
Bab 98. Curahan hati Twin R
Karena belum berani mendekati Rahael
akhirnya Galang menuju kamar Twin Ra,
langkah Galang terhenti saat mendengar pembicaraan Twin Ra.
"Rayhan!" panggil Rahan, tetapi Rayhan masih sibuk memandang foto dan beberapa barang lainnya.
"Rayhan bagaimana apa sebaiknya kita tinggal di rumah Eyang Panji?" tanya Rahan.
Seketika Rayhan menoleh, "kak jangan begitu, mereka orang terdekat kita dari kecil.
Bapak, meskipun Bapak hanya Bapak sambung kita, tetapi Bapak sudah banyak mengorbankan tenaga dan perasaannya untuk kita demi kita. Kak, kalau kita mencoba untuk menuntut, apa yang akan kita tuntut, mereka juga sudah berlaku baik pada kita," tutur Rayhan, seketika perasaan Rahan menjadi trenyuh.
"Kak, Bapak juga sudah mengijinkan kita untuk menginap di rumah Eyang, jangan pernah menuntut apa-apa! Kak, kasihan Ibu, Bapak dan Eyang serta Twin Al," ucap Rayhan.
"Rayhan, jadi yang diceritakan Bapak pada Rahan, tentang temannya ternyata adalah cerita Ibu dan Ayah," tutur Rahan.
"Maksudnya?" tanya Rahan bingung.
"Masih ingat saat Aal menggoda tentang gadis yang kakak suka, ceritannya sangat mirip dengan cerita Ibu," ujar Rahan.
__ADS_1
Seketika Galang mendorong pintu kamar mereka dengan pelan, "boleh Bapak tidur di sini?" tanya Galang.
Kedua Twin Ra, seketika menyergitkan keningnya, "memang di kamar Ibu? Masih perang dingin?" tanya Rahan.
Galang tak menjawab pertanyaan Rayhan.
Melihat banyak foto berserakan Galang kemudian memungutnya satu dan melihatnya
sesaat Galang tersenyum, " kreatif juga ayahmu Twin," ujar Galang
"Mau, Bapak ceritakan tentang Ayah kalian, ada yang belum Ibu kalian ceritakan."
Galang menatap wajah mereka, Pak ini ada amplop terpisah di depannya tertulis untuk masa depan Twin Ra," ujar Rayhan sembari menunjukkan pada Galang.
Galang sejenak melihat amplop dengan seksama, "serahkan pada ibu kalian saja."
Setelah menempati posisi masing-masing,
"Apa kalian siap dan tak marah saat mendengar ceritanya?" tanya Galang.
"Akh, Bapak buruan!"
"Kenapa. Juga, Ibu tak menceritakan pada bagian ini, Galang kembali menoleh lagi,
__ADS_1
" janji enggak marah!"
"Bapak!!" jawab mereka serentak.
Kejadian ini terjadi saat ibu Twin Ra, hamil di bulan ketiganya, waktu itu Bapak dan Ibu sudah menikah saat itu badan ibumu terlihat kurus hanya perutnya saja yang terlihat agak membuncit, ada kejadian yang membuat ibumu harus sampai opname pendarahan saat ayah kalian berusaha untuk menemui ibumu dan beruntung kalian berdua bisa selamat dan menjadi laki-laki dewasa.
Ayahmu termasuk pejuang yang gigih selama hampir seminggu ayahmu memata-matai Ibu kalian hingga akhirnya, Bapak dan Ayah kalian di pertemukan di rumah sakit.
saat itu hanya emosi yang ada di hati Bapak mengingat trauma yang cukup lama di alami ibumu, Bapak menghajar ayahmu habis-habis san.
Apa yang di lakukan Ayah kalian. Ayah kalian hanya diam Bapak pukuli hingga akhirnya
kami membuat perjanjian, entalah perjanjian
macam apa waktu itu, asalkan Ibu kalian merasa tenang dan nyaman dan kelanjutannya Ibumu sudah menceritakan."
Mendengar ceritaku Rahan yang sedikit keras hanya diam sesaat kemudian.
"Terima kasih Pak, Rahan dan Rayhan juga enggak bakalan marah, mungkin sedikit sedih dan kecewa, tetapi andaikan Rahan dalam posisi Bapak, Rahan akan melakukan lebih dari itu," seru Rahan pelan.
Galang tersenyum, "ternyata kau sudah dewasa sekarang dan kau Rayhan," panggil Galang dan yang Galang panggil hanya tersenyum, "aku sudah beruntung mempunyai Bapak sebaik ini, tak ada lagi yang perlu Rayhan pertanyakan, semuanya sudah jelas," ujar Rayhan sembari menguap.
"Ayo. tidur, sekarang tinggal bagaimana bapak menaklukkan ibumu," ujar Galang sembari menggaruk kepala.
__ADS_1
Mendengar ucapan Galang Twin Ra, seketika tertawa terkikik, "selamat berjuang Pak!" ujar Twin Ra sembari menarik selimutnya.
Sebelum Rahan terlelap, "pak, apa yang Bapak ceritakan pada Rahan waktu itu tentang Ibu dan Ayah?" tanya Rahan sembari menguap. Galang hanya tersenyum, "tidurlah!"