
Saudara kembar yang Rahan lirik masih terdiam dengan lamunannya.
Twin Al kini juga diam, "Ray, kenapa?" tanya Eyang tiba-tiba. "Bagaimana, kita balik Yuk! Eyang jadi enggak semangat," tutur Eyang Panji. Mendengar ucapan Eyang Panji Rayhan langsung tersenyum.
"Kok balik Eyang, tuh tinggal satu belokan. Rayhan hanya membayangkan saja, cantiknya Naya, nanti," ujar Rayhan lirih.
Mendengar ucapan Rayhan seketika Rahan menyentil dahi Rayhan. "Jangan mikir yang enggak-enggak jatuhnya, nanti pikiran jorok yang keluar," ujar Rahan marah.
Eyang Widia kini menoleh ke belakang, "memang sudah siap Rayhan?" tanya Eyang Widia, "kalau sudah siap majuin saja tanggal pernikahnya biar, enggak kebayang-bayang terus," ucap Eyang Widia.
Mendengar ucapan Eyang Widia, kini wajah Rayhan susah merah menahan malu.
Tak berapa lama mobil sudah berhenti Pak Sentot sudah berdiri di depan untuk menyambut kami, ada tetangga kanan dan kiri yang biasa Rayhan sapa saat berpapasan ketika pulang dari rumah Naya.
Sebelum masuk ibu sudah berdiri para Eyang
di minta membawa hantaran pinangan dan kami di minta membawa kue-kue hantaran.
Mempersilakan kami masuk dengan senyum menghias wajah Pak Sentot, Rayhan yang sedari tadi diam kini bertambah kikuk, para orang tua setelah memberikan hantaran yang di susun di sisi ruang tamu
di persilakan duduk. Sedangkan kami para muda di geret ke ruang samping kecuali Rayhan di minta duduk di kursi yang di sediakan dan setelahnya memanggil Naya yang sudah di rias sederhana namun membuat Rayhan tak lepas menatapnya. Bapak dan Eyang yang menjadi orang yang penting hari ini. Memulai pembicaraan dengan sopan dan intinya ingin meminang Naya
"Bagaimana Nak Naya bersedia kah hari ini Mas Rayhan meminta Nak Naya?"
Seketika semua mata memandang dengan ke arah Naya dengan sedikit malu Naya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mendengar jawaban Naya, semua tamu langsung mengucap syukur.
"Sebagai tanda bahwa Nak Naya menerima pinangan Mas Rayhan, kami juga langsung melaksanakan lamaran sekalian dan kami juga menyerahkan semua hantaran lamaran ke pihak wanita," ujar Eyang Panji.
Bapak menyerahkan cincin yang di pegangnya ke Eyang Panji, sesaat Eyang menatap Bapak dengan hormat, Bapak langsung mempersilakan Eyang Panji untuk memberikan cincin pertunangan Rayhan dan Naya.
Setelah penyerahan seserahan selesai, Eyang Panji mendekati Rayhan.
"Sekalian kami juga akan melakukan tukar cincin, untuk Rayhan dan Naya lalu Eyang mendekat dan memanggil Rahael untuk menyematkan cincin di jari manis Naya dan kemudian memanggil Tante Maya untuk menyematkan cincin di jari manis Rayhan.
__ADS_1
Setelah semua di laksanakan kini kekuarga besar tengah membahas kapan tanggal dan hari pernikahan di laksanakan. Akhirnya setelah kesepakatan yang di setujui acara akan di laksanakan enam bulan kedepan.
Kini hanya percakapan-percakapan ringan yang di lakukan mengenalkan sanak saudara dari masing masing pihak keluarga, setelahnya mempersilahkan semua yang hadir untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan menjamu dengan sederhana namun komplit.
Tak terasa sudah di puncak acara kami berpamitan satu dan yang lainnya, pulang dengan perasaan lega Rayhan kini sudah kembali menjadi Rayhan yang dulu.
"Kak!" panggil Rayhan sembari menunjukkan cicin yang di pakainya. Melihat ulah Rayhan, Rahan hanya melihat dengan tatapan yang hanya Rahan dan Rayhan mengerti dari tatapan itu, hingga akhirnya mereka tertawa bersama.
Kini kami pulang dengan mobil Bapak, karena hantaran yang berjubel tadi kini sudah menghilang. Bapak yang sedari tadi diam, "jangan main-main Rayhan, kini kau sudah mengikat anak seseorang, tunjukkan tanggung jawabmu dan kau bisa di percaya," ucap Bapak.
Perjalanan pulang terasa lebih cepat setelah kehebohan yang di timbulkan dari kemarin.
Memasuki halaman rumah melihat Bi Nina sedang duduk di teras, saat melihat kami datang seketika Bi Nina tersenyum lebar.
"Ada apa, Bi?" tanya Rahael saat mendekat.
"Bagaiman, Bu. Sukses?" tanya Bi Nina.
"Alhamdulillah. Bi, semua lancar. Bi dua hari lagi ikut ya?" tanya Rahael pada Bi Nina.
"Sudah! Ikut saja," ujar Rahael sembari mengambil beberapa kotak makanan yang di beri keluarga Naya.
"Twin Ra, Twin Al, Ais bantu Bi Nina," kata Ibu mereka.
Anak-anak yang bingung dengan sifat ibunya yang sedikit galak beberapa hari ini membuat Twin Al bertanya juga, "Pak! Ibu, kok jadi galak ya?" tanya Twin Al kemudian.
"Ya, sudah masuk sana, capek kan biar Bapak menegur nanti."
Kemudian mereka masuk dan menuju kamar mereka masing-masing. Berbeda dengan keluarga besar Galang dan Rahael di kediaman Eyang Panji kini dua Eyang yang masih terlihat begitu sehat, setelah memasuki rumah, Eyang Panji langsung menghempaskan tubuhnya di kursi, melihat suaminya bersikap seperti itu Bu Widia langsung menghampiri.
"Ada apa, Pa?" tanya Bu Widia.
Pak Panji tak menjawab pertanyaan isterinya, kini hanya mata Pak Panji yang nampak merah berkaca kaca. Bu Widia seketika memeluk suaminya dan mengusap punggungnya untuk memberi ketenangan.
Eyang Panji kini tengah menangis dalam diamnya, hanya air matanya yang turun.
__ADS_1
"Ma!" panggil Eyang Panji dengan suara terkecat, "Papa merasa sangat bersalah dengan Mawan, andaikan dulu kita bisa mengerti Mawan mungkin kini dia masih hidup," tutur Eyang Panji sembari menangis.
Mendengar ucapan suaminya Bu Widia, seketika melepas pelukannya dan menatap suaminya.
"Dulu, Mama juga berpikiran seperti Papa, tetapi Mama hanya berusaha mengikhlaskan Pa. Lagi pula Galang selalu membawa serta kita, merangkul kita dan selalu mengikut sertakan semua apavpun itu tentang Twin Ra.
Mama hanya bersyukur, mereka begitu baik setelah semua kejadian ini. Ingat Pa dua hari lagi kita ke kota S untuk meminang Ais dan itu juga sudah di putuskan, Papa yang akan melaksanakan prosesi itu, seperti hari ini.
Keinginan Mama, hanya satu jangan merasa terus kehilangan akan Mawan, lihat cucu kita kalau mereka sudah menikah kita bakalan punya cicit," ucap Bu Widia sembari tersenyum.
"Ayo mandi setelah itu kita shalat dan istirahat, Mama enggak makan lagi Pa, Mama kenyang," ucap Bu Widia.
Melihat istrinya tersenyum Pak Panji hanya melihatnya dengan diam, karena dua cucunya akan kembali bertunangan, Pak Panji akhirnya bisa tersenyum saat melihat isterunya mempunyai semangat baru. Pak Panji seketika menghela napasnya, benar semua sudah terjadi, hanya tinggal penyesalan yang terus datang di hati Pak Panji. "Ma. Makanan yang ada di mobil," ucap Pak Panji meningatkan.
"Aduh, Pa! Biar Bibi saja yang membereskan," ujar Bu Widia.
"Bi, tolong yang di mobil keluarin dan tolong di simpan di kulkas, oh, ya. yang itu di makan saja Bi," ujar Bu Widia dari balik pintu.
Pak Panji yang mendengar isterinya berteriak Pak Panji langsung mengekor langkah isterinya, "ih. Mama kebiasaan kalau ngomong sembari berteriak," ucap Pak Panji sembari masuk kamar.
Bu widia hanya menatap suaminya masuk kamar, sebenarnya hati Bu Widia tak kalah sakit ketika mengingat Mawan dan semuanya. Namun, Bu Widia kini hanya bisa berusaha menerima dan berdamai dengan keadaan semoga semuanya jadi lebih baik kedepannya sembari menutup pintu kamar.
Melihat suaminya keluar dari kamar mandi, "tunggu Pa, Mama mandi sebentar, kita shalat jamaah ya?"
"Hm!" hanya itu yang keluar dari bibir Pak Panji.
Tak berapa lama Bu Widia sudah memakai mukena menunggu suaminya dengan salam terakhirnya, melihat kebelakang dan tersenyum. Tak lama Pak Panji kembali berdiri, memfokuskan diri membaca niat dengan khusuk Pak Panji memimpin sholat hingga selesai.
Menghadap kebelakang sebentar membiarkan istrinya untuk salim, lalu Pak Panji kembali berbalik untuk menyelesaikan doa dan wiridnya begitu juga dengan Bu Widia.
Kini Pak Panji kembali menitikkan air matanya hanya penyesalan yang ada dalam ingatannya hanya mementingkan kesibukannya dari pada mendidik anak semata wayangnya dengan benar. Benar juga yang di katakan istrinya semua sudah terjadi dan tak bisa di tarik kembali, melihat istrinya sudah melipat sajadah Pak Panji hanya tersenyum.
"Tidak muda lagi tapi makin cantik," ucap batin Pak Panji.
Mendekati ranjang dan menyusul istrinya yang lebih dulu membaringkan tubuhnya di ranjang.
__ADS_1
"Ayo tidur Mas, capek," ujar Bu Widia sembari dan menarik selimutnya.