Rahael

Rahael
Bab 114. Amplop Wasiat


__ADS_3

Bab 114. Amplop Wasiat


Keberangkatan Twin Al dan kak Ais mendapat tatapan tak henti dari Rahan. Tak berselang lama ada mobil masuk halaman tak lain dan tak bukan mobil Eyang Panji beserta Eyang Widia.


Melihat kedatangan mereka Ibu segera bergegas ke kamar dan memanggil suaminya dan dua Eyang yang duduk di ruang tengah dengan membawa dua amplop yang di berikan Tante Silvi dan yang satunya entah apa itu.


Rahab dan Rayhan di panggil untuk ikut duduk, setelah semuanya berkumpul Ibu mulai membuka pembicaraan dan setelahnya menyerahkan amplop itu pada kami.


"Bukalah ini milik kalian dan Ibu juga belum melihatnya sama sekali," ujar Ibu sembari menyerahkan dua amplop itu pada kami.


Kami dengan sedikit gemetar mulai membuka amplop itu, Eyang Panji dan Eyang Widia hanya tersenyum menatap kegugupan kami.


Saat kami mengeluarkan isinya, kami, Ibu dan juga lainnya ikut terkejut ada dua buku tabungan atas nama Ayah kami dan dua surat serfitikat tanah atas nama kami dan ada surat kuasa dari Ayah kami atas buku tabungan yang kami pegang. Ada yang membuat kami lebih terkejut ketika membuka amplop dari Tante Silvi, ada dua kotak kecil tipis yang berisi perhiasan dan dua surat mobil atas nama kami.


Rahan dan Rayhan seketika menatap tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, Rahan dan Rayhan hanya menatap hingga bibirnya terkatup dan tak bisa mengatakan apa-apa. Hari ini serasa mendapat begitu banyak nikmat, sementara Eyang Panji yang melihat keterjutan kami langsung tersenyum.


"Rahan, Rayhan itu milik kalian dan hak kalian, ini bukti tanggung jawab Ayah kalian," ucap Eyang Panji, berhubung Eyang bawa pengacara biar di urus semuanya di sini juga," tutur Eyang Panji.


Seketika kami berhambur memeluk Eyang Panji dan Eyang Widia, "terima kasih, Eyang," ucap kami.


Setelah semuanya selesai di urus dengan pengacara, pengacara mengembalikan semuanya pada kami.


"Bu, tolong simpan ini untuk kami," ujar Rahan dan Rayhan. Setelah semua beres, Eyang Panji dan Eyang Widia segera pamit. Namun, Bapak tiba-tiba menarik Eyang Panji sedikit mundur kebelakang dan membisikkan sesuatu pada Eyang Panji dan itu membuat kami sedikit curiga, hingga kami melihat Eyang Panji tersenyum dan menepuk bahu Bapak berulang kali.


"Saya pamit Galang," ucap Eyang Panji sambil berlalu.


Setelah Eyang berlalu kini Rahan dan Rayhan bergegas keluar, "mau kemana?" tanya Ibu seketika.


" Rahan mau menjemput Ais Bu dan Twin," ucap Rahan.


"Kau Rayhan seperti yang Ibu bilang tadi pagi, ingat kan," ujar Ibu sembari tersenyum, Rayhan segera mengangguk menghiyakan ucapan Ibunya.


Rahan dan Rayhan memasuki mobil tanpa banyak bicara, tetapi jelas jika Rahan tampak tak tenang. "Rayhan bisa cepat sedikit," ucap Rahan tak sabar.


Rayhan tak menjawab perkataan Kakaknya, tetapi memilih melajukan mobilnya sedikit lebih kencang hingga beberapa menit kemudian, Rayhan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang lumayan besar.


"Ayo, kita sudah sampai," ujar Rayhan sembari turun dari mobil. Rahan akhirnya mengikuti juga langkah Rayhan di teras nampak sepi hanya terlihat Mang Juned yang sedang duduk menunggu.


"Aden," ujar Mang Juned sembari berdiri saat melihat dua Adennya datang.


"Mana, Twin Mang?" tanya Rahan.


"Ada di dalam Den," jawab Mang Juned.


Rayhan yang melihat sikap Rahan yang begitu pisesif akhirnya tersenyum juga, Rayhan langsung mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu terbuka, "masuk Rayhan," ucap Tante Maya, setelah duduk beberapa saat akhirnya Rayhan mengatakan maksud dan tujuannya untuk datang.


"Tante kenalkan ini kakak saya Rahan," ujar Rayhan.


"Loh! Ini, Nak Rahan, kapan datangnya?" tanya Tante Maya.

__ADS_1


"Kemarin, Tante," jawab Rahan sembari mengedarkan pandangannya ke ruang tengah.


"Twin Al. Mana Tante?" tanya Rahan tanpa malu.


"Sebentar!" jawab Tante Maya, "Naya, ini ada Bang Ray kau," panggil Tante Maya dari ruabg tengah.


Tak berapa lama terlihat Naya, Twin dan Ais keluar dari pintu belakang. Begitu melihat mereka Rahan langsung tersenyum lebar tatapannya langsung jatuh


pada Ais dan Twin.


Setelah duduk beberapa saat, "Twin, Ais pulang yuk!" ajak Rahan


Ais sudah mengangguk lebih dulu dan di susul oleh Twin.


"Naya panggil Tante, kami mau pamit," ujar mereka.


Setelah berpamitan, Rahan mengajak Ais dan Twin jalan-jalan, Twin yang mendengar ucaoan Kakanya langsung tersenyum ceria, "wah, ini yang Twin tunggu. Ayo, Kak! kita lama di pondok, rasanya Twin ingin main sepuas-puasnya," ujar Twin senang.


Ais yang mendengar celoteh Twin seketika memanggil dengan sedikit tertahan, "Twin !"


Seketika Twin langsung menghentikan ucapannya dan, "damai, Kak! Twin hanya bercanda," ujar Twin lirih.


Rahan hanya tersenyum, melihat tiga wanita yang ada di dalam mobil dengan sesekali sambil melirik Ais.


Berbeda dengan Rahan dan Twin kini, Rayhan tengah duduk menghadap dua orang tua Naya. Orang tua Naya begitu tak menyangka dengan maksud yabg di sampaikan oleh Rayhan, Orang tua Naya hanya menatap Rayhan dengan heran.


"Tapi, Rayhan. Naya masih kuliah," jawab Im Sentot.


Rayhan dengan menggaruk kepalanya, "ya, Om. Rayhan sudah siap, menerima Naya Om. Rayhan juga masih kuliah dan insya Allah besok malam Bapak dan Ibu akan datang untuk menemui Om dan Tante," ujar Rayhan pelan.


Sesaat Om Sentot menatap Naya yang sudah senyum-senyum sedari tadi. "Bagaimana Naya, Naya sudah siap?" tanya Om Sentot.


Rayhan seakan tak percata dengan jawaban yang Naya berikan, Naya langsung mengangguk sebagai jawaban. Rayhan akhirnya tersenyum lega, ketakutannya dan tubuhnya yang gemetar sedari tadi akhirnya terbayar lunas dengan jawaban Naya. Akhirnya keberanian yang terpaksa karena tekadnya ingin menghalalkan Naya.


"Ya. Sudah, Om tunggu kedatangan orang tua Nak Rayhan," ujar Om Sentot dan tak lama kemudian, Om Sentot masuk dan di ikuti oleh Tante Maya.


Meninggalkan Rayhan dan Naya di Ruang tamu Sentot dan Maya menuju kamar mereka. Mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya Panji, melakukan panggilan beberapa saat kemudian dan tersambung


"Assalammualaikum wr, wb."


"Waalaikum salam wr, wb."


"Formal sekali Sentot," ucap Pak Panji heran.


"Ada apa? kamu nelfon?" tanya Pak Panji.


"Aduh! Bagaimana, ini tentang cucu kamu!"


"Memang kenapa dengan cucuku, cucu yang mana? cucuku ada empat Sentot!"

__ADS_1


"Rayhan!"


" Kenapa memang dengan Rayhan?"


"Cucumu dengan beraninya datang sendiri melamar Naya."


Mendengar jawaban Sentot seketika Panji tertawa, "kapan itu Sentot?


"Barusan Panji, cucumu masih di sini juga."


"Sudah terima saja, lagipula dia sudah mapan materinya, mangkannya Rayhan ingin buru buru menikah!"


"Sentot, sebenarnya Galang tadi juga sudah memberi tahu, tetapi enggak menyangka kalau Rayhan bisa secepat ini, sudah lurusin saja, kok enggak sabar pingin punya buyut aku!"


Seketika Sentot tertawa, terdengar di ujung sana.


"Ya, buyut muda," kelakar Sentot.


Sebelum menutup telfon Sentot sedikit berbicara, "sebelum besok malam bisakah kita bertemu," ucap Sentot pelan.


"Maaf untuk besok, enggak bisa mau mempersiapkan pinangan cucu mantu!"


"Andaikan sore ini bisa kan? Jangan di rumah ada Rayhan," ucap Sentot.


"Sentot! Jangan menutupi apapun pada cucuku, aku tak mau kejadian anakku terulang, sudah aku kerumahmu sekarang," ucap Pak Panji. Tak berselang lama sudah menutup telfonnya.


Banyak pikiran berkecamuk di hati Pak Panji,


Bu widia yang sedari tadi memperhatikan


akhirnya bertanya juga.


"Ada apa Pa, kok wajahnya muram?" tanya Bu Widia.


"Hati Papa, enggak enak Ma, saat Sentot telpon tadi rasanya ...."


"Kalau bisa bicarakan di luar saja kasihan cucu kita sudah menaruh harapan penuh akan pinangan ini."


"Telfon balik lah sebelum kita berangkat."


Akhirnya Pak Panji menuruti akan nasehat sang istri Pak Panji menghubungi Sentot dan janji bertemu di rumah Pak panji karena suasana yang sepi, hampir sepuluh menit akhirnya yang di tunggu datang juga.


Setelah masuk serta duduk dan berbasa basi sebentar akhirnya, "sebentar ada baiknya orang tua dari cucuku di beri tahu juga biar tak menimbulkan masalah nantinya," ujar Pak Panji sembari mengulir ponselnya.


Dengan persetujuan dari kedua belah pihak akhirnya Galang dan Rahael di minta untuk datang. Menunggu hampir dua puluh menit akhirnya Galang dan Rahael datang


Setelah berkenalan satu dan lainnya akhirnya Pak Sentot menceritakan semuanya.


"Naya adalah anak angkat karena saya dan Maya hingga kini belum juga punya momongan akhirnya saya mengangkat Naya sebagai anak dan memang orang tuannya pun sudah meninggal karena kecelakaan, seperti yang anda lihat saat ini dia tumbuh dan besar bersama kami dari bayi," tutur Sentot dan di benarkan oleh Maya.

__ADS_1


__ADS_2