
Melihat Husain datang Galang merasa bahwa Husain masih takut.
"Rin, No dan kamu juga Sain kalian yang Bapak beri amanat, bukan untuk saling menjadi orang yang sombong dengan kepercayaan Bapak. Tapi Bapak ingin kalian bekerjasama demi kemajuan toko ini. Rin kamu masih sama tugasmu dan No kamu bagian mengawasi anak-anak dan Husain sekarang aku tugaskan bagian gudang dan yang lainya bagian penjualan. Bapak besok akan kembali dan menetap di kota M, tolong kerjasamanya dan ingat bosnya masih tetap saya dan saya akan datang ke sini sebulan sekali untuk mengecek kerjaan kalian. Itu saja yang saya sampaikan tolong kerjasamanya. Jika di bulan depan omset nya semakin meningkat akan ada bonus tambahan untuk kalian, jadi tolong jaga kepercayaan yang saya berikan dan yang saya perlukan kejujuran kalian."
"Satu lagi yang sudah mantap pacaran dan nikah, tolong segera di langgengkan," ucap Galang sembari melirik Rin dan No, hanya tersenyum sedang Husain masih dengan mode bingungnya.
Setelah memberikan sedikit arahan untuk anak-anak, Galang bergegas keatas menyiapkan keperluan.
Melihat Mawan masih duduk di sofa.
"Pulang Wan, siap-siap apa kamu nggak jadi ke kota M."
Yang kutanya masih diam. "He yul, pulang," usir Galang.
"Mas rasanya Mawan kok suka dengan tempat ini?" Bagaimana kalau Mawan beli."
"Eh ...enak saja! Bikin usaha sendiri, sana pulang! Nanti selepas isya aku berangkat."
"Lha! Katanya besok Mas?" tanya Mawan bingung.
"Nggak! Aku sudah kangen sama Twin dan istriku," jawab Galang seenaknya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, Galang sudah melihat Mawan pulang. Galang mengambil ponsel dan mencari nomor Rahael.
Dengan perasaan berat akhirnya Galang putuskan menceritakan semuanya kepada Rahael dan Ibu dan mertua.
Mendapatkan jawaban yang tidak memberatkan hati membuat Galang merasa sedikit lega. Tak bisa di pungkiri mertua Galang memang yang terbaik.
Sebelum akhirnya Galang berpamitan pada karyawan. "Rin tolong lantai atas di rawat juga itu perabot pergunakan sebaik mungkin," ucap Galang sebelum benar-benar berangkat.
Karena semua urusan Galang telah selesai dan tak mau menunda keberangkatan.
Galang menelfon Mawan dan mengatakan bahwa keberangkatan yang Galang majukan.
"Mas berangkat duluan, kami besok berangkat berikan saja alamatnya pada kami. seingat Mawan rumah kami di kita M tidak begitu jauh dari rumah Rahael kira-kira dua puluh menit perjalanan."
Melihat pukul empat sore, Galang berangkat.
Selama dalam perjalanan perasaan Galang sedikit lega, semua masalah satu persatu dapat terselesaikan. Jadi teringat cerita Mawan siapa laki-laki beruntung yang di cintai Rahael sewaktu SMA membuat Galang sedikit penasaran.
Perjalanan pulang menurut Galang lebih cepat, kurang lebih pukul satu malam Galang sudah sampai di rumah, membawa kunci sendiri memudahkan Galang masuk sehingga tak membangunkan orang rumah.
Begitu mobil masuk halaman Galang melihat Bapak sedang duduk di teras.
__ADS_1
Keluar dari pintu dan menghampiri Bapak duduk di sampingnya setelah mencium tangannya.
"Apa Bapak nggak dingin? Istirahat Pak," ucap Galang.
Bapak hanya tersenyum. "Gerah Wan, nggak bisa tidur, ya begini kalau sudah berumur," ucap Bapak. Mendengar ini Galang terdiam sesaat .
"Apa ada yang jadi pikiran Bapak?"
"Ora Lang, ora onok seng dadi pikiran Bapak."
( Nggak Lang, Nggak ada yang menjadi pikiran Bapak. )
Tapi tatapannya kosong kedepan dan Galang yakin Bapak sedang memikirkan sesuatu.
"Tidur Pak, sembari Galang melirik sudah jam tangannya, sudah pukul satu lima puluh.
"Monggo sampun dalu di jagi kesehatan nipun."
( silahkan sudah malam di jaga kesehatannya)
Bapak ikut masuk Galang menghantar sampai kamar dan Galang bergegas ke kamar.
__ADS_1
Melihat Rahael tertidur, Galang langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan bergegas menyusul Rahael di alam mimpi.