Rahael

Rahael
Bab 37. Janji laki- laki


__ADS_3

Bab 37. Janji laki-laki


Duduk di sebelah Mawan, Galang memandang lekat .


"Bagaimana, apa kau sudah berubah pikiran?" tanya Galang.


Mawan hanya tersenyum kepada Galang.


"Sepertinya aku harus mengalah pada yang lebih tua," jawab Mawan pelan.


Mawan kembali menunduk menatap rerumputan.


"Maaf, aku tak tahu harus berbuat apa saat ini karena Rahael pun sudah menikah tak mungkin aku merebutnya, benar kata Mas, aku sudah kalah."


"Tapi aku mohon, biarkan aku menemui Rahael untuk meminta maaf."


"Bagaimana dengan anak-anak ku? Bagaimana pun juga aku harus bertangung jawab."


Mereka berdua hanya saling menatap. "Wan berjanjilah padaku sebagai seorang pria dewasa."


"Kau tak akan pernah mengusik Rahael dan anak-anaknya, aku akan menjaga mereka untukmu dan ingat buktikan bahwa kau pria yang bertanggung jawab, kelak jika mereka mengetauhi siapa kamu, aku ingin mereka bangga padamu."


"Kejar impianmu dan wujudkan keinginan orang tuamu, aku akan selalu memberi kabar jika itu tentang anakmu."


"Aku tak melarang kau memberi tahu orang tua mu tapi tunggu hingga Rahael siap, kau mau berjanji untukku sebagai laki-laki. Bagaimanapun juga aku menyembunyikan atau menolaknya toh mereka darah dagingmu ."


"Untuk saat ini, aku berharap jangan menemui Rahael, aku suaminya tidak mengijinkan dan hanya tinggal beberapa hari Rahael akan melahirkan."

__ADS_1


Mendengar ucapan Galang, Mawan hanya menatap, kemudian Mawan tersenyum dan tak lama Mawan mengulurkan tangannya.


Kini keduanya sudah, saling berjabat tangan. "Aku berjanji dan hatiku tenang, karena Rahael enggak salah memilih Mas menjadi suaminya," ucap Mawan sembari berdiri dan merangkul Galang.


"Maaf itu yang terucap akhirnya."


Tak berapa lama hp Galang berdering.


"Maaf, aku harus segera pergi."


"Mas, terima kasih untuk mereka."


Mendadak Galang berbalik.


"Apa kau bilang mereka?"


"Ingat itu," ucap Galang sembari menjitak kepala Mawan.


"Ingat nanti kalau sudah dapat pacar lagi jangan langsung di trombol, halalin dulu."


"Mungkin sebaiknya kau harus nikah dulu dan punya anak jika mau bertemu dengan anak anakmu nanti," ucap Galang seenaknya sambil berlalu pergi.


Masih melangkah di area paviliun, hp Galang kembali berdering.


"Terima kasih." itu yang tertulis di pesan Wa.


Galang hanya tersenyum. "Mungkin ini yang terbaik," ucap Galang."

__ADS_1


Kembali memasuki kamar Rahael, Galang melihat ibu tengah berbincang dengan Rahael dan Bapak tersenyum melihatnya.


Melihat Galang masuk. "Dari mana Lang?" sapa Bu Rahayu.


"Maaf, Bu ada sesuatu yang harus di urus," ucap Galang sembari mencium punggung ketiga orang tua ku satu persatu dan memilih duduk di samping Bapak.


"Capek Lang ?" tanya Bapak. Mendengar ucapan Bapak ke dua ibuku langsung menoleh, Rahael yang duduk di atas kasur langsung melihat Galang juga.


"Sedikit Pak," ucap Galang kini beralih merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


"Istirahat di rumah Mas, Rahael menyahuti."


"Enggak Rahael, di sini saja."


Belum lama Galang merebahkan tubuh.


"Sore Nyonya Rahael," sapa suara suster, membangunkan Galang.


"Bagaimana Bu? Ada yang di keluhkan?" tanya Suster sembari memasang alat tensimeter di tangan Rahael.


"Tekanan darah normal, langsung meriksa perut Rahael. Ada keluhan Bu?" tanya sang suster.


"Pagi tadi mules sebentar sus, tetapi langsung hilang," ucap Rahael.


"Hem, nanti bila mulasnya sering dan bertambah sakit hubungi suster ya Bu ! Ini selang infusnya sudah bisa saya cabut kalau bisa, mulai besok pagi usahakan untuk jalan-jalan ya Bu? Agar persalinannya lebih mudah," ujar sang Suster.


Setelah memeriksa dan membereskan alat infus sang perawat undur diri.

__ADS_1


"Kalau bisa jalan sekitar ruangan enggak apa apa Bu, timpal sang suster sebelum benar benar pergi."


__ADS_2