Rahael

Rahael
Bab 53. Rencana Galang


__ADS_3

Bab 53. Rencana Galang


Bekerja seharian, Galang merasakan tubuhnya lelah. Beberapa hari ini toko semakin rame dan semakin banyak barang yang bertambah.


Berjalan berkeliling menyadarkan Galang akan sesuatu, paling tidak Galang harus memiliki cabang baru dan rumah untuk tumbuh kembangnya Twin yang semakin lama semakin besar. Mereka juga memerlukan tempat yang nyaman untuk bermain dan kegiatan sehari-hari.


Jika memilih dua-duanya melihat keuangan Galang cukup-cukup saja. Tetapi Galang ingin memprioritaskan keperluan Twin dan Rahael agar lebih leluasa dan tidak terkurung di ruko.


Rencananya malam ini Galang ingin membicarakan dengan Rahael, berjalan menuju kamar Galang melihat beberapa bingkisan yang belum di buka.


"Rahael ... "panggil Galang. Namun, yang Galang panggil masih berdzikir. Seketika Galang mengambil handuk dan bergegas mandi.


Keluar dari kamar mandi Galang melihat Rahael melipat mukenanya.


"Banyak bingkisan dari mana Rahael?" tanya Galang.


"Enggak tahu Mas belum di buka. Nono, tadi yang mengantar ke atas mungkin pesanan Mas," jawab Rahael.


"Ya, sudah! Nanti kita lihat sama-sama. Rahael, sini! Mas pingin ngomong sesuatu."


"Sholat dulu Mas, setelah itu kita ngobrol keburu waktunya habis," ucap Rahael.


Mendengar ucapan Rahael, Galang memilih shalat dulu, selesai shalat Galang langsung duduk di samping Rahael.


"Mas pingin buka cabang Rahael, tapi juga pingin beli rumah untuk kita. Menurutmu baiknya seperti apa Rahael?" tanya Galang.


Rahael diam sejenak. "Mungkin sebaiknya kita beli rumah Mas. Mengingat Twin bertambah besar takut nanti jatuh dari atas Mas. Andaikan bisa, Ruko atas di buat toko saja, bagimana Mas?"

__ADS_1


Galang tersenyum mendengar ucapan Rahael. "Baiklah kalau begitu, besok kita lihat lihat cari rumah yang dekat sama Ruko saja gimana?"


"Rahael, sih! Terserah sama Mas Galang."


Kembali Galang tersenyum, sesaat ada rasa puas di hati Galang saat mampu memberikan yang terbaik untuk Twin dan Rahael membuat Galang tenang. Sejenak Galang termenung teringat akan bingkisan yang teronggok di sudut ruangan membuat Galang jadi penasaran.


"Ayo, Rahael! kita buka bingkisannya," ucap Galang.


"Ngantuk, Mas saja yang buka," ucap Rahael sembari menguap.


Melihat Rahael melenggang masuk kamar Galang mengurungkan niatnya untuk membuka bingkisan, kini kakinya beralih mengikuti langkah Rahael ke kamar.


Melihat suaminya ikut masuk dalam kamar.


"Lah! katanya mau buka bingkisan, kok! malah ke kamar Mas?" tanya Rahael.


"Ish ... Mas Galang, maunya itu terus," jawab Rahael.


Galang tak menggubris ucapan Rahael kini


semakin mengeratkan pelukannya.


"Mau Rahael ... pinta Galang manja."


"Eee, kok malah senyum berarti boleh kan?"


"Mas Galang kelamaan," ucap Rahael sembari berjalan menuju ranjang.

__ADS_1


Mendapat kode cantik dari Rahael, insting Galang mulai berjalan. Akhirnya Galang menghabiskan malam dengan panas hingga sangkuriang miliknya merasa terpuaskan, kelelahan dengan keringat yang sama-sama membasahi tubuh kami.


"Terima kasih," ucap Galang sembari mengecup lembut bibirnya.


Sesaat Rahael menatap dalam, membalas kecupan Galang sekilas.


"Sama-sama Mas," ucap Rahael dan bergegas ke kamar mandi.


Cukup lama mendengar suara air mengalir di kamar mandi, kemudian melihat Rahael keluar dari kamar mandi.


"Kok, sudah mandi saja, Rahael! Nanti kalau, Mas mau lagi," ucap Galang sembari tersenyum. Mendengar ucapan Galang Rahael hanya tersenyum tersipu.


"Kan, Mas Galang mesti begitu, untuk malam ini cukup sekali saja, Rahael khawatir jika Twins terbangun kayak dua hari lalu, kasihan Bi Narmi nenangin Twin sendiri, malu Mas! Masak mau kayak begitu lagi."


Mendengar celoteh Rahael Galang langsung tersenyum dan kemudian tertawa.


"Hhhhhh ... terdengar suara tawa Mas Galang.


"Ayo tidur Mas, lagian kalau tahajud nanti enggak keburu mandi dingin."


Mendengar ucapan Rahael membuat Galang gemas, Galang semakin erat memeluk tubuh Rahael yang wangi, membuat Galang semakin tak ingin melepasnya dan semakin hari semakin membuat Galang semakin mencintainya.


Tenang dan nyaman saat di sisi Rahael, membuat Galang merasa menjadi sangat berarti. Terlelap dengan sendirinya bersanding dengan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak dulu.


Hingga pagi menjelang, saat Rahael membangunkan Galang dan mengajak shalat subuh bersama.


"Dingin Rahael," ucap Galang setelah mandi dengan air hangat.

__ADS_1


Bergegas Galang menggelar sajadah memasrahkan semua masalah yang telah terjadi dan yang akan kami hadapi dengan khusyuk.


__ADS_2