
Bab 81. Hidup Baru
Setelah prosesi pemakan selesai kami bergegas pamit pulang. Bu Widia yang masih bersedih akan kepergian Mawan, akhirnya menahan Rahael dan Galang karena masih merindukan Twin.
Galang menatap sejenak melihat ke arah Ibu mertua dan Ibu Jum, mereka seakan paham akan tatapan Galang langsung mengangguk bersamaan menghiyakan keinginan Bu Widia.
Mungkin untuk dua hari Rahael bisa menyanggupi Bu," tutur Rahael lirih, karena bagsimanapyn saat ini Bu Widia tengah berkabung.
Mendengar jawabsn Rahael, Bu Widia dan Pak Panji tersenyum, "dua hari sudah cukup Nak, untuk selanjutnya kami yang akan datang mengunjungi kalian," tutur mereka mereka serentak.
"Terima kasih untuk kedepannya," ucap Pak Panji lagi.
Kini Rahael hanya duduk di sofa sembari melihat kegiatan Twin bersama eyang kung dan eyang putri mereka, para tamu dan warga sudah pulang sedari tadi, saat ini Rahael sadar jika kehadiaran Twin bisa menghibur, Eyang kung dan Eyang Utinya.
Tak berselang lama Rahael melihat Silvi keluar kamar di bantu perawat, keberadaan Rahael, Silvi langsung tersenyum.
Rahael segera mendatanginya, "biar saya saja yang mendorong Sus," tutur Rahael sembari mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Kita ke taman belakang Rahael, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujar Silvi lirih.
Sebelum ke taman belakang, Rahael tengah melihat Pak Panji sedang berbincang dengan Mas Galang dan Rayhan. Sementara Rahan bersama Bu Widia dan perawat.
Melihat Rahael memperhatikan mereka, sejenak Silvi tersenyum, hingga sesampainya di taman belakang, "Rahael, maaf," ucap Silvi lirih.
"Hai, ada apa? Jangan aneh-aneh Silvi," ucap Rahael sembari menatap wajah Silvi yang sudah menangis tanpa suara.
"Hai, kenapa? Jangan membuat Rahael bingung," seru Rahael. "Maaf, srmua ini salah Silvi, semua salahku," cicit Silvi di tengah isaknya.
"Maksud Silvi?"
"Dengarkan Silvi hingga selesai cerita Rahael, baru Rahaek boleh marah atau membenci Silvi.
Silvi flashback on
Hari itu Silvi masih ingat Rahael, saat bertemu Mawan di sebuah Mall, dimana Silvi melihat Rahael berjalan dengan Galang, sebenarnya Silvi tahu Mawan sangat-sangat mencintai Rahael dan itu sejak dulu saat masih awal kamu masuk sekolah, karena penolakan Rahael, Mawan nekat seperti itu, tetapi sungguh jika yang terjadi malam itu Silvi sungguh dan benar-benar tidak tahu Rahael. Hingga akhirnya Silvi bertemu lagi saat di Mall.
__ADS_1
Setelah melihat ketakutanmu Mawan menangis dan menceritakan semuanya pada Silvi, Silvi masih ingat saat itu, Silvi langsung menampar Mawan seperti yang Rahael lakukan waktu itu. Entalah Rahael, kenapa akhirnya Silvi mau juga membantu Mawan, hingga Silvi melibatkan dua teman kita dan Silvi sendiri yang akhirnya datang untuk menemui dan memastikan. "Maafkan, Silvi, Rahael. Sebenarnya Silvi dan Mawan ...., seketika ucapan Silvi terhenti saat Mas Galang memanggil.
Silvi flashback off
"Sudah jangan di ceritakan, simpan saja sebagian rahasia Silvi, untuk Silvi sendiri. Harapan Rahael, setelah Silvi sembuh dan sehat, mulailah hidup baru dan begitu juga dengan Rahael. Kedepannya Rahael ingin hidup bahagia dengan Twin dan pangeran Rahael. Begitu juga harapanku pada Silvi, apapun yang terjadi Rahael sudah ikhlas dan memaafkan tetap jadilah sahabat Rahael," tutur Rahael sembari memeluk tubuh Silvi, "ayo masuk, lama-lama di sini dingin perut Rahael jadi mual," ujar Rahael sembari mendorong kursi roda Silvi untuk masuk.
"Ya, Mas!" jawab Rahael. Mas Galang yang mendengar sahutan dari Rahael langsung tersenyum, "ayo, kita pulang kasihan Eyang biar istirahat besok main kesini lagi," ucap Mas Galang.
Mendengar itu Pak Panji dan Bu Widia tersenyum, pantesan Ibunya Twin cinta pake banget sama kamu, pinter sih."
Mas Galang hanya menggaruk kepalanya, "apa Mas?" tanya Rahael.
"Sudah sana balik-balik kasihan Twin," ujar mereka berdua. Rahael segera mengajak anak-anak untuk salim setelahnya Rahael dan Mas Galang.
Eh. Sini, aunty Silvi, belum selesai Silvi berucap Twin sudah berlari kecil menghampiri, "kami pulang dulu Eyang," ucap Rahael dan Mas Galang.
Perjalanan pulang kami lalui dengan diam melihat Twin tertidur karena kecapekan dan Mas Galang duduk di depan sendiri sembari menyetir tapi pandangannya sesekali melirik dan Rahael selalu tersenyum setiap kali menanggapi likrikan Mas Galang, "manja," akhirnya itu yang terucap .
__ADS_1