Rahael

Rahael
Bab 105. Masih di rumah Eyang Panji


__ADS_3

"Ayo. Sudah-sudah! Kenapa jadi menangis,


makan siang dulu atau mau di masakin kesukaan kalian," ucap Eyang Panji.


" Enggak usah Eyang, semua makanan kami suka. Ibu dan Bapak enggak suka jika kami pilih-pilih makanan," jawab Rayhan.


Sudah pukul setengah dua siang saat Rahan melihat jam, "ayo, kita shalat dulu," tarik Rahan pada Twin Al dan Rayhan.


"Eyang kami shalat dulu setelah itu makan," ujar Rahan sembari keluar dari kamar.


"Ayo, siapa yang jadi imamnya?" tanya Eyang.


"Kalau di rumah biasanya Eyang Kung atau Bapak, berhubung di sini yang paling di tuakan," ucap Rahan terhenti sembari menatap ke arah Eyang Panji.


"Ya ... berarti Eyang," ucap mereka serentak.


Mendengar keributan di ruang tengah Eyang Widia langsung keluar, "Ayo, Ma, kita shalat jamaah sama anak-anak," tutur Eyang Panji.


Mendengar ucapan suaminya, Bu Widia langsung tersenyum.


"Pa, biar di bersihkan dulu musholannya."


"Bi, tolong bersihkan sebentar musholannya, sembari nunggu anak-anak selesai wudhu," pinta Bu Widhia.


Melihat suaminya begitu semangat Widia tersenyum senang, "sudah lama,


rumah tak seramai ini meskipun ada Mawan dulu kami pun sibuk," guman Bu Widia lirih dan tak terasa air matanya menitik.


"Eyang Uti, ayo," ajak para Twin. "Mana Eyang Kung, Twin?" tanya Bu Widia. "Nah, itu Eyang Kung," jawab Twin bersamaan.


Bu widia menatap suaminya, yang turun dengan memakai sarung dan baju koko, 'alhamdulillah, ya Allah,' ucap batin Bu Widia.

__ADS_1


Menuju mushola di belakang rumah dengan suasana nyaman, tiba-tiba Twin Aal tersenyum. Melihat senyum Twin Al, Twin Ra sedikit bingung.


"Ayo di mulai, suara Eyang mengagetkan, tak berapa lama mereka sudah selesai sholat


langsung salim satu persatu, Eyang Kung langsung memeluk mereka dan menangis, begitu juga dengan Eyang Uti.


Hari ini suasana rumah terasa melo, Bibi yang sedari tadi ada di dapur juga sedih. "Akhirnya bertahun-tahun mereka bisa juga datang ke rumah ini dan lihatlah mereka sangat mirip dengan Den Mawan ujar Bibi," sembari mengusap air matanya.


"Bi. Sudah siap?" tanya Pak Panji. "Sudah, Tuan," jawab Bibi.


"Ayo, anak-anak makan dulu," panggil Eyang Panji. Mendengar panggilan dari Eyang Panji mereka segera datang dan satu persatu mereka mengambil posisi duduk di meja makan.


Rahan masih sibuk menatap ke arah ruang makan dan teras belakang.


"Eyang Kung ini keren, jadi begitu kita duduk di meja makan langsung bisa lihat teras belakang, belum lagi pohon jambu dan pohon mangganya di dekat Mushola, bikin adem jadinya," ujar Rahan.


Mendengar ucapan Rahan, Eyang Panji langsung tertawa, "Tinggal di sini saja Rahan," tawar Eyang Kakung.


"Lagipula apa?"


Rahan tak melanjutkam bicaranya, Rahan kini memilih sibuk dengan makannya.


"Kalian itu ada-ada saja," ucap Eyang Kung.


Makan tanpa ada suara hanya garpu dan sendok saja saling beradu, diam-diam Pak Panji menatap dua cucu laki-lakinya dan


Pak Panji sadar bahwa kehilangan anak satu satunya membuat hatinya terluka, kini melihat sosok dua cucunya membuat luka hatinya sedikit berkurang dan makin kesini kedua wajah cucunya sangat mirip sekali dengan Mawan.


Bu widia yang melihat langsung berdehem untuk menetralkan suasana, "ayo, siapa yang nambah silakan," tawar Bu Widia.


"Sudah! Eyang," ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Seusai makan siang, mereka berkumpul di ruang tengah dengan berbagai cerita dan gelak tawa tak kunjung reda. Hingga pukul empat sore Bapak mereka datang untuk menjemput Twin Al.


"Ayo Lang, masuk," Ajak Pak Panji saat melihat Galang sudah di teras.


Mana Twin Al Pak?" tanya Galang.


"Barusan ke atas mengambil tas, biarkan Twin Al menginap di sini Lang!" pinta Pak Panji.


Galang diam sejenak, "maaf Pak,


Bapak tahu sendiri kan? Bagaimana Rahael dengan anak-anak," jawab Galang.


Pak panji hanya termenung dan tersenyum


"Tetapi aku senang dengan cara ibunya Twin


mendidik mereka, sungguh lebih-lebih melihat mereka tumbuh seperti ini," ujar Pak Panji sembari menepuk-nepuk bahu Galang.


"Ternyata Rahael tak salah jika memilihmu," ujar Pak Panji lagi.


Galang hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Panji.


Tak berselang lama Galang melihat Twin Al turun dengan tas punggung mereka.


"Ayo, salim pamit pulang," ucap Galang pada anak-anak. Bu widia yang baru keluar dari kamar tersenyum, "sudah lama Lang?" tanya Bu Widia. "Barusan Eyang ini jemput anak- anak. Twin," panggil Galang dan mereka langsung salim dengan Eyang Widia.


Bu Widia langsung memeluk mereka dan mencium seleruh wajah mereka kemudian mengelus kepalanya, "hati-hati Lang,


seharusnya mereka biar menginap di sini Lang," ujar Bu Widia, saat Galang berpamitan.


"Insya Allah Bu," jawab Galang.

__ADS_1


"Mas Rahan dan Ray, Twin pulang," ujar mereka sembari berlalu keluar.


__ADS_2