Rahael

Rahael
Bab 10. Sedih 2


__ADS_3

BAB 10. Sedih 2


"Hamil ... "guman Rahael tak percaya.


Seketika tubuh Rahael lemas, kata ajimat yang membuatnya beberapa hari ini merasa ketakutkan. Masih dengan termenung Rahael menatap test pack yang di pegangnya. "Kemana, aku mencari orang yang telah berbuat ini. Hanya secarik kertas di atas meja yang aku punya sebagai bukti," ucap Rahael pelan.


Tangisnya kini sudah tak tertahan lagi, dadanya sesak dan hatinya juga merasakan sakit . Tubuhnya juga tidak mau bersahabat lemas, pusing yang setiap saat datang, kadang rasa mual, yang membuat perutnya terasa di aduk. Hampir tiga minggu ini Rahael merasa tersiksa dengan keadaannya.


Bi jum yang selama ini memperhatikan diam-diam hanya merasakan miris di hatinya, sesekali Bi Jum juga berusaha bertanya tapi Nona kecilnya terus berkilah dan berusaha menutupi.


Bi Jum, terus saja menghubungi Bu Rahayu hingga genap satu bulan, Bu Rahayu yang sudah menyelesaikan studinya pulang kerumah. Dan sudah seminggu ini pula Bu Rahayu, melihat anaknya selalu termenung berdiri di depan jendela.


Seperti pagi ini saat Bu Rahayu membuka pintu kamar Rahael. Melihat gadis cantiknya tengah berdiri di depan jendela, menatap jauh ke depan sembari sesekali mengikis air matanya.


Melihat hal seperti itu hati Bu Rahayu tercubit perih. Rahael memang belum menceritakan apa yang terjadi karena rasa takut akan kemarahan ibunya. Secara perlahan Bu Rahayu masuk ke dalam kamar anaknya dengan sedikit tersenyum direngkuhnya tubuh gadis kesayangannya.

__ADS_1


"Hm ... ada apa sayang?" tanya sang Ibu sembari merangkul Rahael.


Rahael tak menjawab pertanyaan sang Ibu, Rahael hanya tersenyum kemudian menundukkan wajahnya.


"Kok, menangis Rahael?" tanya Bu Rahayu lirih. Karena tak mendapat jawaban Bu Rahayu membalik tubuh anak semata wayangnya sembari mengikis air matanya .


"Hm ... ternyata anak ibu yang cantik ini sudah mulai main rahasia-rahasian sama Ibu," ucap Bu Rahayu pelan.


Kembali Bu Rahayu merengkuh tubuh Rahael, kini yang terdengar hanya isak tangis yang makin lama makin keras.


Masih dengan bingungnya Bu Rahayu terdiam menatap dalam pada anak gadisnya. Seketika hati Bu Rahayu terasa trenyuh dan sedih, itu yang di rasakan kini oleh Bu Rahayu.


Sembari membimbing Rahael untuk duduk di ranjang, "hm ... Coba cerita sama Ibu, apa yang sudah ibu lewatkan sayang?"


Rahael tak menjawab pertanyaan sang Ibu, tangisan yang tadinya lirih kini sudah menjadi isakan dan berubah menjadi semakin keras hingga Rahael tergugu. Melihat anaknya yang masih menangis membuat Bu Rahayu semakin bingung.

__ADS_1


"Rahael, kok nangis lagi?" tanya Bu Rahayu lagi.


Masih dengan tangisnya, "Bu ... "panggilnya sembari merangkul.


"Maafkan Rahael Bu ... maafkan Rahael," ucap Rahael di sela-sela isak tangisnya.


Sembari mengusap air mata Rahael, "memang kenapa cantik?"


"Maafkan Rahel Bu ... ini yang Rahael ucapkan terus. "Rahael sungguh-sungguh minta maaf," kembali itu yang Rahael ucapkan.


Bu Rahayu menatap lekat wajah Rahael meskipun dengan sedikit bingung.


"Ya! Ibu maafkan Rahael. Tetapi cerita, ada apa Rahael?" tanya Bu Rahayu dengan rasa gundah hati yang tak bisa di tutupi tapi mencoba untuk menahannya.


Di rangkulnya anak semata wayangnya dengan erat, "menangislah jika itu membuatmu lebih tenang, Ibu akan mendengarkan cerita Rahael, jika Rahel sudah siap dan tenang."

__ADS_1


Setelah lama menangis di pelukan sang ibu kini hanya ada isakan kecil yang terdengar.


"Tidurlah nanti kalau Rahael sudah siap cerita, Ibu akan kemari," ucap sang Ibu sembari melangkah keluar dan menutup pintu kamar Rahael.


__ADS_2