
Bab 92. Hari pertama di kota S
Twin Ra dan Twin Al tersenyum gembira meski harus membantu di toko mereka merasa nyaman-nyaman saja.
Mungkin rejeki anak soleh dan soleha hari ini toko rame dengan adanya mereka seperti sangat membantu sekali, Twin Al di dampingi Ais sedang Twin Ra dengan Nono dan lainnya.
Posisi kasir tetap menjadi milik Rahael dan Bapak sekarang menjadi big bos nya.
Sembari mengawasi pembeli sesekali sang Bapak tersenyum melihat anak-anak mereka kaku dalam meladeni pembeli tapi patut di ajungi jempol semangatnya.
Mendekati Rahan yang sesekali mencuri pandang ke Ais, menyenggol sembari berbisik, "enggak boleh lirik-lirik, nanti jatuh cinta beneran."
Mendapat teguran dari Bapaknya Rahan langsung tersipu. Sementara Rayhan dengan tenangnya melakukan tugasnya.
Tak terasa kesibukan yang mereka lakukan hingga menjelang dhuhur, Toko masih ramai saat Bapak memberi komando untuk shalat dan makan siang bergantian.
Tak terasa waktu berlalu hingga sore hari karena mereka bekerja dengan giat sebagai bonus toko tutup lebih awal saat orang terakhir keluar masih pukul tiga sore.
Di lihatnya wajah keempat anaknya letih dan kuyu, mungkin ini baik untuk belajar bekerja bagi mereka.
Saat adzan isya mereka nampak sesekali menguap, "setelah shalat isya lekas tidur untuk stamina esok," ucap Galang.
Mereka bergegas ke kamar mereka masing masing sedang aku di temani Rahael memeriksa pembukuan.
Duduk di samping Galang, "Rahael suka dengan cara Mas mengajari mereka bekerja."
Mas Galang menatap sekilas, "Mas harap mereka selanjutnya akan seperti itu setelah kita kembali nanti," tutur Mas Galang sambil terus menatap laporan yang Rini buat.
__ADS_1
"Oh. Ya, tolong nanti di hari ketiga siapkan lima amplop Rahael."
"Buat apa Mas?" tanya Rahael bingung.
"Kejutan untuk anak-anak," ujar Mas Galang sembari menutup bukunya dan mengajak tidur.
Bangun tidur dengan segar nampak anak anak terlihat semangat masih pagi mereka sudah bangun dan bersiap.
Rahan dan Rayhan sudah turun lebih dulu sementara twin Al masih membantu Rahael di dapur.
Galang berdiri di kaca pembatas melihat dua anak laki-laki tengah merapikan barang di toko.
Tak berapa lama Galang melihat Ais dan Rini keluar dan ikut berbenah.
Galang menarik Rahael untuk ikut berdiri di depan pembatas kaca.
"Lihatlah anak kita, mereka sedang bersaing rupanya."
Galang dan Rahael tersenyum melihatnya.
"Pak. Bu, kita sarapan," ucap Aal yang tiba-tiba berdiri di samping ibunya.
"Sejak kapan kau berdiri di situ Al?" tanya Rahael dengan terkejut.
"Sejak Bapak manggil ibu."
"Sudah Pak, mbak Ais itu loh baik, andaikan jadian dengan salah satu kakak Al, Al setuju."
__ADS_1
Mas Galang yang mendengar ucapan Al, langsung menyentil kening Al, "ngawur kamu Al," ujar Galang sembari berjalan ke meja makan.
"Aal, panggil kakak, sekalian Tante Rini juga om Non dan Ais juga," titah Ibu panjang.
Berada di ujung tangga atas, Aal berteriak memanggil, "Aal enggak sopan turun," ucap Rahael mengingatkan.
Dengan terpaksa akhirnya Aal turun juga,
melihat dua kakak sedang mengobrol dengan kak Ais. "Eh. Kenapa aku manggilnya kakak,"
ucap batin Aal.
"Kak di suruh ibu naik sarapan, Tante, om dan juga kakak Ais," ucap Aal lagi.
Saat yang lainnya sudah naik kini tinggal aku dan mas Rayhan, "rupanya naksir nih sama kak Ais," ujar Aal pelan. Kak Rayhan yang Aal tanya cuma senyum- senyum saja.
Ada keinginan mengusili kak Rayhan
menarik sedikit ke belakang, "Mas, kalau Mbak Ais nya suka sama Mas Rahan? Aal?" tanya Ais
"Aal sedikit bingung, saat yang Ais tanya anteng anteng saja."
"Ya, bukan jodoh," jawab Rayhan, pelan dan enteng.
"Memang Mbak Ais suka sama mas berdua,"
ledek Al sambil tertawa.
__ADS_1
"Ketauhan, Mas bagaimana jika menyukai kak Rahan menyukai mbak Ais."
" Aal," teriak mas Rayhan.