
Bab 39. Duo Nenek
Setelah Rahael di pindah ke kamar paviliun lagi, jangan di tanya hebohnya duo nenek dan satu kakek berebut mengendong mencium dan mengelus dua cucunya yang tampan- tampan.
Hingga datang Dokter dan sang perawat menegur mereka. "Maaf. Pak, Bu, ini dedeknya dan ibunya mau di periksa dulu silakan keluar sebentar."
Setelah duo nenek dan satu kakek berjalan keluar.
"Gimana Bu asinya sudah keluar?" tanya Dokter.
"Belum Dok," jawab Rahael.
"Dokter hanya tersenyum, enggak apa-apa Bu dua tiga hari, akan keluar yang penting asupan gizi perlu di perhatikan Bu. Juga jangan lupa minum susu hamilnya," jelas Dokter dan Rahael hanya mengangguk.
"Oh, ya. Jangan kuatir selama asi ibu belum keluar dedeknya enggak akan lapar, karena dedek punya lemak coklat yang berada di pundak dan ini merupakan cadangan makanan dedek nya, terang Dokter.
Galang yang mendengarkan semua penjelasan dokter juga ikut manggut manggut .
"Bagaimana jahitannya masih terasa sakit," tanya Dokter lagi.
Rahael hanya mengangguk. Dokter hanya tersenyum. "Jaga kebersihan jangan lupa sering ganti pembalut, cebok yang bersih setelah itu di keringkan baru pakai pembalut baru, banyak konsumsi protein, buah dan sayur Bu," jelas Dokter.
Setelah itu berpindah ke dua Twin, setelah beberapa saat. "Semuanya sudah baik besok ibu juga bisa pulang, jangan lupa kontrol jahitan ya Pak?" terang Dokter.
"Ada yang di tanyakan?" tanya Dokter.
"Bagaimana kalau dedeknya rewel minta *****, enggak apa-apa, meski belum keluar kasih saja sembari belajar *****. Tetapi sebelumnya harus di bersihkan dulu.
Selamat pagi kami permisi dulu," pamit Dokter.
__ADS_1
Setelah Dokter keluar, bagaimana Rahael sehat?" tanya Bu Rahayu.
"Besok sudah bisa pulang Bu," ucap Galang.
"Oh, ya Lang! Pulang dulu gih, mandi yang bersih pakai baju yang pantas, bantu Bapak ngubur ari-ari, biar nanti Bi Narmi yang cuci .
Jangan lupa istirahat sekalian cek tokonya itu. Biar ibu yang jaga," ucap Ibu dan di hiyakan dengan Bu Rahayu yang ikut mengangguk.
"Baik Bu," ucap Galang.
Perasaan lega dan bahagia tak bisa di tutupi sepanjang perjalanan pulang, Galang selalu tersenyum.
"Bapak perhatikan kok seneng banget Lang?" tanya Bapak.
"Lega pak hanya itu, jawaban Galang.
"Ya, sudah hampir dua minggu sejak kejadian itu Galang mempercayakan toko surveninya hanya pada karyawan nya.
Di halaman belakang ruko bapak sedang membuat lubang .
"Kangge nopo pak?" tanya Galang.
Tak menjawab pertanyaan Galang, kini Bapak menyuruh ke Bi Narmi.
"Nang Bi Narmi Lang, tanya sudah selesai belum?"
Mendengar ucapan Bapak Galang bergegas naik.
"Bi sudah selesai?" tanya Galang.
__ADS_1
"Sudah Mas, sudah bibi bumbui juga."
"Bi, kok!" tanya Galang terputus.
"Ya Pak, memang begitu syaratnya."
Galang membuka tutup kendi, Galang melihat ada berbagai macam benda, bumbu dapur, garam pensil, kaca, al qur' an kecil dan apalagi, Galang nggak tahu. Melihat ulah Galang, Bi Narmi hanya tersenyum.
"Itu tradisi pak," ucap Bi Narmi sembari ke dapur.
Galang begegas turun memberikannya pada Bapak.
"Monggo Pak," ucap Galang.
"Piye, to le. Yo kowe, Ayo di lebokno, adzani dulu sebelum Bapak menutupnya.
Setelah itu lubang itu di tutup Bapak ,di atasnya di beri banyak bunga dan lampu penerangan .
Sebelum ke atas Galang menyempatkan ke toko melihat keadaan toko dan karyawan, melihat Galang berdiri di ujung pintu, para karyawan tersenyum sembari mendekat.
"Selamat Pak, bagimana dedeknya cewek apa cowok pak?" tanya mereka serempak.
"Alhamdulillah cowok," jawab Galang dengan senyum sumringahnya.
"Rin!" panggil Galang saat mendekati meja kasir.
Merasa ku panggil Rin mengikutiku.
"Bagimana toko."
__ADS_1
Seketika Rini mengeluarkan buku rekapan selama dua minggu. "Alhamdulillah Pak omset nya stabil," jawab Rini.
"Ya, sudah terima kasih, saya bawa keatas rekapannya.