
Belum lama masuk Toko, anak-anak sudah menelfon, sebelum pergi Galang memastikan semuanya beres.
Keluar menjemput anak-anak di tempat yang berbeda dan mengantar mereka ke rumah Eyang Panji lumayan jauh sekitar dua puluh menit perjalanan.
Anak-anak yang belum tahu rumah Eyang Panji sedikit terkejut, "eh! Bapak ini kan arah rumah temen aku," teriak Aal.
Kami bertiga langsung menoleh, "siapa Aal?" tanya Rayhan.
"Kakak ingat enggak, gadis yang Aal, tabrak direstoran waktu itu?"
"Terus ...."
"Aal pernah kesana, ya, kan Al?
"Sama?" tanya Al pura-pura.
"Jangan bohong Al kita pulang dari restoran enggak kemana-mana, dosa lho," ucap Aal.
"Kirain kakak lupa ternyata ada yang kepo pingin tahu," ujar Aal sembari menoleh ke arah Rayhan.
"Siapa?" tanya Al bingung.
"Tuh!" jawab Aal sembari memonyongkan bibirnya ke arah Rayhan. Rayhan yang tertuduh tak bergeming sama sekali.
Galang seketika tersenyum saat mendengar celoteh anak-anaknya, "Aal, jangan ulangi, dosa," ucap Bapak.
Hingga beberapa saat kemudian, "waduh Twin, kelewat rumah Eyang," ucap Bapak sembari tersenyum, namun, beberapa saat kemudian, "ayo, turun. Bapak tinggal loh!"
Galang sedikit tersenyum saat anak-anak langsung turun dan mengekor langkah Bapaknya. Berdiri di depan runah megah dengan pilar yang menjulang, anak-anak melihatnya dengan terkagum.
__ADS_1
Setelah memenjet bel tak berapa lama
keluar seorang laki-laki dengan seragam satpamnya, memandang Twin Ra dengan bingung, "Eyang ada?" tanya Galang.
Pak Satpam yang di tanya Gakang langsung paham, "sepertinya dari tadi pagi Bapak dan Ibu sudah di teras seperti menunggu seseorang," jawab Satpam aneh.
"Ayo, den Mawan, kok enggak masuk," ucap Satpam tanpa sadar sembari melihat ke arah Twin Ra. Galang seketika terkejut saat mendengar jawaban Satpam yang aneh.
"Ayo, masuk! Lihat Eyang Panji sudah berdiri di teras," ujar Galang kemudian.
Satpam yang sedari tadi berdiri dengan bingung, seketika terkejut saat Galang menjawilnya.
"Pak, mobil saya di depan, nitip sebentar," ucap Galang.
"Eh. Hiya, Pak," jawab Satpam.
Galang seketika tersenyum saat melihat anak-anaj sudah berlari ke arah Eyangnya.
"Satu-satu Twin," ucap Galang saat mendekat.
"Ayo Lang, masuk!" ajak Eyang Panji.
"Maaf! Eyang, saya masih ada urusan, nanti saja saya datang lagi sembari jemput Twin Al," ucap Galang.
Galang langsung salim dan berpamit pulang.
"Semua Twin," panggil Galang dan mereka langsung menoleh, "ingat yang sopan," tutur Galang dan mereka semua langsung menyanggupi dengan anggukan.
"Ayo, masuk!"
__ADS_1
Rahan dan Rayhan hanya tersenyum sedang Twin Aal sudah duduk dengan santai, Pak Panji dan Bu Widia menatap Twin Ra cukup lama, "serasa Mawan kembali pulang Pak!" bisik Bu Widia pada suaminya, "ya, Bu," jawab Pak Panji.
"Apa kalian sudah makan atau mau istirahat dulu," ucap Eyang Panji.
"Istirahat dulu Eyang," ucap mereka serentak.
"Bi. Tolong antar mereka ke kamar," ucap Eyang, Bibi yang di panggil seketika melihat dan memeluk kami, "Den Mawan," ucap Bibi sembari terisak.
"Ayo-ayo Den, Bibi antar ke kamar. Ayo, Non," ucap Bibi.
"Den ini kamar Ayah kalian, silakan masuk dan Non cantik ini, kamarnya di sebelah."
Begitu masuk kamar Rahan dan Rayhan sedikit terkejut, banyak foto bayi kami yang terpajang dan yang paling menyita perhatian foto ayah saat bersama-sama keluarga tak terasa air mata kami menetes dan tataoan kami berpindah pada foto ayah dari kecil hingga dewasa.
Seketika, Rahan dan Rayhan sadar jika wajah kami bak pinang di belah dua, melihat kami menangis, Aal dan Al yang belum masuk ke kamar langsung memeluk kami, "Kakak mau pulang?" tanya Twin Al.
"Enggak dek, biar kami mengenal sosok ayah meski kenyataanya menyakitkan."
Mendengar jawaban Kakaknya, Twin Al langsung memeluk Kakanya dengan erat, "jangan salahkan keadaan Kak, kita yang harus belajar dari situasi ini," jawab Aal lirih.
Sementara Kak Rahan sedikit tersakiti hatinya, "jika tahu begini, kita enggak kesini Al," ucap Rahan kecewa.
Ak semakin erat memeluk Kak Rahan, "jangan pernah menyesal Kak ini bukan pilihan tapi ini yang harus di hadapi," ucap Al pelan.
Sesaat kemudian Eyang sudah memasuki kamar begitu melihat kami menangis, mereka langsung memeluk, "maafkan, ayah kalian Nak dan ini memang sesuai dengan keinginannya dan di lemari itu masih ada beberapa baju ayah kalian jika kalian ingin memakainya," ujar Eyang Panji.
"Hai cantik, kalian juga menginap ya?"
"Maaf, Eyang kami harus patuh dari pada sesi mengunjungi Eyang di cabut," jawab Twin Al.
__ADS_1
Sesaat Eyang Panji terdiam, "Eyang bangga pada Bapak kalian Twin, tak salah jika Ibu kalian lebih memilih Bapak kalian dari pada ayah kalian," ujar Eyang Panji sembari menatap jauh ke depan.