Rahael

Rahael
Bab 115. Persiapan Pinangan


__ADS_3

Bab 115. Persiapan Pinangan


Setelah mendengar cerita Sentot Pak Panji tertawa tergelak dan keras.


"Kau itu sudah bikin aku penasaran Sentot, aku kira akan seperti apa rahasiamu itu," ujar Pak Panji sembari menatap ke arah Galang dan Rahael, "bagaimana Galang menurutmu, masih mau lanjut?" tanya Pak Panji.


Sejenak Galang dan Rahael bertatapan dan tersenyum, "anjut lah Pak semua orang punya masa lalu dan ini juga bukan hal buruk


iarkan ini tertutup , biar kita saja yang tahu masalah ini, saya hanya tak tega melihat Rayhan, sedari pagi Rayhan sudah merayu kami," ujar Galang sembari tersenyum.


Mendengar itu Pak Panji tertawa hingga Bu Widia mencubit pahanya, "aduh Ma, cucu kita ternyata benar-benar nekat."


Setelah beberapa saat berhenti tertawa, "Sentot, ingat jangan pernah kau tolak lamaran kami besok," ujar Pak Panji.


Galang hanya tertunduk membayangkan reaksi Rayhan esok belum lagi ledekan dari tiga saudaranya, "kenapa Mas?" tanya Rahael saat kami hampir di depan rumah lalu Galang menatap Rahael, "apa salah jika kita bicarakan ini dengan Rayhan?" tanya Galang


"Rahael jadi takut Mas, mereka saling menyukai biarkan seperti ini saja Mas, lagi pula kita hanya para orang tua yang tahu," ujar Rahael pelan. Namun, tingkah Rahael seketika berubah, dengan berbicara sedikit keras, "waduh! Mas, kita belum belanja apapun untuk pinangan esok, mumpung Ais ada di sini sekalian cari buat mereka!"


Galang seketika menatap Rahael heran, "Rahael, ini kan masih di minta bukan lamaran!"


"Sudah, Mas sekalian di lamar nanti enam bulan kedepan kita nikahkan mereka bersama," ujar Rahael bersemangat.


"Loh-loh, kok ibunya yang semangat sekarang," ujar Galang.


"Ya, sudah! Telfon mereka, minta kita ketemuan di Mall," ucap Mas Galang.


Setekah menghubungi Rahan dan Rayhan akhirnya kami tiba hampir bersamaan.


Mereka seakan penasaran dengan panggilan kami tiba-tiba dan dengan penasaran akhirnya mereka bertanya, "memang akan ada apa Bu?" tanya Rahan dan Twin Al serentak, tetapi Naya dan Rayhan langsung tersipu malu.


"Sudah, Bapak dan Twin Ra, cari perhiasan ingat satu set Pak dan Twin Al, Ais dan Naya sama Ibu," ujar Ibu memberi komando.


Kubu cewek yang heboh akan belanja baju satu set, mukena, kain, bahan kain dan make up serta sepatu dan sendal, istilah jawanya sak pengadek. Setelah semua selesai, Rahael kembali mengecek semua perlengkapan dengan teliti, "Al cari handuk, selimut, sprei dan juga kamu beli baju juga," ucap Ibu, "ajak kak Naya dan Kak Ais," seru Ibu lagi.


Sudah banyak belanjaan yang mereka bawah tetapi seperti masih ada saja yang kurang.


Kubu cowok yang melihat kehebohan Ibu mereka hanya geleng-geleng, "lihat ibumu enggak mau pernah di ajak belanja tetapi sekali keluar kira-kira se Mall di borong," ujar Bapak pelan.


Mendengar itu Rayhan dan Rahan langsung tersenyum.


"Al cari Bapak, buat mencocokkan warna dan ukurannya, nanti kita kembaran," ucap Ibu.


"Ais dan Naya tolong carikan untuk ke empat Eyang juga," pinta Ibu.


Galang yang melihat dari jauh hanya tersenyum, Galang tak menyangka jika Rahael akan sesemangat ini menyiapkan acara tunangan anaknya. "Buih," serasa hari ini Mall milik Ibu," guman Rahan dan Rayhan di belakang Bapaknya.

__ADS_1


Melihatnya mengambil ponsel dan duduk di kursi menelfon seseorang, "ingat jumlahnya sama tapi yang satu untuk dua hari ke depan," ucap Ibu sembari mengakhiri panggilannya.


Semua belanjaan sudah terbayar, tetapi Rahael madih berdiri seakan menginggat sesuatu, melihat Rahael yang nampak bingung, akhirnya Galang mendekat juga.


"Eee, suamiku," ujar Rahael sedikit terkejut.


Galang langsung tersenyum saat mendengar Rahael memanggil dengan sebutan yang jarang Rahael ucapkan.


"Kotak hantarannya belum beli, mas Galang yang berangkat ya! tuh, inggal lurus saja, kaki Rahael pegel, Mas!" ujarnya sedikit manja.


"Sini. Mas bantu, nanti Mas, enggak mengerti mau Rahael seperti apa!"


Berjalan perlahan menuju kotak hantaran memilih yang terbaik dan menghitungnya secara teliti.


"Ih...ini masih ada yang kurang segera mengambil ponsel lalu mengetikkan sesuatu ke Twin Al, "ajak Kakak-kakakmu ke bagian daleman, suruh pilih masing-masing enam biji," tulis Rahael dan mengirim ke Twin Al.


Tak berapa lama notif baru dateng, "aduh Twin," ujar Rahael sembari mengetik kembali


"Bra dan cd cantik," tulis Rahael dan mengirim kembali dengan emot marah.


"Sudah, Rahael?" tanya Galang.


"Bapak, sudah ketemu Twin Al?" tanya Rahael.


Mas Galang yang di tanya hanya menggeleng, "Mas, nitip nanti begitu saya pulang tolong di anter ke parkiran no plat ×××××," ucap Galang pada penjaga penitipan barang.


kembali Rahael mengecek belanjaan, "Mas perhiasannya?" tanya Rahael sembari berbisik.


Galang hanya mengangkat barang yang di maksud Rahael, "jangan sampai lepas," ucap Rahael lagi.


Setelah mengecek barang satu persatu kini tinggal baju untuk para Eyang dan kemeja untuk dua jagoan dan suaminya. "Beres," itu yang Rahael ucapkan saat semuanya sydah lengkap.


"Kita semobil Mas dan yang semobil biar untuk belanjaan kita."


"Rahan mengemudikan mobilnya dan pulang bersama Ais dan belanjaan, Rayhan mengantar Naya pulang dulu," ucap Ibu.


"Naya, besok berhias yang cantik, buat Mas Rayhan kamu pangling," ujar Rahael menggoda dan Naya yang mendengar hanya tersenyum.


Rayhan yang di kemudi hanya tersenyum, sebelum Naya benar-benar naik, Ibu masih juga menggoda Naya hingga Naya tersipu malu.


"Salam untuk orang tua Naya, sampaikan besok kami datang," ucap Bapak saat Naya menutup pintu mobil.


Twin Al yang sedari tadi mendengarkan akhirnya berbicara juga, "jadi! Mas Rayhan, mau melamar Mbak Naya?" tanya Twin penasaran.


"Mangkanya Ibu belanja seperti orang kalap," ucap Aal tak terduga.

__ADS_1


"Ish, itu buat kak Ais juga, ini kejutan untuk Kak Rahan," ujar Ibu lirih.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah, begitu di garasi kami melihat Kak Ais dan Kaj Rahan memindah barang-barang untuk di bawa masuk. Begitu Ibu keluar dari mobil, "Rahan taruh saja semuanya di ruang tengah," ujar Ibu memberitahu.


"Ais, barang yang kamu pilih tadi pisahkan biar enggak tercampur," ucap Ibu mengingatkan.


Melihat istrinya begitu sibuk Galang langsung memijat pundak istrinya, "capek Rahael?" tanya Galang, sementara yang Galang tanya


hanya mengangguk saja. "Mas, setelah ini bantu Rahael paking dan hias ya, Mas! tetapi Rahael, ingin shalat dulu dan makan," tutur Rahael.


Rahael seketika menghentikan langkahnya saat melihat Rayhan lewat.


"Rayhan, besok siang sama Mas Rahan ambil kue di tempat biasa," ucap Rahael lagi.


Setelah makan dan shalat Rahael langsung mengerjakan hal yang tertunda tadi para Eyang juga sudah duduk membantu, setelah semua siap, "Mas perhiasannya mana?" tanya Rahael. Rahan yang sedari ikut membantu seakan tak menyadari jika semua barang yang du beli untuk persiapan lamaran. Tiba-tiba Rahan datang, "memang siapa yang mau lamaran?" tanya Rahan aneh. "Kalianlah," jawab Ibu.


Setwlah itu pandangan Rahael berpindah pada Ais. "Ais mana barang yang kau pilih tadi?" tanya Ibu.


"Rahan. Ayo, bantu taruh barang Rayhan di kamar Rayhan."


Rahan dan Rayhan langsung mengerjakan tugas yang di berukan oleh Ibunya. Setelah semuanya selesai, "Pak, tolong panggil Rahan dan Rayhan," Rahael hanya duduk termenung hingga Rahan dan Rayhan datang, setelah keduanya duduk, "Eyang Rahayu, bagaimana jika perhiasan dari Ayah mereka untuk Nas kawin saja? Bagaimana Pak?" tanya Rahael.


"Rahael, sudah beli Al'Quran dan rukuh juga, buat mas kawin, pisahkan itu," ucap Eyang Rahayu.


Mendengar ucapan Ibunya, Rahael hanya mengangguk dan kembali menatap Rahan dan Rayhan, "lalu, bagaimana menurut pendapat kalian?" tanya Rahael pada Rahan dan Rayhan.


"Kami setuju Bu," ucap mereka serempak.


Setelah membereskan semuanya Rahael jadi teringat dengan baju kembaran kami, "Mas mana baju kembarannya, berikan pada Eyang Panji, Eyang Jum, Eyang Rahayu, Twin Al dan Ais dan kemejanya untuk Bapak, Rahan dan Kamu Rayhan," ujar Rahael.


"Bu, memangnya belanja begini banyak untuk?" tanya Rahan yang masih belum paham juga, "coba tanya adekmu Rayhan saja," jawab Ibu.


Bapak langsung nyletuk, "tuh, ada yang pingin melamar ceweknya, mau halal katanya," ujar Bapak sembari tersenyum.


Seketika Rahan memiting Rayhan, "eh. Kamu! Sudah berani mendahului Kakakmu,


ini enggak benar, enggak bisa, enggak bisa," jawab Rahan sembari bangun dari tubuh Rayhan.


"Jangan bilang kamu sudah macam-macam dengan Naya?" tanya Rahan curiga.


"Ih. Kakak suudzon saja," jawab Rayhan.


Semua yang berada di ruang tengah langsung tertawa melihat ulah Rahan dan Rayhan, sementara Ais yang sedari tadi melihat langsung tersenyum.


"Jangan khawatir Ais, Bapak juga sudah bilang ke orang tua Ais, selepas pulang dari sini kami juga akan melamar Ais," ujar Bapak lagi.

__ADS_1


Rahan yang mendengar ucapan Bapaknya langsung menatap tak percaya, "Yes!Yes!," ujar Rahan bahagia.


__ADS_2