Rahael

Rahael
BAB 62 . KEDATANGAN


__ADS_3

Menyusupkan tubuh ke Rahael membuat Rahael sedikit menggeliat, karena lelah Galang pun langsung tertidur.


Hingga pagi datang, Galang terbangun saat Rahael membangunkan.


"Subuhan Mas," ucap Rahael sembari mengoyang-goyangkan tubuh Galang.


Menggeliat, merenggangkan tangan dan kaki, duduk di bibir ranjang dengan mata masih mengantuk.


"Ayo, Mas! keburu subuhnya habis."


Melangkahkan kaki ke kamar mandi mengambil air wudhu, melihat Rahael


belum memulai shalat dan selesai salam.


"Duh ... Mas. Lama nya."


Setelah membaca niat Galang memfokuskan hati dan fikiran untuk berpasrah pada ilahi. Mengucap salam, setelahnya Rahael merengkuh tangan Galang untuk ku cium.


"Datang jam berapa Mas? Maaf kalau Rahael nggak nungguin."


"Nggak apa-apa Rahael, agian Mas juga nggak bilang kalau pulang."


"Gimana Twin? Rewel nggak Rahael?"


"Alhamdulillah nggak Mas, mereka pinter."


Galang bergegas melipat sajadah.


"Mas mau kemana?"

__ADS_1


"Mau tidur lagi masih ngantuk Rahael, nanti saja nengok Twin lagian masih tidur juga," ucap Galang.


Melihat Rahael melipat mukenanya.


"Sini bobok lagi," ucap Galang sembari menarik tangannya.


"Nggak usah macem-macem Mas."


"Ayo Rahael temenin tidur saja," ucap Galang sambil beranjak naik keranjang.


"Rahael ... panggil Galang tiba-tiba dan merasakan khawatir.


Jika Mawan dan orang tuannya datang di tambah silvi yang merupakan sahabatnya.


"Kok diam Mas?" tanya Rahael.


Galang hanya diam dan meraih tubuh Rahael agar mendekat.


Rahael hanya tersenyum. "Jangan kuatir Mas, Rahael dan ibu sudah memaafkan meskipun tak seratus persen tapi demi Twin juga kedepannya, Rahael dan Ibu serta Ibu Jum dan Bapak sudah membicarakan kemarin."


"Rahael yakin, karena saat ini Rahael berada di tempat yang tepat dan ada yang selalu menjaga Rahael," ucap Rahael sembari mengecup bibir Galang dengan lembut.


"Mas tidur, Rahael mau lihat Twin biasanya sudah bangun," ucap Rahael sembari beringsut hendak turun.


Galang yang sudah mode on mendapat kecupan di pagi hari di tambah dua hari tak bertemu, langsung menariknya kembali dalam pelukan.


"Hm ... sudah berani menggoda sekarang dan tidak mau bertanggung jawab," ucap Galang sembari mengecup lembut bibir Rahael.


kecupan yang singkat akhirnya berubah menjadi menuntut dan lagi-lagi sangkuriang Galang yang menang dan berjaya dengan hebat.

__ADS_1


Sudah pukul tujuh pagi saat Galang mengakhiri perang dashyat, melihat Rahael masih sibuk di kamar mandi saat twin terdengar mulai menangis.


"Rahael, Twin menangis," panggil Galang.


"Sebentar tinggal sedikit lagi, Galang langsung keluar dari kamar. Galang melihat Twin sedang menangis.


"Rahan, Rayhan," panggil Galang. Mereka yang Galang panggil langsung menengok ke arah Galang sembari tersenyum.


"Aduh! Kangen sama Bapak? Sini-sini,


turunkan saja Bi, biar jalan," pinta Galang.


"Melihat keduanya berjalan berebut untuk sampai di depan Galang, seketika membuat Galang geli.


Rahan yang tiba duluan langsun memeluk, Rayhan yang terkesan kalem datang terakhir juga ikut memeluk. "Hm ... pinternya anak Bapak," sembari Galang mencium pipi gembul mereka secara bergantian."


Melihat Rahael sudah keluar dari kamar.


"Mas mandi gih, saat melepas Rayhan menangis. Bapak mandi dulu nanti gendong lagi," sambil Galang mengusel useljan wajahnya di pipi gembul Rayhan dan bergantian begitu juga dengan Rahan.


"Ayo, anak Ibu mandi dulu," suara Rahael saat Galang sudah memasuki kamar.


Bapak yang melihat interaksi ini tersenyum melihatkan giginya yang mulai nampak ada lubang di tengahnya.


Sarapan pagi seperti biasa berkumpul dalam satu meja makan dan Twin masih duduk di bangku khusus untuk bayi yang baru belajar makan.


Belepotan sana sini membuat duo Nenek dan Bapak tertawa terpingkal-pingkal. Tangan mertua pun mulai belajar di lepas dan sesekali di gendong lagi.


Di tengah sarapan pagi Bi Nina, datang dengan tergopoh gopoh.

__ADS_1


"Kenapa Bi?"


__ADS_2