Rahael

Rahael
Bab 47. Masih Mawan lagi


__ADS_3

Bab 47. Masih Mawan lagi


Setelah pertemuannya dengan Galang tak berhasil, membuat kedua orang tua Mawan


kembali marah.


"Apalagi, yang masih belum kau ceritakan


belum puas kau membuat kami malu Mawan!" sergah Ayah.


"Beruntung kau bertemu dengan keluarga yang baik dan tak menyeret masalah ini ke ranah hukum," ucap sang papa sambil menatap jauh ke depan.


Sekilas Mawan melirik kedua orang tuanya. Nampak, mata mereka berkaca kaca, sesaat ada banyak penyesalan di hatinya.


"Wan. Akhirnya Bu Widia membuka suara."


"Mama harap, kamu bisa mewujudkan syarat terakhirmu. Mama hanya ingin menebus semua kesalahan kami sebagai orang tua dan setidaknya sebagai Nenek atau Kakek bagi mereka. Mama tak akan maruk, asal mama bisa bertemu satu bulan sekali tak masalah dan yang penting mama dan papa akan datang untuk meminta maaf. Mama minta pikirkan ini baik-baik," ucap Bu Widia sambil berdiri dan berlalu menuju kamar di mana mereka menginap.


Selepas kedua orang tuanya beranjak pergi


Mawan hanya menghembuskan napas beratnya.


"Bagaimana aku akan menikah karena itu syarat terberat yang belum bisa aku jalani, aku masih belum bisa pindah ke lain hati," guman Mawan pelan.


Mawan flasshback on


Sejak kepulangannya dari kota S satu tahun lalu membuat Mawan dari hari kehari semakin berubah itu pun tak luput dari pantauan sang mama.

__ADS_1


Hingga suatu sore saat Mawan sedang menerima telfon di kamar dengan tanpa sengaja sang Mama mendengarkan.


"Terima kasih Mas kiriman videonya, mereka semakin lucu-lucu, bayi Twin," ucap Mawan sembari tersenyum.


Kata-kata inilah yang di dengar Bu widia, saat dia hendak memanggil Mawan akan sesuatu hal. Melihatnya Mawan sedang asyik melihat video dua bayi kecil, di stoler dengan desain ruangan di acara aqiqoh.


"Anak siapa Wan kok lucu-lucu?" tanya Bu widia tiba-tiba, membuat Mawan yang sedang fokus melihat video menyahut asal.


"Anak Mawan lah Ma!" timpal Mawan sekilas.


Seketika Bu Widia menjewer telinga Mawan.


Mawan yang mendapat jeweran dari bu Widia langsung menoleh.


"Mama !"


Kepalang basah mungkin ini yang di pikirkan Mawan, sembari memeluk sang Mama.


"Maafkan Mawan Ma! Terlalu banyak kebohongan yang Mawan tutupi."


Sejenak Bu Widia mendorong tubuh Mawan dan terkejut dengan apa yang Bu widia dengar.


"Apa maksudmu? Hm!" ucap Bu Widia sembari menatap tajam ke arah Mawan.


"Ma ... Ma-Ma- Mawan telah menghamili seorang wanita dan mereka anak-anak Mawan Twins," jelas Mawan terbata.


Seakan mendengar petir di sore hari.

__ADS_1


"Mawan ...teriak Bu Widia geram."


Mendengar keributan dari kamar anaknya Pak Panji langsung berlari melihat.


"Ada apa Ma? mengapa berteriak," tanya Pak Panji.


"Anakmu Pa!! Mawan."


"Mawan. Ada apa?" tanya Pak Panji lagi.


"Mawan-Mawan sudah menghamili seorang wanita Pa. Ini- ini bayi kembar yang di akui sebagai anaknya."


Mendengar cerita isterinya seketika Pak Panji gelap mata. Amarah yang membuncah membuat Pak Panji murka, nalar tidak berlaku saat ini pukulan demi pukulan Mawan terima saat itu dari sang Papa. Mawan memilih pasrah dan diam, mungkin ini hal yang terbaik saat itu. Hingga akhirnya semua pukulan itu berhenti saat melihat Mama pingsan.


Setelah kejadian ini, hampir satu bulan mereka mendiamkan Mawan. Rasa menyesal tak bisa Mawan tutupi, tetapi apa hendak di kata semua sudah terjadi dan ini adalah penyesalan seumur hidup Mawan.


Hingga akhirnya di pagi hari. Mama mendatangi Mawan di kamar, tak berselang lama Papa juga datang, hati mereka sedikit melunak.


"Wan! Tolong ceritakan semuanya, setelah itu Mama dan Papa ingin bertanggung jawab.


Merasa kedia orang tuanya melunak dan welcome dengan detail Mawan menceritakan semuannya tanpa ada yang di tutupi dan begitu juga tentang perjanjiannya dengan Galang.


Namun, masih ada satu hal yang belum Mawan ceritakan, mengingat saat ini Mawan sedang berusaha mengejar kuliahnya agar segera lulus.


Dengan tarikan napas panjang, kedua orang tua itu keluar dari kamar tanpa mengucap sepatah kata pun. Bu Widia hanya terisak mengingat semua juga bukan salah Mawan semata. Karena, ke egoisan dan salah didiknya saat itu yang membuat Mawan jadi brutal dan menganggap uang lah yang bisa membahagiakan anaknya, ternyata semuannya salah besar.


Hingga beberapa bulan setelahnya, Mawan hanya kembali fokus kuliah dan perkataan Galang benar-benar membuat Mawan berpikir untuk maju kedepan.

__ADS_1


Flasshback end


__ADS_2