Rahael

Rahael
Bab 75. Gelisah


__ADS_3

Bab 75. Gelisah


Meski Galang bujuk untuk main ke Taman ternyata tak membuat Twin tenang. Twin semakin kesini semakin gelisah, masih menangis dan terus merengek.


Hampir dua hari Twin rewel tanpa tahu penyebabnya. Hingga akhirnya Galang teringat belum menghubungi Mawan sejak terakhir kemarin sebelum isya.


Saat mencoba melakukan panggilan berulang kali, tetap saja tak ada jawaban dari ponsel Mawan. Akhirnya, Galang memutuskan untuk menghubungi Silvi namun hasilnya sama. Galang hanya menghembuskam napasnya berkali-kali. "Semoga saja tak terjadi sesuatu dengan mereka, mengingat perjalanan yang Mawan lalui cukup jauh, ke kota B lalu ke Bali.


Tiba tiba saja hati Galang berdesir nyeri, "Ya Allah .... semoga tak terjadi apapun," ucap Galang dalam hati.


Melihat Twin sudah tidak menangis setelah makan tadi, tetapi tinggal rengekan-rengekan di mana semuanya merasa tak benar dan tak sesuai dengan hatinya.


Galang hanya menatap heran pada Twin, belum lagi netranya kini yang sudah begitu mengantuk. Sekilas Galang memindai ruangan di rumah ini, untuk sesaat Galang terdiam dan berdiri, "Rahael, Mas ada di kamar, nanti jika ada apa-apa bangunkan saja Mas," tutur Galang lirih.


Setelah masuk kamar Galang kembali mengambil ponselnya, berulang kali Galang mencoba menghubungi dua nomor tadi.


Merasa penasaran akhirnya, Gakang membuka laptop dan memeriksa, "aneh, tak biasanya Mawan begini," guman Galang lirih sembari memeriksa email dari Rini.


Saat nembuka laptop Galang melihat ada email baru, setelah mengklik email dari Mawan, Galang hanya melihat foto yang di ambil di rumah dan dikirim saat pukul lima sore, Galang sedikit terkejut saat membaca tulisan yang di bawahnya.


"Titip mereka dan Mawan percaya, Mas Galang bisa menjaga mereka dengan baik. maafkan Mawan, akan Mawan ingat kebaikan Mas hingga akhir hayat Mawan. Sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


Setelah membaca ini. Hati Galang sembari curiga dan khawatir. Bergegas Galang menuju ruang tengah menujukkan pada ibu dan Rahael apa yang Mawan tulis.


Tak ada jawaban apapun dari ibu mertuaku dan Rahael, "sudah, Nak. Pasrahkan semuanya pada Allah, semoga semuanya baik-baik saja," ujar Ibu mertua.


Mendengar ucapan Ibu mertua, Galang hanya diam, tetapi itu tak lama saat ponselnya yang tiba-tiba berdering.


Galang terdiam sejenak, mendengarkan penjelasan dari suara di ujung sana.


"Assalammualaikum wr, wb ."


" Apa betul ini saudara Galang?"


"Ya, betul saya sendiri."


"Apa!!"


Tiba-tiba ponsel Mas Galang terjatuh, kami yang melihatnya semakin bingung.


"Lang!" panggil Bapak sembari berjalan mendekat.


Terdengar suara ponsel Mas Galang masih menyala, Bapak langsung memungutnya dan kembali menjawab sambungan telfon yang terputus sesaat tadi.

__ADS_1


""Ya!"


"Maaf, untuk lebih jelasnya silakan anda datang ke kantor polisi dan maaf jika nanti ada kabar yang kurang berkenan jelas suara di ujung sana."


"Ya. Siap kami akan segera kesana," itu yang Rahaek dengar, sebelum Bapak mengakhiri panggilan.


Bapak segera menyadarkan Mas Galang dari keterkejutannya, "bu sebaiknya siap-siap, Rahael di rumah sama ibu Jum dan kamu Lang, ayo!" ajak Bapak.


Rahael dan Bu Jum masih bingung dengan keadaan yang terjadi, "ada apa?"


"Mawan Bu, Mawan kecelakaan dan! Bapak memutus ucapannya dan membisikkan sesuatu pada ibu, "ya Allah," ujar Ibu dengan suara terkejut.


"Omongi Rahael alon alon ben enggak kaget," ucap Bapak.


Sesaat kemudian ibu Rahayu sudah siap


" Mari Bu, Lang! Biar Bapak saja yang menyetir.


Galang masih terdiam untuk sesaat dan Galang sadar, tempat kejadian dengan rumah masih lumayan jauh, kira-kira masih satu jam perjalanan.


Bapak menyetir dengan berhati hati walau tahu perasaannya tak kalah terguncang.

__ADS_1


Ibu Rahayu yang tadi diam akhirnya bertanya juga, "kemana Lang ada apa ?"


__ADS_2