh-jauh, Ais enggak rela kalau Mas Rahan deket sama cewek lain," ujar Ais sembari cemberut.
Rahan tersenyum, setelah halal Ais lebih suka berkata terus terang tak segan-segan Ais mengandeng tangan Rahan, mendapat perlakuan seperti ini seketika keringat Rahan tiba-tiba membasahi tubuh dan dada Rahan kembali berdesir hangat.
Rayhan yang tiba-tiba muncul membuat Rahan sedikit lega.
"Jangan di pantengin terus, sudah enggak bisa lari kak. Sudah panten jadi milik Kakak," ujar ucap Rayhan menggoda.
Twin Al yang di belakang Rayhan tiba-tiba berlari memeluk, "kakak," ucap mereka serentak.
Eyang Panji dan Eyang Widia yang sejak tadi menemani Rahan kini memilih duduk.
Rahan seketika terdiam, tiba-tiba teringat ibu, "Rayhan sudah kau kirim videonya?" tanya Rahan.
Rayhan hanya mengangkat jempolnya tanda beres.
"Eyang Rahayu tak henti hentinya tersenyum menatap Rahan dan Ais, melihat ke arah kami dengan sesekali mengikis air matanya.
"Ais. Kapan selesainya ini?" tanya Rahan sembari melihat jam, sudah pukul tiga sore , kami istirahat sejenak untuk shalat dan makan.
Kedua mertua Rahan yang sedari tadi tebar senyum menerima tamu kini sudah menghilang, akhirnya Rahan menarik Ais masuk saat sudah pukul lima sore.
Rahan segera mengganti bajunya karena sudah gerah sedari pagi.
Rahan segera ke kamar mandi melihat Ais masih duduk, "Mas mandi dulu," ujar Rahan, tetapi tatapannya tertuju pada Ais yang sedang melepas hijabnya, "mau di bantu?" tanya Rahan tiba-tiba.
Melihat Ais tersenyum, Rahan langsung duduk di depanya, "Apa yang pingin di bantu?"
Ais langsung berdiri dan berbalik, "Mas, Rahan, resleting Ais nyangkut tolong!" pinta Ais pelan.
Seperti mendapat godaan menjelang magrib pikir Rahan, setelah resletingnya dapat terbuka Rahan langsung menatap pemandangan punggung yang bersih. Seketika Rahan menelan ludahnya, untuk menahan hasrat yang sudah menggoda.
"Mas mandi dulu, sebentar lagi magrib," ucap Rahan, hanya anggukan yang Rahan terima. Tak berapa lama Rahan keluar dari kamar mandi Ais sudah berganti baju dan kini sudah menguncir rambutnya.
Seketika Rahan menatapnya tanpa bergeming
merasa Rahan menatap cukup lama, wajah Ais langsung bersemu merah.
"Mandi, langsung shalat magrib dan sekalian nunggu isya," ujar Galang. Ais mengangguk dan langsung menuju kamar mandi.
__ADS_1
Hati Rahan sedikit lega, karena sedari pagi darah Rahan sudah bergejolak, kini Rahan semakin lega saat mendapatkan istriku sudah berani menujukkan aurotnya di hadapan suaminya. Mandi adalah alasan Rahan untuk menghindari Ais sesaat. Rahan mendinginkan kepalanya dengan mandi agar hasrat di hatinya yang sudah di ubun-ubun segera turun dan saat Rahan melihat Ais keluar dari kamar mandi dengan melepas hijabnya.
Melihat siluet tubuhnya dan rambutnya yang hitam subahu, meski diikat membuatku darahku kembali berdesir hebat
Kuputuskan menyuruhnya mandi,
Tak ingin melihat kenikmatan lainnya dari keindahan milik istriku, Rahan memutuskan untuk shalat dua rakaat dulu sebelum shalat magrib benar dugaanku kini dia keluar dari kamar mandi dengan menggerai rambutnya.
Tanpa sadar mulutku mengucap kata sanjung untuknya, "Subhanallah," itu yang keluar dari mulutku mendengar hal itu Ais langsung menunduk dan mengambil mukenanya.
Shalat berdua untuk pertama kalinya membuatku sedikit terharu apalagi setelah salam Ais langsung meraih tanganku untuk di ciumnya , kembali hatiku berdesir hebat
Menunggu hingga shalat isya tiba aku dan Ais berbincang seadanya hingga terdengar pintu di ketuk
Seketika Ais berlari menahan tanganku
"Jangan buka dulu Mas, Ais pakai hijab dulu," ujar Ais memgingatkan. Rahan menunggu hingga Ais selesai merapikan hijabnya.
"Sudah," kata Ais dan itu membuat Rahan tersenyum tak tahan juga akhirnya Rahan mengecup keningn Ais.
Berjalan ke arah pintu, begitu pintu terbuka Rahan melihat Twin Al, tanpa permisi langsung menerobos masuk," Kak Ais, Twin boleh kan menginap di sini?" tanya Twin tampa malu.
Rahan yang mendengar ucapan Twin langsung melotot, hingga tak lama Rayhan juga ikut masuk, "Naya, ayo," ajak Rayhan.
"Kakak mau shalat isya dulu," ucap Rahan.
Twin Al, yang di suruh keluar malah mengeluarkan mukena dan sajadahnya.
"Ayo, jamaah Kak," ujar mereka dan langsung menggelar sajadah.
Rahan hanya bisa menggaruk kepala, akhirnya Rahan tersenyum dan sadar keadaan ini, mereka sedang mengerjaiku.
Rahan sedikit beruntung dengan datangnya Twin Al dan Rayhan kembali Rahan bisa meredakan hasrat yang sudah membuncah.
Selepas shalat isya, kami di panggil untuk makan malam, aku menjawil Rayhan.
"Mana, Eyang?" tanya Rahan.
"Sudah pulang," jawab Rayhan enteng, "terus kalian?"
"Menginaplah," jawab Rayhan enteng.
Rahan kembali menikmati makannya setelah mendengar jawaban Rayhan.
Tak berapa lama setelah kami makan mereka masih mengikutiku ke kamar, Ais yang dari tadi melirikku kini tersenyum.
__ADS_1
Rahan hanya menatapnya sembari menaikkan alisnya, melihat Ais tambah tersenyum lebar. Saat Rahan sedang asyik menatap Ais.
"Kak," panggil Twin dan seketika Rahan menoleh, Twin langsung memeluk dengan erat, "selamat ya," ucap Twin sembari menyerahkan sesuatu pada Rahan. Rahan kemudian menatapnya dengan tanya.
"Hem!"
"Kado dari kami," ucapnya lagi.
Rayhan yang langsung memeluk juga menyerahkan sesuatu padaku sembari tersenyum, "simpan ini pasti berguna," ucapnya sembari berlalu.
"Naya, Twin ayo pamit, jangan ganggu pengatinya," ucap Rayhan.
Rahan melirik Ais sudah merah wajahnya, begitu mereka keluar Rahan langsung mrngunci pintu kamar sudah hampir pukul delapan malam.
"Mas mandi, gerah," ucap Rahan.
Menggunakan air hangat supaya tak kedinginan, begitu melihatku keluar Ais langsung masuk kamar mandi juga. Tak butuh lama bagi Ais untuk mandi
"Ais shalat sunah yuk, dua rakaat," ucap Rahan memberi tanda. Rahan langsung mendapat anggukan dari Ais dan itu membuat Rahan mengartikan tanda setuju.
"Bolehkan?" tanya Rahan.
kini Ais tersenyum, aku langsung memberi salam pada istriku dan mengulurkan tanganku dan berdoa untuknya.
Entalah masih melakukan itu saja aku sudah panas dingin melipat sajadah begitu juga dengan Ais. Sama-sama menuju ranjang, berbaring saling bersisihan melihat Ais sedikit berkeringat padahal sudah mandi pikir Rahan.
Rahan sedikit mendekat, "Ais panggil Rahan dan mengubah posisiku menghadap ke arahnya.
Ais langsung tersenyum tapi kini wajahnya sudah merona, Rahan memandang wajah Ais, Rahan sedikit mendekat lagi hanya napas kami yang saling berhembus saling menerpa wajah kami masing-masing. Rahan yang sedari tadi siang sudah menahan hasratnya kini tak dapat Rahan tahan lagi, meraih tubuhnya agar semakin dekat, begini dulu pikir Rahan, sembari mengusap wajahnya secara perlahan, mencium keningnya matanya dan turun lagi.
"Sebentar Mas, kemudian Ais membisikkan sesuatu pada Rahan dan Rahan hanya tersenyum saja. Melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi dengan lembut Rahan mulai melancarkan aksinya, merasakan tubuh Ais sudah bergetar karena sentuhan Rahan.
"Ais," panggil Rahan dengan suara serak, kini Ais menatap, "boleh Mas lanjutkan?" tanya Rahan pelan. Ais kembali mengangguk, Rahan masih menyentuhnya belum yang lainnya.
Bibir Rahan mulai menyatu dengan bibir Ais satu kecupan Rahan berikan, kembali Rahan merasakan tubuh Ais yang masih bergetar, sesaat Rahan ragu untuk melanjutkannya.
Rahan berhenti sejenak tiba-tiba Ais menatap,
"Ais ikhlas, Mas. Lakukan," ucap Ais lirih.
Mendapat lampu hijau Rahan langsung memberikan serangan, mulai mencium bibirnya pelan dan semakin menuntut walau Rahan sadar Ais belum bisa membalas ciuman Rahan, tangan Rahan yang sudah menjamah semua anggota tubuhnya hingga Ais menghentikannku saat aku akan melakukan serangan terakhir.
"Mas," panggil Ais dengan suaranya yang mulai berat, "matikan lampunya, kok Ais jadi malu," ucap Ais pelan.
Seketika Rahan merangkak turun untuk mematikan lampu dan ...."
__ADS_1