
BAB 5. SILVIA DAN BI JUM
Setelah sampai di toilet Silvia bertemu dengan beberapa temannya, karena toilet sedang penuh, sambil menunggu antrian Silvi bercakap-cakap dengan beberapa temannya yang juga ikut mengantri, hingga giliran Silvia tiba.
Berdiri menunggu selama sepuluh menit di toilet, membuat perasaan Silvi menjadi tidak tenang, tetapi hajatnya untuk buang air kecil tak bisa Silvi abaikan, "kenapa juga mereka ke toilet bisa rame-rame begini!" gerutu Silvi.
Ucapan Silvi hanya di balas anggukan oleh teman yang berdiri di sisinya.
Akhirnya cukup lama Silvi mengantri, Silvi langsung masuk dan segera melancarkan hajatnya. Pikiran Silvi pun mulai curiga saat Silvi keluar dari toilet. 'kenapa tiba-tiba toilet jadi sepi, padahal tadi ramai kayak antri sembako, berjubel,' guman hati Silvi.
Belum paham dengan keadaan yang terjadi, Silvi teringat dengan Rahael yang Silvi tinggal sendiri. Dengan langkah cepat Silvia menuju tempat di mana Silvi meninggalkan Rahael dan tempat duduknya. "Sial!" pekik Silvi, saat melihat Rahael tak ada di tempatnya. Silvi seketika merasa geram saat melihat Rahael pergi. "Rahael, awas kau! Karena meninggalkan aku sendiri!" ucap batin Silvi.
__ADS_1
Sebelum melangkah pergi Silvia mengambil tasnya dengan kasar saat netranya menemukan secarik kertas diatas meja. Silvi meraih kertas yang di lihatnya dan kemudian membacanya sekilas. "Rahael sudah pulang Silvi," baca Silvi dan hanya itu saja yang tertulis.
Silvi melangkah keluar dari ruangan yang begitu pengap dengan asap rokok dan alunan musik yang terus mengalun dengan keras.
Hatinya yang resah sejak tadi kini ganti dengan tanda tanya besar, 'apa Rahael marah karena di tinggal ke toilet? Tetapi ... Silvi tak melanjurkan ucapannya, "ya, sudah nanti aku menelfonnya," ujar Silvi dan bergegas pergi.
Sampai di rumah Silvi langsung meraih ponselnya dan menghubungi Rahael, sudah berkali-kali Silvi menghubungi ponsel Rahael tetapi tak kunjung terhubung sama sekali, "Rahael angkat," guman Silvi sembari terus mengulir ponselnya. "Hah! kenapa Rahael tak mau mengangkat," guman Silvi masih dengan kebingungan. Malam makin larut karena merasa putus asa akhirnya Silvi memutuskan untuk tidur.
Hati Bi Jum benar-benar gelisah, Berkali- kali Bi Jum menguap dengan kantuk yang tak tertahan Bi Jum masih berusaha menunggu Non kecilnya, tanpa Bi Jum sadari akhirnya Bi Jum tertidur di kursi ruang tamu hingga pagi hari.
Bi Jum terbangun dengan sedikit terkejut saat Mang Udin membangunkan dan mendapati dirinya tertidur di kursi.
__ADS_1
"Tumben Jum, tidur di kursi ada apa?" tanya suaminya Mang Udin heran.
"Aduh Mang, Non Rahael semalam enggak pulang, hati Jum jadi khawatir terus Mang! Hati Jum rasanya enggak enak dari semalam."
Mendengar isterinya mengeluh seketika Mang Udin menyerngit tak percaya.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Jum, kasihan anak itu, mungkin tidur di rumah temannya Jum," jawab Mang Udin.
"Mang! Tetapi ponsel Non Rahael juga, enggak bisa di hubungi Mang!"
"Sudah Jum, jangan di teruskan," jawab Mang Udin sembari melangkah keluar.
__ADS_1
"Entahlah perasaan Jum terus saja khawatir sejak keberangkatan Non Rahael kemarin," ucap Bi Jum ulang sembari menatap ke halaman.