
BAB 9. Sedih
Setelah kejadian yang menimpannya kini Rahael benar-benar sedih, belum lagi Silvi yang pergi tanpa pamit padanya.Saat ini yang di lakukan Rahael hanya mengurung diri dalam kamar, Rahael akan keluar jika makan saja.
Bi Jum yang merasa ada perubahan pada Nona kecilnya akhirnya memberanikan diri menghubungi Bu Rahayu dan menceritakan apa yang di lihatnya, kecuali pada malam perpisahan itu saja yang tidak Bi Jum ceritakan.
Hari ini genap sudah satu bulan setelah kejadian yang menimpa Rahael, saat ini mendadak badan Rahael lemas, tubuhnya demam.
Saat bangun tidur Rahael terkejut melihat Bi Jum sudah duduk di samping tempat tidurnya.
"Eh ... "Bi jum kok di sini," tutur Rahael sembari mengerjapkan matanya.
"Maaf Non, semalam Non mengigau lagi dan badan Non demam," ucap Bi jum sembari memegang keningnya.
"Maaf ... Bi, sudah dua hari ini badan Rahael lemas Bi," cerita Rahael lirih.
__ADS_1
"Non, mau sarapan?" tanya Bi Jum sembari menatap wajah Rahael.
"Non," panggil Bi Jum ulang. Mendengar pertanyaan Bi Jum Rahael hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Bi, kapan Ibu pulang. Rahael kok tiba-tiba kangen, padahal semalam masih bertukar kabar Bi," cicit Rahael lirih.
Bi Jum seketika menghela napasnya, "mungkin Ibu masih repot Non," jawab Bi jum,
sembari menyuapkan roti ke mulut Rahael.
Mendapat suapan tiba- tiba dari Bi Jum Rahael langsung menolak, tetapi karena paksaan Bi Jum akhirnya Rahael mau juga.
"Setelah ini minum obatnya Non!" ucap Bi Jum dan Rahael hanya mengangguk.
Bi Jum segera meninggalkan kamar Rahael dan memilih turun ke bawah.
__ADS_1
Angan Rahael kini tengah mengembara menghitung hari setelah kejadian itu, sudah dua minggu ini Rahael merasakan tubuhnya lemas kadang sedikit mual dan rasa pusing yang datang tiba -tiba. Rahael kembali merasa takut, "jangan-jangan apa yang terjadi malam itu," tutur hati Rahael. Mempunyai pemikiran seperti itu, tak terasa air mata Rahael kembali turun.
"Rahael harus apa jika hal itu benar-benar terjadi," ujar Rahael sembari mengikis air matanya. sejenak Rahael menilsi dirinya keadaan badanya kini juga sedang tak baik-baik saja, nafsu makannya juga mulai berkurang serta pusing yang tiba-tiba sering terjadi.
Mendapati dirinya yang demikian Rahael akhirnya memutuskan untuk pergi ke apotik, setelah berganti baju Rahael turun ke bawah.
"Bi, Rahael keluar sebentar ya?"
"Non. Di antar Mang Udin ya, Non!" tutur Mang Udin terdengar dari belakang.
"Enggak usah Mang, dekat sini saja. Rahael mau ke supermarket Mang!" ucap Rahael berbohong.
Sebenarnya Rahael akan ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan. Rahael sengaja ingin berjalan kaki karena sejak dari rumah Silvi, Rahael hanya di rumah saja. Setibannya di apotik, Rahael membeli tiga alat test kehamilan. Mengengar ucapannya seketika penjaga Apotik menatap Rahael heran.
Rahael tak peduli dengan pandangan karyawan apotik yang di ingikan hanya segera pulang ke rumah itu saja. Setibanya di rumah, Rahael langsung masuk ke kamar mandi, di ambilnya test pack lalu di masukkan pada urine yang di tampungnya tadi.
__ADS_1
Setelah 30 detik memasukkan alat itu, Rahael segera mengangkat alat itu, awalnya hanya terlihat satu garis tapi setelah per sekian detik muncul garis lagi. Seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya, akhirnya Rahael mengambil satu lagi dan mengulang apa yang di lakukannya tadi.
Tubuhnya seketika lemas, mendapati hasil yang di lihatnya, saat ini hatinya merasa semakin teriris, mendapati apa yang terjadi malam itu telah membuatnya hamil.